(Sumber : Artikula.id)

Moderasi Pengarusutamaan dalam Mencegah/Melawan Ekstremisme di Pesantren

Riset Agama

Artikel berjudul “Mainstreaming Moderation in Preventing/Countering Violent Extremism (P/CVE) in Pesantrens in Central" merupakan tulisan Muhammad Wildan dan Ahmad Muttaqin. Tulisan ini Jawa terbit di Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS) tahun 2022. Ketika religious-violent extremism (Ekstremisme kekerasan agama/RVE) semakin meningkat, pemerintah dan organisasi masyarakat sipil berusaha mencari berbagai pendekatan mulai dari soft maupun hard guna memberantas dan mengurangi ekstremisme di berbagai lapisan masyarakat. Penelitian ini berusaha mengulas lebih dalam mengenai program yang disebut dengan ‘Moderasi Pengarusutamaan’ oleh salah satu pusat studi UIN Sunan Kalijaga yakni CISForm. Adanya anggapan konsep deradikalisasi yang bermasalah, menganggap pusat studi ini menyebut seluruh program mengenai CVE disebut moderasi pengarusutamaan bukan deradikalisasi. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, menyebarnya ekstremisme agama. Ketiga, moderasi sebagai pendekatan menangkal ekstremisme. Keempat, program moderasi pengarusutamaan CISForm.  

  

Pendahuluan

  

Meskipun ekstremisme agama di Indonesia tampaknya menurun dari segi skala, namun sebenarnya mengalami peningkatan dari segi ruang lingkupnya. Sebagaimana diketahui secara luas, ekstremisme agama di tanah air berakar pada ideologi Darul Islam (DI) yang kemudian menjadi lebih ‘internasional’ di bawah nama Jama’ah Islamiyah. Kemudian, organisasi inni terpecah menjadi banyak faksi seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Jamaah Anshorus Syariah (JAS), Jamaah Anshorus Daulah (JAD) dan masih banyak yang lain. Selama dua dekade terakhir, baik JI maupun beberapa sempalannya terlibat dalam berbagai aksi perusakan di Indonesia, serta beberapa tetangga lainnya. Kabarnya, pihak berwenang juga mengidentifikasi banyak kelompok sempalan yang mendukung ISIS di Indonesia bagian Timur. 

  

Pada tahun 2012, ekstremisme dianggap mengalami penurunan, naun sebenarnya masih banyak tersebar di berbagai entitas termasuk sekolah maupun pesantren. Sebenarnya, pesantren adalah entitas pendidikan yang netral. Sejarah Indonesia membuktikan bahwa pesantren memiliki peran yang sangat signifikan dalam mendidik siswa. Pesantren semaking berkembang pesat sebagai lembaga alternatif pendidikan moral, ketika konsistensi laju re-islamisasi dan ‘kelahiran kembali’ umat Islam Indonesia. Sayangnya, pesantren sering kali terindikasi memiliki keterkaitan dengan berbagai kasus ekstremisme di tanah air. Misalnya, Bom Bali I dan II yang melibatkan lulusan pesantren. 

  

Menyebarnya Ekstremisme Agama

  

Selama dua dekade terakhir, Religious-Violent Extremism (Ekstremisme Kekerasan Agama /RVE) telah menjadi fokus bagi para cendekiawan dunia, pengamat bahkan media. Tragedy 9/11 serangan terhadap World Trade Centre (WTC) merpakan pemicu kebangkita RVE di negara lain. Maraknya jaringan al-Qaeda di berbagai dunia kemudian diikuti bangkitnya Negara Islam (ISIS) di Irak-Suriah mendorong ideologi ultra-konservatosme dan aksis kekerasan pada hampir seluruh dunia. Proyek Investigasi Terorisme (IPT) menegaskan bahwa Islam radikal telah meningkat secara signifikan di seluruh dunia dalam dua dekade terakhir.

  

Di Indonesia, RVE atas nama Islam sedang mekar. Berdasarkan sisi skala, radikalisme terlihat menurun, namun meningkat dari sisi cakupannya. Artinye, VE sering terjadi, namun korbannya lebih sedikit dibandingkan dengan awal tahun 2000-an. Menurut Roy dalam tulisannya berjudul “Globalized Islam: The Search for a New Ummah” menyatakan bahwa radikalisme Islam adalah fenomena global tetapi dibentuk oleh kekhasan lokal. Tampaknya, beberapa pendorong radikalisme dan RVE masih ada di setiap masyarakat, seperti hegemoni barat atas negara muslim, kurangnya demokratisasi, sistem peradilan yang buruk, kemiskinan, tingkat pendidikan yang lebih rendah, politik, budaya, agama, identitas dan lain sebagainya. 

  

Berdasarkan beberapa penelitian, kelompok yang paling rentan terpapar radikalisme yang berpotensi mengarah pada RVE adalah kaum muda. Awalnya, ideologi radikal tersebar luas di kalangan pesantren, menyusul perpecahaan Jamaah Islamiyah (JI) dan munculnya Jamaah Anshorud Daulah (JAD). Saat ini beberapa pesantren yang diduga radikal dipecah menjadi pesantren JI dan JAD. Selain itu, meluasnya ekstremisme kekerasan secara online melalui media sosial telah menggeser penyebaran narasi ekstremisme ke masjid dan sekolah umum. Bahkan, saat ini beberapa pelaku ekstremisme di tanah air dipengaruhi oleh para pendakwah di masjid dan guru di sekolah karena beberapa pesantren yang masih memiliki pandangan dunia yang konservatif dan/atau ekstrem. Alhasil, perlu diperhatikan kerentanan remaja di sekolah yang terpapar RVE salah satunya melalui dinamika sosial-keagamaan para pemimpin sekolah. 


Baca Juga : Kontroversi Musik, Budaya dan Agama

  

Secara historis, pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional di Indonesia dan lembaga pendidikan Islam tertua di tanah air. Pesantren memberikan kontribusi besar terhadap literasi masyarakat. Banyak ulama dan negarawan besar Indonesia yang lulus dari pesantren. Awalnya, pesantren cenderung moderat, namun ada beberapa pesantren yang baru didirikan dan cenderung konservatif bahkan radikal karena pengaruh Negara Timur Tengah. 

  

Moderasi Sebagai Pendekatan Menangkal Ekstremisme 

  

Banyaknya kasus ekstremisme di Indonesia telah menyebabkan pemerintah dan organisasi masyarakat sipil (OMS) terlibat aktif dalam melawan ancamannya. Semakin banyak orang terpapar, semakin banyak jenis pendekatan yang harus dikembangkan. Secara umum, ada dua jenis pendekatan terhadap ekstremisme yakni soft dan hard. Di Indonesia, istilah umum untuk ideologi dan tindakan kekerasan adalah radikalisme, terorisme, dan RVE. Tindakan yang digunakan untuk mengatasinya adalah deradikalisasi. Seiring adanya penolakan sebagian komunitas muslim terhadap penggunaan istilah deradikalisasi, banyak dari mereka yang condong menerapkan istilah Preventing/Countering Violent Extremism (P/CVE). Isilah alternatif tersebut juga sering digunakan pemerinah dan OMS karena memerlukan tiga pendekatan berbeda yakni intervensi primer, sekunder dan tersier. 

  

Pertama, intervensi primer bertujuan untuk mencegah masyarakat umum tertarik pada narasi ekstremis. Kelompok yang paling rentan adalah kaum muda. Hal ini dibuktikan dengan maraknya narasi ekstremisme di kalangan SMA dan mahasiswa. Di antara beberapa narasi ekstrem yang tersebar adalah perlunya khilafah, menerapkan syariah dan interpretasi jihad sebagai perang. 

  

Kedua, intervensi sekunder lebih spesifik menargetkan mereka yang diidentifikasi memiliki pandangan terkait yang mungkin menjadi batu loncatan menuju ekstremisme. Di antara kelompok yang rentan adalah keluarga radikal, imigran yang kembali, orang yang dideportasi, dan mereka yang terkait dengan beberapa pesantren yang diduga radikal seperti JI, dan JAD. Kelompok terakhir ini dianggap sudah memiliki ideologi ekstrem yang bisa membawa mereka pada ekstremisme. 

  

Ketiga, intervensi tersier yang mengelola individu yang terlibat dalam ekstremisme baik saat ini hidup di penjara atau di tengah masyarakat. Di dalamnya adalah kelompok jihadis atau mantan gerilyawan, migran yang kembali, dan lain sebagainya. Meskipun kelompok ini tidak terlalu besar, naun sangat berbahaya karena mereka dapat terlibat lagi dalam tindakan ekstremisme tertentu. 

  

Seluruh program yang diterapkan CISForm di CVE disebut dengan moderasi pengarusutamaan, bukan deradikalisasi. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa istilah deradikalisasi mengandung dua masalah konseptual. Pertama, konsep deradikalisasi yang mengasumsikan bahwa semua radikal melakukan kekerasan. Kedua, konsep deradikalisasi hanya cocok untuk orang yang melakukan kekerasan (untuk penyembuhan) bukan pencegahan. 


Baca Juga : Jadi Ulama dalam Bingkai Kebangsaan

  

Program Moderasi Pengarusutamaan CISForm

  

Upaya untuk meredam resistensi mengenai radikalisme, CISForm cenderung melakukan advokasi terkait isu alternatif. Misalnya, CISForm menyelenggarakan lokakarya untuk pesantren mengenai topik lain seperti pengembangan perpustakaan, pembelajaran aktif, kepemimpinan dan advokasi sosial. CISForm meyakini bahwa pendekatan persuasif dan tidak langsung akan lebih produktif guna menghindari konflik. Pendekatan tersebut bertujuan untuk mengalihkan fokus ideologi dan politik; serta perubahan sikap dan perilaku secara bertahap. Pertama, pengembangan perpustakaan bertujuan menyediakan pengelolaan perpustakaan dan koleksi buku yang lebih baik untuk pesantren. Perbaikan perpustakaan juga diharapkan dapat memberikan alternatif bahan bacaan bagi warga pesantren, guru dan para santri.

  

Kedua, pembelajaran aktif untuk pesantren. Pendekatan ini dipilih berdasarkan fakta bahwa guru di pesantren memainkan peran sentral dalam proses pendidikan melalui teacher centered learning (TCL). Program pembelajaran aktif bertujuan mengalihkan metode TCL menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (SCL). Gunanya adalah membuat kelas demokratis. Berdasarkan fakta bahwa proses radikalisasi dapat terjadi secara formal di kelas atau informal, pendekatan semacam ini diperlukan agar santri dapat berdialog secara dinamis. 

  

Ketiga, lokakarya kepemimpinan. Di pesantren, para pemimpin kebanyakan memutuskan semua kebijakan tanpa banyak pertimbangan atau masukan dari rekan lainnya. Alhasil, pendekatan semacam ini diperlukan guna memberikan alternatif bagi para guru atau pemimpin pesantren dalam pengambilan keputusan, mulai dari kepemimpinan personal hingga kolegial. 

  

Keempat, advokasi sosial. Program ini bermanfaat bagi kelompok radikal maupun pemerintah. Bagi kelompok radikal, mereka bisa menyuarakan pendapatnya secara bebas dan tertib tanpa dianggap melanggar hukum. Sementara bagi pemerintah dan masyarakat, strategi ini dilakukan tanpa kekerasan yang bisa lebih diterima. Alhasil, lokakarya advokasi sosial sangat dibutuhkan pesantren guna memberdayakan mereka dalam membuat komunikasi persuasif dan mekanisme penting lainnya. 

  

Berdasarkan empat program lokakarya CISForm tersebut, 60% peserta menyatakan bahwa program tersebut mengubah pola pikir mereka menuju kegiatan yang lebih baik di pesantren. Empat lokakarya tersebut diikuti oleh alumni pesantren (66,9%); ustaz pesantren (9,2%); pengasuh pondok pesantren (16,9%); wali kelas (24,6%); pimpinan pesantren (10%); pengurus pembina pesantren (6,2%); sisanya ustaz biasanya (26,7%) dan lainnya (5,4%). Urutan program terbaik adalah lokakarya pembelajaran aktif (26,2%); pelatihan kepemimpinan (20%); advokasi sosial (10%); dan pelatihan perpustakaan (3,1%). 

  

Kesimpulan

  

Secara umum, kelompok radikal memang cenderung eksklusif. Mereka memegang pemahaman mereka sebagai pembenaran, dan menganggap orang lain yang menentang pendapat mereka sebagai musuh kebenaran. Sikap ini melihat hal dalam oposisi biner dan benturan antara sudut pandang mereka dengan orang lain adalah sesuatu yang normal. Alhasil, kelompok radikal sering kali mengambil jalan kekerasan dalam mencari solusi sosial. Hal ini diperparah karena radikalisme telah menjadi solusi spekulatif dan alternatif pemecahan masalah kelompok radikal; serta senjata terakhir untuk mencapai tujuan. Pesantren harus didekati dengan baik melalui tindakan yang soft karena tindakan hard atau keras tidak dapat menyentuh dan mengatasi akar radikalisme secara tepat. Empat pendekatan soft yang digagas oleh CISForm bisa kembali mengarusutamakan pesantren ke Islam moderat (wasathiyyah).