(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Nahdlatul Ulama Pengawal Islam Moderat

Riset Agama

Tulisan berjudul “Nahdaltul Ulama (NU): A Grassroots Movement Advocating Moderate Islam” merupakan karya Faried F. Saenong. Tulisan ini merupakan salah satu sub bab dari buku berjudul “Handbook of Islamic Sects and Movements” dengan editor Muhammad Afzal Upal dan Calore M. Cusack yang dipublikasikan oleh Brill pada tahun 2021. Chapter ini menjelaskan banyak hal terkait dengan NU dalam hal sejarah, teologi, struktur, ulama, suasana politik dan Islam Indonesia. Di dalam resume singkat ini, akan dijelaskan secara singkat terkait dengan chapter buku di atas dalam tiga sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, NU dalam sejarah singkat dan teologi. Ketiga, Islam Indonesia. 

  

Pendahuluan

  

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengklaim memiliki 60 juta anggota di Indonesia, serta 30 juta lebih di seluruh dunia. Klaim ini membuat NU menjadi organisasi Islam independen terbesar di dunia. Jumlah anggota sebanyak ini membutuhkan perhatian ekstra dari PBNU, guna mendukung pelayanan. Oleh sebab itu, pengurus NU telah menghadirkan struktur, mulai bari Pengurus Besar di Jakarta, Pengurus Wilayah di setiap provinsi, Pengurus Cabang di kota/kabupaten, Majelis Wakil Cabang di setiap kecamatan dan Pengurus Ranting di kelurahan/desa. Anggota NU di luar negeri dinaungi oleh Pengurus Cabang Istimewa yang ada di berbagai negara. Selain itu, NU juga memiliki organisasi semi otonom bagi perempuan, mahasiswa, pelajar, ulama, pebisnis dan lain sebagainya. NU juga menyediakan fasilitas berupa rumah sakit dan pelayanan kesehatan, lembaga pendidikan dari sekolah hingga universitas, kelompok pertanian dan masih banyak lagi. 

  

NU dalam Sejarah Singkat dan Teologi 

  

Secara resmi, NU didirikan pada 31 Januari 1926. Gerakan ini tidak muncul secara tiba-tiba dalam sejarah Indonesia. para sejarawan menunjukkan bentuk awal dari gerakan akar rumput ini muncul di awal tahun 1926. Namun, dapat ditelusuri kembali jejak epistemologi dan ideologisnya yang bahkan bisa ditemukan sejak awal sejarah Islam di Nusantara. Kelahiran NU tidak bisa dipisahkan dari peran KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah. Pasca menyelesaikan studinya di Tebuireng, Jombang tahun 1908, KH. Hasyim menyarankan KH. Wahab untuk melanjutkan studi di Mekkah. Di Makkah, KH. Wahab, Abdul Halim, Ahmad Sanusi dan Mas Mansur mendirikan cabang Syarikat Islam Mekkah. Ketika kembali ke Surabaya tahun 1914, KH Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan yang telah dinyatakan sebagai lembaga keagamaan pertama “berwatak” nasionalis dan moderat. Nahdlatul Wathan berkembang pesat dalam dua tahun, sehingga memiliki madrasah dengan Gedung dua lantai di Subaya. Organisasi ini mempromosikan pengembangan pendidikan dan intelektual. Pada tahun 1917 didirikan Tashwirul Afkar sebagai media pembelajaran al-Qur’an dan pendidikan agama, Nahdlatul Tujjar dengan kebanyakan anggota adalah kiai, serta Nahdlatul Fikr. 

  

Perkembangan sosial budaya di Indonesia, seperti Muhammadiyah modernis yang mulai berkembang, dan pergeseran politik di Makkah, di mana Ibn Saud dengan Wahabi Puritannya telah memperoleh kekuasaan, menyebabkan KH Wahab dengan tegas menyarankan KH Hasyim memprakarsai berdirinya organisasi ulama yang mengakomodasi kepentingan lembaga pendidikan agama d Jawa. Alhasil, KH Hasyim memprakarsai berdirinya nu DI Surabaya pada 31 Januari 1926 tepatnya 16 Rajan 1438 H. 

  

NU adalah organisasi muslim Sunni. Di Indonesia Sunnni adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang biasa disebut dengan Aswaja. Secara teologis, NU merupakan jalan tengah antara rasionalisme ekstrem dan skripturalisme garis keras. Sumber hukum Islam bagi NU bukan hanya al-Qur’an dan hadis, melainkan kekuatan akal manusia untuk memahami realitas empiris yang dikonseptualisasikan dalam kalam dan konteks teologis, mengikuti salah satu dari empat mazhab utama dengan mayoritas adalah mazhab Syafi’i. Pilihan NU dalam kalam, fiqh dan tasawuf adalah pilihan teologis lokal. Interpretasi Iman, Islam dan Ihsan sebagai trilogi dalam konteks Indonesia. 

  

Secara tradisional, NU memiliki anggota yang terdiri dari masyarakat pedesaan dan santri dari seluruh Indonesia. Mereka melestarikan dan terus melakukan “praktik” seperti ziarah, wasilah, merayakan maulid, melantunkan sholawat, membaca tahlil, suluk dan lain sebagainya.  Praktik ini sudah menjadi ritual dalam kehidupan mayarakat pedesaan di Indonesia. Selain itu, anggota NU sering kali dicirikan dengan sarung. Sarung biasanya dipakai di pesantren, maupun acara sosial keagamaan di luar pesantren.  Gaya busana pria yang biasanya dipakai adalah sarung, kemeja batik atau koko dan peci hitam di kepala. 

  

Islam Indonesia

  

Islam Indonesia merupakan salah satu “produk” NU. Tujuannya bukan untuk membuat perbedaan negatif antara Islam di Indonesia dengan dunia Islam lainnya. Justru, untuk menunjukkan khas atau spesialisasi kualitas Islam Indonesia dengan budayanya. Teologinya tetap sama, yakni sunni. Tidak ada dalam ruang Islam Indonesia untuk mengubah prinsip Islam, seperti rukun Islam dan rukun Iman. 

  

Di balik konsep Islam Indonesia adalah apresiasi terhadap lokalitas, termasuk cara hidup, budaya, tradisi, dan praktik yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Hal ini didasarkan pada satu konsep fiqh dan usul al-fiqh, al-‘ada atau al-‘urf muhakkama, bahwa lokalitas dapat dianggap sebagai sumber hukum di bawah al-Qur’an dan hadis. NU mengakomodir budaya dan praktik lokal, asalkan tidak “keluar” dari prinsip dasar Islam. Salah satu contoh dari ide ini adalah adat memakai sarung, peci, bati atau koko saat sholat. 

  

Secara teologis, Islam adalah agama universal dan harmonis dalam segala hal. Meskipun, terkadang, terdapat perbedaan pendapat dan pemahaman antara satu ulama dengan yang lain, namun dedikasi dan orientasinya tetap sama yakni menegaskan keesaan Allah SWT. Kelompok NU akan lebih konservatif dalam hal ritual dan ibadah agama, sebagaimana, keteguhan dalam memegang kitab kuning sebagai interpretasi tekstual dari al-Qur’an dan hadis. Islam adalah manifestasi dan ekspresi religiositas yang dapat “dikawinkan” dengan budaya dan praktik lokal. NU berada pada garda depan dengan mengadvokasi praktik lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam. 

  

Kesimpulan

  

NU memiliki tradisi kuat yang “berinteraksi” dengan teks Islam. Artinya, NU pada dasarnya kelompok tradisional dalam pendekatannya terhadap teks dan praktik. Sebagian orang salah mengartikan NU terbelakang dalam pemikiran, oportunistik dalam politik, dan sinkretis dalam religiositas. Sebaliknya, tradisionalisme telah memungkinkan NU menjadi organisasi keagamaan yang progresif. Kesadaran ini telah menjadikan NU menjadi kelompok Islam yang paling siap menghadapi modernitas dan perubahan. Kelompok NU mampu mewakili kepentingan sejumlah besar kelompok sosial yang berbeda dari muslim Indonesia. Gerakan sosial keagamaan berbasis tradisionalisme dengan karakter progresif ini telah merevitalisasi cakrawala tradisionalisme Islam dengan mempromosikan diskusi terbuka terkait tafsir. Selain itu, kombinasi otoritatif ulama, pendidikan pesantren dan kitab kuning yang dipelajari telah menanamkan, menumbuhkan, memanen pembangunan otoritas Islam.