(Sumber : Nur Syam Centre)

Metode Dakwah Era Modern

Riset Agama

Tulisan berjudul “Dakwah Dinamis di Era Modern: Pendekatan Manajemen Dakwah” adalah karya Nur Alhidayatillah. Tulisan tersebut terbit di Jurnal Pemikiran Islam tahun 2017. Tujuan penelitian Alhidayatillah adalah memperdalam gagasan mengenai dakwah dinamis di era modern. Perubahan zaman yang semakin berkembang setiap harinya menyebabkan da’i harus menemukan solusi dan inovasi terbaru bagi para mad’u. Di dalam resume ini, karya Alhidayatillah akan diulas kembali dalam tiga sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, kajian teoritis: arti dakwah dinamis. Ketiga, pendekatan manajemen dakwah dalam dakwah dinamis.

 

Pendahuluan

 

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi bedampak pada kehidupan masyarakat, salah satunya pergeseran nilai yang bersifat positif maupun negatif. Misalnya, nilai positif dapat terlihat ketika budaya Islam dan barat berpadu dan menjadikan Islam semakin kaya akan nilai budaya melalui pembuktian sains dan teknologi. Sedangkan, nilai negatif terjadi ketika moralitas merosot, karena mengadopsi budaya barat tanpa filtrasi. Di dalam kaitannya dengan dakwah, segala perubahan yang terjadi diperlukan pendekatan inovasi dalam kegiatan dakwah, salah satunya melalui dakwah dinamis.

 

Kajian Teoritis: Arti Dakwah Dinamis

  

Dakwah dinamis terdiri dari dua kata yakni dakwah dan dinamis. Di dalam bahasa Arab kata da’wah disebut mashdar, yang artinya panggilan, seruan maupun ajakan. Menurut Muhidin dalam bukunya yang berjudul “ Dakwah dalam Perspektif Al-Qur’an: Studi Kritis Atas Visi Misi dan Wawasan” menerangkan bahwa, dakwah adalah upaya mengajak umat manusia agar berada di jalan Allah yang sesuai dengan fitrah baik melalui lisan maupun tulisan, sebagai upaya pengejawantahan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran spiritual universal sesuai dasar Islam. Dakwah juga dapat diartikan sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif agar terjadi perubahan pikiran, keyakinan, sikap dan perilaku menjadi lebih Islami. Sedangkan, kata dinamis dalam KamUS Besar Bahasa Indonesia,  diartikan penuh semangat dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan dan sebagainya. Jadi, dakwah dinamis adalah kegiatan dakwah yang dilakukan dengan penuh semangat, menyesuaikan dengan kondisi atau permasalahan yang terjadi di masyarakat, dan tidak bersifat statis karena persoalan umat saat ini yang begitu kompleks.

 

Di dalam Al-Qur’an juga sudah dijelaskan mengenai cara dan metode berdakwah dalam Surah An-Nahl: 125.  Di dalam surah tersebut mengandung penjelasan mengenai tiga metode dakwah. Pertama, Al-hikmah. Dakwah al-hikmah fokus terhadap tiga hal, yakni keadaaan dan situasi orang-orang yang didakwahi, kadar materi dakwah yang disampaikan harus sesuai dengan tingkat pemahaman mad’u, serta metode penyampaian yang menarik. Artinya, da’i harus memahami dulu keadaan mad’u. Kedua, dakwah al-mauidzatil khasanah. Dakwah ini dilakukan dengan memberikan nasehat yang baik, lembut hingga menyentuh jiwa dan memperbaiki perbuatan, tutur kata lemah lembut serta penuh kasih sayang. Dakwah al-mauidzatil khasanah cenderung kepada masyarakat awam, karena da’i berperan sebagai pembimbing. Ketiga, dakwah wa-jadilhum bi al-lati hiya ahsan. Dakwah ini condong pada kegiatan dakwah melalui diskusi atau perbedatan, sehingga lebih cocok untuk mad’u yang memiliki cukup intelektual. Dakwah wa-jadilhum bi al-lati hiya ahsan dapat diterapkan dengan tiga prinsip, yakni tidak merendahkan pihak lawan, bertujuan mencari kebenaran tentang Islam, dan menghormati pihak lawan.

 

Di dalam memilih metode dakwah, terdapat lima faktor yang mempengaruhi. Pertama, tujuan. Kedua, sasaran dakwah. Ketiga, situasi dan kondisi mad’u. Kempat, media dan fasilitas yang tersedia. Kelima, kepribadian dan kemampuan da’i.

 


Baca Juga : Pola Diskursif Fatwa Ulama di Indonesia dan Malaysia

Dakwah dinamis lahir sebagai reaksi dakwah yang selama ini dilakukan karena masalah di masyarakat yang semakin kompleks. Perkembangan zaman membentuk daya pikir dan cipta semakin berkembang untuk memformulasikan makna hidup dalam konteks nyata. Akibatnya, pergeseran nilai agama dan budaya pasti terjadi, meskipun lambat.

 

Pendekatan Manajemen Dakwah dalam Dakwah Dinamis

  

Di dalam penerapannya, dakwah Islam merupakan proses kebudayaan. Artinya, memasyarakatkan dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan secara berproses, melalui dakwah bil-hikmah, al-mauidzatil khasanah, dan wa-jadilhum bi al-lati hiya ahsan. Dakwah harus memberikan jawaban pada setiap perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Perubahan di masyarakat berkenaan dengan pola pikir, pola hidup dan perilaku masyarakat.

 

Pendekatan manajemen diperlukan guna menyusun tahap yang akan dilakukan dalam upaya pencapaian tujuan dakwah. Permasalahan yang muncul di masyarakat, menuntut da’i mampu membuat strategi baru dengan pendekatan manajemen. Di dalam manajemen terdapat istilah “POAC”, yakni Plan, Organization, Action, and Control. Plan berarti perencanaan yang matang. Organization berarti pengorganisasian yang tepat. Action berarti aksi dalam berdakwah. Control berarti pengontrolan terhadap hasil dakwah sehingga dapat dikaji bagian yang bisa dipertahankan maupun diperbaiki.

 

Dakwah dinamis dengan pendekatan manajemen dakwah bertujuan untuk mengatur cara berdakwah yang dilakukan saat ini. Semua kegiatan yang dilakukan harus terencana dan tersusun dengan baik agar memperoleh hasil yang maksimal. Dakwah yang baik pasti memiliki konsep yang utuh dengan strategi yang jitu, serta tujuan yang pasti.

 

Kesimpulan

  

Tulisan Alhidayatillah memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, keterbatasan dialog teoritik yang belum sampai mencakup broad theory dari keilmuan dakwah secara konseptual. Kedua, konsep dakwah dinamis yang dipromosikan belum melalui pematangan ranah penelitian eksplanatif, sehingga konsep dakwah dinamis menjadi semacam hipotesis yang perlu diuji dan dibuktikan lebih lanjut. Namun, terlepas dari keterbatasan tersebut tulisan Alhidayatillah menunjukkan bahwa, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat tidak bisa dihindari karena meliputi seluruh aspek hidup masyarakat. Agama dan kehidupan sosial tidak dapat dipisahkan karena saling mempengaruhi. Tulisan Alhidayatillah menunjukkan bahwa perubahan sosial di masyarakat akan terus terjadi, sehingga diperlukan inovasi dalam berdakwah. Dakwah dinamis adalah salah satu “terobosan” cara berdakwah yang diusulkan Alhidayatillah utuk menjawab tantangan perubahan masyarakat. Dakwah dinamis mendorong pencapaian kemajuan dunia berlandaskan agama, dakwah bukan hanya mengaji, namun berkaitan denga hidup duniawi. Dakwah berfungsi untuk menyiapkan umat yang sejahtera secara duniawi, sekaligus memiliki moralitas agama.