(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Islam Wasathiyah di Tengah Persaingan Ideologi

Riset Agama

Tulisan berjudul “Islam Wasathiyah: Identitas Islam Moderat Asia Tenggara dan Tantangan Ideologi” merupakan karya Ahmad Dimyati. Tulisan ini terbit di Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman tahun 2017. Penelitian tersebut menjelaskan bagaimana Islam Wasathiyah yang tidak bisa lepas dari identitas akar kata “moderat”. Artinya, menyajikan nilai humanis-ideologis, mengutamakan kekuatan persaudaraan daripada kekuasaan, keadilan atas hak, harmoni menjunjung toleransi antar umat beragama dan menghindari perilaku pada jalan ekstrem. Di dalam review ini akan dijelaskan kembali tulisan Dimyati dalam tiga sub bab. Pertama, definisi Islam wasathiyah dalam ekspresi keberagaman. Kedua, moderatisme Islam Asia Tenggara. Ketiga, problematika Islam wasathiyah dalam persaingan ideologi. 

  

Definisi Islam Wasathiyah dalam Ekspresi Keberagaman

   

Di dalam menjelaskan mengenai definisi Islam wasathiyah, Dimyati meminjam dua pemikiran tokoh. Pertama, Khaled Abou El Fadl dalam tulisannya berjudul “The Human Right Commitment in Modern Islam” menjelaskan bahwa, pemakaian istilah moderat dikontraskan dengan “puritan”. Bagi Khaled, muslim moderat adalah orang yang yakin pada Islam sebagai keyakinan yang benar, mengimani rukun Islam, menerima tradisi Islam, namun memodifikasi aspek tertentu. Kata kunci untuk memahami konsep moderatisme Islam terletak pada kesadaran muslim pada doktrin dan realitas kehidupannya. Kedua, Ummi Sumbulah dalam tulisannya yang berjudul “Islam dan Risalah Profetik: Best Practice Moderasi dan Kerahmatan” menjelaskan bahwa, konsep agama damai dimaknai sebagai proses internalisasi “kemaslahatan” yang sifatnya lebih personal, dan sebagai orientasi yang akan dicapai di tengah konteks masyarakat yang plural.  

  

Hasil dari dua konsep tersebut, Dimyati menyimpulkan bahwa Islam wasathiyah dioperasionalkan dalam tiga level makna. Pertama, level teologis. Islam wasathiyah dikaitkan dengan interpretasi terhadap ayat Al-Qur’an dan hadist. Kedua, level ideologis. Islam wasathiyah merujuk pada perdebatan mengenai posisi umat Islam dalam dialog antar umat beragama. Ketiga, level sosio-politis. Islam wasathiyah ditarik pada konsep bernegara di bawah ideologi Islam sehingga melahirkan perdebatan baru mengenai bentuk negara yang sesuai dengan syariat Islam. 

  

Moderatisme Islam Asia Tenggara

  

Di dalam menjelaskan bagaimana akar historis moderatisme di Asia Tenggara, Dimyati menjelaskan dua faktor penyebabnya. Pertama, faktor sejarah masuknya Islam dalam empat teori menurut sejarawan yakni Teori Gurajat, Teori Makkah, Teori Persia dan Teori China. Kedua, proses Islamisasi yang mengedepankan cara asimilasi. Sehingga, Islam menjelma dalam wajah baru yang bercorak sinkretis.

   

Dimyati lebih lanjut menjelaskan sinkretisme secara lebih detail dengan meminjam pemikiran Ahimsa Putra dan sudut pandang optimis. Pertama, Ahimsa Putra dalam tulisannya berjudul “Islam Jawa dan Jawa Islam, Sinkretisasi Agama di Jawa” menyatakan bahwa sinkretisasi adalah upaya untuk mengolah, menyatukan, mengombinasikan dan menyelaraskan dua atau lebih sistem prinsip yang berlawanan. Kedua dari sudut pandang optimistik, sinkretis Islam di Asia Tenggara memberikan harapan besar untuk mengembangkan model Islam moderat yang demokratis dan jauh dari kesan radikal. 

  

Problematika Islam Wasathiyah dalam Persaingan Ideologi (Fundamentalisme, Radikalisme dan Liberalisme)


Baca Juga : Afghanistan: Rumitnya Masa Depan Taliban

  

Di dalam menjelaskan konsep ideologi, Dimyati tidak menjelaskan tiga ideologi sesuai pada sub bab di artikelnya. Ia hanya menjelaskan secara gamblang ideologi fundamentalisme dan liberalisme Islam. Ia meminjam pemikiran beberapa tokoh guna menjelaskan konsep fundamentalisme dan liberalisme Islam. Konsep pertama mengenai fundamentalisme Islam, Dimyati meminjam pemikiran John. L Esposito. Ia menjelaskan bahwa fundamentalisme Islam adalah ekspresi keberagaman umat Islam yang dinyatakan melalui gerakan politik.  Sedangkan dalam menjelaskan Liberal Islam, Dimyati meminjam pemikiran W. Montgomery Watt. Ia menyatakan bahwa liberal Islam adalah kelompok muslim yang menghargai pandangan barat dan merasa kritik terhadap Islam harus diterima. 

  

Dimyati juga menjelaskan mengenai tantangan ideologi terhadap Islam wasathiyah di kawasan Asia Tenggara secara lebih spesifik. Pertama, Islam politik Indonesia yang memiliki “gejala” radikalisme agama sejak masa kolonialisasi. Radikalisme yang terjadi di Indonesia merupakan upaya mencari pengakuan atas identitas politik berupa “cita-cita” kolektif untuk mendirikan negara ummah. 

  

Kedua, benih fundamentalisme di Timor Leste. Hal ini disebabkan kebijakan pemerintah Timor Leste yang memberikan kebebasan penyebaran agama asalkan tidak merugikan negara. Jaminan kebebasan ini dimanfaatkan oleh kelompok fundamental. Mereka adalah Jamaah Tabligh dari Indonesia. Meskipun diklaim sebagai gerakan dakwah non-politis, masyarakat telah menempatkan organisasi ini sebagai “fundamental” sebab memperjuangkan dasar Islam dengan merujuk pada praktik masa lalu dan cenderung tertutup. 

  

Ketiga, Islam di Semenanjung Indocina yakni Vietnam, Thailand dan Myanmar sebagai agama minoritas. Di dalam posisi sebagai agama minoritas, masyarakat Islam dihadapkan dengan berbagai isu seperti perpecahan aliran atau aliran sesat, minimnya pengakuan keberpihakan pemerintah, keterbatasan akses di bidang pendidikan, ekonomi dan politik, pengaruh radikalisme Salafi, khususnya Wahabi dan Jamaah Tabligh, serta desakan ideologi juga budaya komunis. 

  

Keempat, Intrusi Ideologi Ekstrimis Islam di Filipina yang mendapatkan tekanan begitu berat. Sejak awal Islam masuk sekitar tahun 1210 M. Kemudian, mereka membentuk koloni, namun mendapatkan perlawanan dengan adanya koloni tandingan yang beragama kristen. Hal ini menyebabkan tekanan dan konflik agama yang semakin meluas. Pada dasarnya, muslim Filipina disebut sebagai “Moro” yang berasal dari istilah moor, yakni istilah yang digunakan oleh orang Romawi Kuno untuk menyebut penduduk Maroko. Dimyati menegaskan bahwa istilah ini merupakan disigmatisasi pada orang butahuruf, jahat, tidak bertuhan dan pembunuh. 

  

Kesimpulan

  

Tulisan Dimyati berusaha menjelaskan bagaimana tantangan yang dihadapi masyarakat muslim di Asia Tenggara. Namun, dalam tulisan tersebut Dimyati tidak menjelaskan metodologi seperti dan batasan masalah yang ia gunakan. Sehingga, jika dalam judul dijelaskan kawasan Asia Tenggara, maka seharusnya ada sepuluh negara yang harus dibahas. Dimyati hanya menjelaskan lima negara. Konsep yang digunakan dan problematika Islam wasathiyah yang disajikan tidak mengupas secara tuntas. Selain itu, Dimyati tidak menjelaskan secara gamblang tujuan yang ingin dicapai dari penelitiannya tersebut.  Namun, penelitian Dimyati telah menunjukkan realitas bahwa Islam wasathiyah adalah solusi. Islam wasathiyah tidak hanya berusaha diterapkan secara optimal di Indonesia, tapi juga negara tetangga dalam jangkauan regional Asia Tenggara.