(Sumber : owntalk.co.id )

Persepsi Mahasiswa Millennial Mengenai Intergrasi Islam dan Sains

Riset Agama

Artikel berjudul “Millennial Student’s Perception on the Integration of Islam and Science in Islamic University" merupakan karya Rizkia Suciati, Herawati Susilo, Abdul Gofur, Umie Lestari dan Izza Rohman. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2022. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan mengenai persepsi mahasiswa mengenai konsep integrasi Islam dan sains. Hal tersebut dianggap penting sebab masih banyak mahasiswa yang belum memahami bagaimana cara menghubungkan teori sains dengan keyakinan yang dimiliki. Metode yang digunakan adalah survei yang melibatkan 175 mahasiswa dari empat Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Responden akan diminta untuk mengisi kuesioner secara online yang berisi delapan pertanyaan berbentuk two-tier berdasarkan tujuh indikator pemahaman konsep integrasi Islam dan sains. Indikator yang dipakai akan berusaha mengukur pemahaman mahasiswa mengenai sains; relasi antara sains dan agama (Islam); pengaruh sains terhadap agama; pengaruh wawasan keislaman yang dimiliki terhadap pembelajaran sains; peran agama dalam perkembangan/kemajuan sains; konflik antara sains dan agama; perbedaan sains yang dikembangkan oleh ilmuwan muslim dan non-muslim. Terdapat tujuh sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, persepsi tentang sains. Ketiga, persepsi tentang pengaruh sains terhadap agama. Keempat, persepsi pengaruh wawasan Islam terhadap pembelajaran sains. Kelima, persepsi tentang peran agama dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Keenam, persepsi konflik antara sains dan agama. Ketujuh, persepsi tentang perbedaan konsep sains yang dikembangkan oleh ilmuwan muslim dan non-muslim. 

   

Pendahuluan

  

Modernisasi telah mengacu kemunculan perubahan pesat terutama dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika ditinjau daro retrospeksi, “konflik” antara agama dan sains muncul karena pandangan dan doktrin agama yang bertentangan dengan teori ilmiah modern. Misalnya, kasus eksekusi Gereja Galileo pada abad 19 dan perselisihan pandangan antara pendukung teori evolusi dan penciptaan. Selama beberapa dekade, berdasarkan sejarah ilmiah umat Islam, muncul istilah studi Islam dan studi non-Islam dalam relasi antara agama dan sains. Kemudian, hal ini menyebar sebagai bentuk dikotomi, khususnya di bidang pendidikan. Bahkan, terdapat kesenjangan antara karakteristik keagamaan di bawah naungan Kementerian Agama dan sekolah umum di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

  

Pada dasarnya, sains dan agama merupakan dua hal yang kompatibel. Agama menganjurkan setiap pemeluknya untuk terus belajar, sebab sains bisa dibuktikan melalui agama. Jika ada pemisahan antara keduanya, maka disebabkan kesalahpahaman mengenai ajaran universal Islam. Integrasi sains dan Islam bertujuan untuk mengembalikan kejayaan Islam di masa lalu. Model kesatuan antara sains dan agama condong menjadi model ketertarikan dengan bidang interdependensi integratif, integrasi komplimentaris dan integrasi kualitatif. Sains dan agama dapat saling berhubungan dalam empat cara yang berbeda, salah satunya adalah integrasi. Oleh sebab itu, memahami perbedaan antara keduanya sangat penting untuk mengetahui interaksi mereka lebih dalam. 

  

Di dalam Islam, menghubungkan agama dan sains memiliki dampak pribadi bagi keyakinan individu. Mengintegrasikan keduanya bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, dikotomi antara sains dan agama harus dihilangkan, dan pendidikan merupakan salah satu media terbaik bagi tujuan ini. 

   

Persepsi tentang Sains

  

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa sains dianggap sebagai hal yang penting karena berperan dalam semua aspek kehidupan. Mereka beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan pasti di mana setiap unsur memiliki fungsinya masing-masing dan saling berhubungan satu sama lain. Persepsi mereka mengenai makna sains didasarkan pada pemahaman mengenai hakikatnya, bahwa sains adalah produk dan proses.  Ketika konsep tersebut digambarkan sebagai pengetahuan, secara tidak sadar membentuk tatanan sosial. Konstruksi yang dibangun oleh para pendidik membuat pernyataan mutlak mengenai ilmu pengetahuan yang menjadi pernyataan ontologis. 

  

Selanjutnya, persepsi terkait relasi sains dan agama menunjukkan bahwa keduanya memiliki hubungan berupa keterpaduan dan saling mendukung. Namun, ada pula yang beranggapan bahwa keduanya tidak berhubungan satu sama lain. Sebagian besar responden juga memiliki persepsi bahwa hubungan sains dan agama dapat berbentuk integrasi. Penemuan ini didukung oleh Mansour yang sebelumnya melakukan penelitian berjudul “Religious Beliefs: A Hidden Variable in the Performance of Science Teachers in the Classroom” bahwa sains dan agama dapat membentuk empat kategori hubungan yakni konflik, kemandirian, dialog, dan integrasi. Selain itu, ia menambahkan bahwa pandangan mengenai sains dan agama adalah dua ranah yang berdiri sendiri tidak sesuai dengan epistemologi pengetahuan Islam. Hal ini karena dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam terdapat tiga sumber untuk memperoleh ilmu yakni akal, pengalaman dan hujjah dari sumber yang sahih. Oleh sebab itu, anggapan bahwa hubungan antara sains dan agama merupakan bentuk yang berdiri sendiri adalah keliru. 


Baca Juga : Antara Hukum Agama dan Toleransi Antar Umat Beragama

  

Persepsi tentang Pengaruh Sains Terhadap Agama 

  

Temuan selanjutnya adalah adanya anggapan bahwa sains dapat mempengaruhi agama melalui konsep di dalamnya. Ada juga yang menyatakan bahwa sains dapat mempengaruhi agama melalui cara menyampaikannya. Alasan mereka bahwa sains dapat mempengaruhi agama atau sebaliknya berdasarkan atas pemahaman mengenai sains itu sendiri. Sains dan agama adalah dua bidang pengetahuan manusia yang berbeda dari segi epistemologinya. Perkembangan ilmu pengetahuan lebih menekankan pada pengetahuan rasional dan empiris, sedangkan agama lebih pada intuitif. Hal ini didukung oleh temuan John Hedley Brooke dalam Syarif yang berjudul “Pergulatan Sains dan Agama” bahwa hubungan antara sains dan agama dapat berupa konflik/dalam bentuk harmoni-pelengkap. 

  

Persepsi Pengaruh Wawasan Islam Terhadap Pembelajaran Sains

  

Selain itu, berdasarkan survei yang dilakukan kepada responden dapat diketahui bahwa wawasan keislaman seorang dosen mempengaruhi cara terintegrasi dalam pengajaran sains. Hal ini disebabkan wawasan mengenai Islam akan lebih baik dalam menghubungkan konsep ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai agama. Artinya, wawasan keislaman yang dimiliki seorang dosen sangat penting, sebab mempengaruhi cara mengajar. Alhasil, ilmu pengetahuan dan agama akan saling mendukung. Penemuan ini sesuai dengan Salleh et al yang berjudul “Teacher’s Concerns, Perception and Acceptance towards Tauhidic Science Education” bahwa menghubungkan agama dengan sains akan berdampak pada pribadi dan keyakinan individu serta bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

  

Persepsi tentang Peran Agama dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan 

  

Temuan yang lain adalah agama berperan dalam perkembangan atau kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan beberapa ilmuwan muslim dan non-muslim telah melakukan eksperimen melalui berbagai metode ilmiah mengenai apa yang ada dalam kitab mereka. Alasan lainnya adalah belajar merupakan kewajiban. Perkembangan atau kemajuan ilmu pengetahuan merupakan tuntutan bagi manusia yang selalu berusaha mengungkap misteri yang ada di dunia. 

  

Secara garis besar, penafsiran yang serius terhadap agama sebagai umat Islam berdampak pada kehidupan yakni perkembangan atau kemajuan ilmu pengetahuan. Agama memiliki peran sebagai pedoman dalam upaya mengungkap segala sesuatu yang ada di alam. Penemuan ini sesuai dengan penelitian Mansour berjudul “Religious Beliefs: A Hidden Variable in the Performance of Science Teachers in the Classroom” bahwa Islam meminta pemeluknya untuk terus belajar dan mempelajari apa yang ada di alam. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan dapat dibuktikan melalui agama. 

  

Persepsi Konflik Antara Sains dan Agama

  

Temuan lain juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan konflik-kontradiksi antara sains dan agama. Mereka berpendapat bahwa konsep sains sering dipandang sebagai prinsip agama yang bertentangan, sehingga sains dan agama sering diperdebatkan. Ada juga beranggapan bahwa sains dan agama tidak serta merta memiliki hubungan dalam bentuk konflik/kontradiksi, karena konsep ilmiah merupakan hasil pembuktian dari apa yang dijelaskan agama melalui kitabnya masing-masing. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dipelajari dari ilmu pengetahuan harus sesuai dengan agama untuk tujuan kemaslahatan umat manusia. Hal ini sejalan penemuan Purwanto berjudul “Ayat-Ayat Semesta, Sisi Lain Al-Qur’an yang Terlupakan” bahwa sains dan Islam sebenarnya bertujuan untuk menunjukkan kesatuan hukum alam, hubungan seluruh bagian dan aspeknya sebagai cerminan dan kesatuan prinsip ketuhanan. Namun, mereka mamiliki konflik atau relasi yang saling bertentangan. 

  

Persepsi tentang Perbedaan Konsep Sains yang Dikembangkan oleh Ilmuwan Muslim dan Non-Muslim

  

Penelitian ini juga menemukan bahwa terdapat perbedaan konsep sains antara ilmuwan muslim dan non-muslim. Mereka memiliki alasan bahwa para ilmuwan non-muslim melakukan penelitian hanya untuk membuktikan kebenaran dari apa yang dipahami, tanpa memikirkan kebenaran agama atau kepercayaan terhadap Tuhan. Selanjutnya, sebelum Renaissance , para ilmuwan barat condong atheis atau bahkan fanatik terhadap agama yang menyebabkan sains dianggap sebagai keyakinan yang menyesatkan. Menurut penelitian Setiawan yang berjudul “Renaissance: Latar Belakang, Sejarah, Sebab, Karakteristik, Tokoh” menjelaskan bahwa para ilmuwan barat pada masa Renaissance percaya bahwa pengalaman, eksperimen, dan rasionalitas manusia adalah dasar kehidupan duniawi, sehingga manusia menjadi pusat alam semesta (Antroposentris). 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar, penelitian tersebut menunjukkan bahwa umumnya mahasiswa millennial sepakat mengenai integrasi Islam dan sains. Hal tersebut terlihat dari jawaban para responden yang secara umum menyiratkan bahwa agama dan sains bisa selaras. Sains dianggap memiliki peran dalam keberlangsungan hidup, bukan hanya sebagai produk yang dihasilkan melalui proses tertentu atau sebagai sesuatu yang alami. Agama dapat mempengaruhi proses dan memperkuat ilmu pengetahuan mengingat fakta bahwa al-Qur’an memberikan banyak petunjuk bagi ilmu pengetahuan. Secara teoretis, penelitian ini menyiratkan bahwa hubungan antara sains dan agama lebih dipersepsikan sebagai integrasi dari pada konflik, independensi, atau dialog. Secara praktis, penelitian tersebut menyiratkan perlunya pengembangan dan penerapan kurikulum yang mengintegrasikan Islam dan sains. Berusaha memperkenalkan konsep integrasi Islam dan sains dalam proses pembelajaran, menyediakan dan memperkaya materi integrasi Islam dan sains melalui diskusi akademik dan publikasi.