(Sumber : Nursyamcentre.com)

Kisah Kenabian Muhammad SAW Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli Darwazah

Riset Agama

Tulisan ini akan mengulas secara singkat buku berjudul “Sejarah Kenabian Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah” karya Aksin Wijaya. Secara garis besar, buku tersebut membahas bagaimana perjalanan kenabian Muhammad SAW dengan metode tafsir Nuzuli dalam perspektif Izzat Darwazah. Review ini akan menjelaskan tiga sub bab yang dapat menjelaskan secara singkat isi buku. Sub bab tersebut diantaranya adalah konsepsi dasar sejarah dan tafsir, ulasan empat tafsir dan perjalanan kenabian Muhammad.

  

Konsepsi Dasar Sejarah dan Tafsir

  

Sejarah dan tafsir memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan di antara keduanya merupakan hasil intrepertasi manusia. Perbedaannya terletak pada cara mengkaji dan metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, sejarah di bangun berdasarkan kisah terkait, fakta lapangan,  dan pengalaman manusia dari waktu ke waktu. Sejarah adalah cerita yang diwariskan antar generasi, sehingga terkadang muncul subjektifitas. Hal ini dapat diminimalisir dengan bukti berupa artefak sejarah terkait dengan suatu peristiwa. Di sisi lain, tafsir adalah cara menemukan makna teks. Di dalam menafsirkan suatu teks, terkadang diperlukan bantuan dari teks lain, sehingga muncul menjadi teks baru. Tafsir memiliki banyak jenis, seperti tafsir nuzuli, tafsir tahlili, tafsir tajzii, dan tafsir taufiqi. 

  

Di dalam buku Aksin Wijaya tersebut mengambil dari berbagai sumber, mulai dari buku tahun 1920 hingga 1960-an. Tokoh yang dirujuk dalam buku tersebut adalah Muhammad Izzat Darwazah sebagai sumber utama dan Theodor Noldheke, Ibnu Qarnas, Abid Al-Jabiri sebagai sumber tambahan. Buku ini terdiri dari lima bab yang berisi pengenalan Muhammad Izzat Darwazah, metode tafsir dari beberapa tokoh yakni Tafsir Nuzuli Noldeke, Jabiri, Ibnu Qrnas, dan Darwazah. Pembahasan lain adalah tafsir sejarah kenabian Muhammad dalam perspektif Tafsir Nuzuli Darwazah. 

  

Ulasan Empat Tafsir

  

Buku “Sejarah Kenabian Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah” menjelaskan empat tafsir. PertamaTafsir Noldeke. Secara garis besar tafsir ini membagi Alquran pada tempat dimana turunnya surah, yakni Mekkah dan Madinah. Di Mekkah terbagi menjadi dua fase yakni fase pertama dan kedua. Fase Makkah pertama membahas mengenai status Nabi MuhammadSAW, ancaman penyembah berhala dan cerita penghancuran berhala. Fase kedua membahas mengenai orang Quraisy, ayat tentang jin dan upaya memperluas wilayah dakwah. Pada fase Madinah menjelaskan mengenai status nabi yang tidak hanya menjadi utusan Allah SWT tapi juga pemimpin kaum Muhajirin dan Anshar.

  

Kedua, Tafsir Nuzuli Jabiri yang menyebutkan bahwa dalam Alquran terdapat dua jenis surah, yakni Makkiyah dan Madaniyyah. Pada ulasan tentang surah Makkiyah dijelaskan lima hal. Pertama, kenabian. Kedua, perihal kebangkitan dan balasan di hari akhir. Ketiga, keyirikan. Keempat, dakwah  secara terang-terangan dan hubungan antar kabilah. Kelima, perihal hijrah ke Habasyah. Sedangkan, surah Madaniyyah membahas mengenai hukum dan cara bernegara. 

  

Ketiga, Tafsir nuzuli Ibnu Qarnas juga menjelaskan Alquran berdasarkan surah Makkiyah dan Madaniyyah. Pada surah Makkiyah menurut Ibnu Qarnas menjelaskan tentang sifat Allah, persiapan diri Muhammad sebagai nabi, Muhammad sebagai rosul, syariat, dakwah,  perubahan subjek sasaran dakwah, siksaaan, penolakan terhadap kedzaliman, hijrah, dan hari kebangkitan. Surah Madaniyyah mengulas tentang perang (kewajiban, persiapan, pasca perang badar, Uhud, Khandaq), penakhlukan dan pasca penakhlukan Mekkah, dan dakwah. 

  

Keempat, Tafsir Nuzuli Dawazah. Darwazah menafsirkan Alquran dengan meggunakan pendekatan tradisi keyakinan, sosial-ekonomi, beberapa pemikiran, dan ilmu pengetahuan masyarakat Arab perihal perjalanan kenabian Muhammad SAW. Di dalam buku Aksin Wijaya tersebut juga dijelaskan bahwa Darwazah memiliki alur dalam menafsirkan Alquran yakni konsep ideal Alquran, signifikasi tafsir nuzuli, metode tafsir nuzuli dan menafsirkan sejarah nabi.

  

Perjalanan Kenabian Muhammad SAW

  

Secara garis besar dalam perjalanan kenabian Muhammad SAW dibagi dalam tiga pembahasan. Pertama, hubungan Alquran dengan masyarakat pra-kenabian. Kedua, hubungan Alquran dengan pribadi Nabi Muhammad SAW. Ketiga, hubungan Alquran dengan dengan masyarakat era kenabian Muhammad SAW.

  

Pertama, tafsir Alquran mengani masyarakat Arab sebelum kenabian. Masyarakat pra-kenabian telah menganut monotheisme. Agama ini juga melakukan ibadah haji, namun seiring dengan berjalannya waktu ibadah haji yang dilakukan ditambah dengan membawa patung ke Ka’bah. Kedua, tafsir Alquran terhdap pribadi Nabi Muhammad SAW. Pada sub bab ini penulis menjelaskan mengenai kehidupan pribadi nabi seperi asal-usul, status, ijtihad rosul, akhlak rosul, sikap umat Islam terhadap nabi dan sikap nabi ketika mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Ketiga, tafsir Alquran mengenai masyarakat Arab era kenabian. Masyarakat Arab era kenabian dibagi menjadi dua yakni masyarakat Makkah dan Madinah. Pada fase dakwah pada masyarakat Makkah, secara garis besar dakwah nabi mendapatkan tiga respon yakni menerima, tidak menerima tapi mendukung dan tidak menerima dan memusuhi. Mayoritas surah yang turun di kota Makkah bersifat keras dan ancaman. Fase dakwah terhadap masyarakat Madinah dijelaskan dalam lima fase yakni awal kenabian, dakwah menghadapi orang munafik, kaum yahudi dan nasrani serta perkembangan syariat Islam. Darwazah membagi masyarakat Madinah pada tujuh golongan, yakni Muhajirin awal, Jamaah Anshar awal, golongan imam murni, golongan orang yang masuk Islam setelah Nabi Muhammad hijrah, orang munafik dan Badui, kaum muslim yang memperadukan perbuatan buruk dan baik, dan golongan tidak jelas.  

  

Kesimpulan

  

Keterkaitan antara sejarah dan tafsir adalah titik temu Aksin Wijaya dalam memahami karya Izzat Dawazah. Karya Izzat Darwazah ditulis dengan urutan turunnya Alquran (tartib an-Nuzuli), bukan dari surah awal Alquran hingga akhir (tartib mushafi). Hal tersebut dapat memicu kontroversi. Darwazah juga beranggapan bahwa Alquran merupakan objek bacaan artinya harus dibaca sesuai tartib utsmani, dan sebagai objek tafsir artinya mengandung nilai dan seni untuk dikaji. Artinya, tidak ada hubungannya dengan tartib Alquran. Secara tidak langung Aksin Wijaya memicu adanya ide baru bahwa membaca sejarah kenabian bisa dengan arus kronologi turunnya Alquran.