(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Resolusi atas Konflik Agama

Riset Agama

Tulisan berjudul “Islamic Moderation as a Resolution of Different Conflicts of Religion” adalah karya Betria Zarpina Yanti dan Doli Waitro. Artikel ini terbit di jurnal Andragogi: Jurnal Dilat Teknis Pendidikan dan Keagamaan pada tahun 2020. Penelitian studi pustaka tersebut menunjukkan bahwa problem berupa kesenjangan ekonomi, budaya, sentiment etnis bahkan agama menjadi sebab munculnya konflik. Solusinya adalah melalui kerjasama dengan prinsip saling pengertian di antara umat beragama (mutual understanding). Artinya, moderasi, keragaman atau kemajemukan yang telah menjadi keniscayaan dapat dimanfaatkan sebagai energi sosial guna meretas problematika bangsa saat ini. Review ini akan mengulas kembali hasil penelitian dari Betria Zarpina dan Doli Waitro dalam tiga sub bab. Pertama, tantangan muslim. Kedua, dinamika pluralitas atas kehidupan komunitas. Ketiga, Islam moderat sebagai resolusi konflik perbedaan keyakinan agama. 

  

Tantangan Muslim 

  

Di dalam menjelaskan alur penelitian, Betria Zarpina dan Doli Waitro memulainya dengan menjelaskan terkait dengan tantangan umat muslim saat ini. Mereka mendiskripsikan dua hal sebagai tantangan bagi umat muslim saat ini, yakni kecenderungan pemahaman agama yang ekstrim dengan menganggap apa keyakinannya sebagai yang paling benar, serta kecenderungan ekstrim terhadap budaya dan peradaban barat (melonggarkan agama). Segala bentuk konflik yang timbul kemudian dikaitkan dengan pendapat Lewis Coser bahwa, konflik tidak selalu memberikan dampak negatif. Lewis Coser menyatakan tiga argumen yang mendasari pendapatnya. Pertama, situasi konflik justru akan meningkatkan kohesi internal kelompok terkait. Kedua, mampu membuat asosiasi baru dan koalisi. Ketiga, konflik dapat membangun keseimbangan kekuatan antar kelompok yang terlibat. 

  

Lebih lanjut Betria Zarpina dan Doli Waitro menjelaskan beberapa faktor penyebab konflik, di antaranya adalah kesenjangan ekonomi, budaya, etnis dan sentimen keagamaan. Faktor ekonomi dan politik adalah dua hal yang paling memainkan peran dominan. Selain itu, kemunculan kasus terorisme dan kekerasan atas nama agama dilatarbelakangi oleh fanatisme agama karena meluasnya gerakan radikalisme Islam. 

  

Dinamika Pluralitas atas Kehidupan Komunitas

Betria Zarpina dan Doli Waitro menjelaskan temuannya melalui pembahasan terkait pluralitas. Mereka beranggapan bahwa pluralitas adalah ekspresi dari keanekaragaman atau seringkali dianggap sebagai dinamika keragaman dalam kehidupan rakyat. Jika dikaitkan dengan perbedaan agama, perbedaan yang ada seringkali diakibatkan karena cara ‘klaim’ kebenaran yang tidak sama. Akibatnya, akan ada anggapan bahwa ‘mereka yang merasa benar’ berhak dan berkewajiban untuk meluruskan orang-orang yang dianggap salah. Hal ini menjelaskan bahwa agama seakan pisau bermata dua karena memiliki kekuatan untuk menciptakan dan membangun perdamaian, namun juga memiliki potensi sebagai sumber konflik karena intoleransi, radikalisme bahkan terorisme.

  

Secara gamblang, peneliti berusaha menjelaskan bahwa konflik adalah bagian dari pluralitas sehingga diperlukan cara yang tepat untuk mengelolanya, sehingga keharmonisan dapat tercipta. Selanjutnya untuk menjaga keharmonisan tidak cukup hanya dengan memahami keragaman di sekitar. Sikap empati, jujur, menghormati, memahami sekaligus menilai agama lain sesuai standar sendiri bukanlah hal yang cukup. Betria Zarpina dan Doli Waitro menambahkan pendapat Alwi Shihab terkait dengan gambaran pluralisme agama. Alwi Shihab menyatakan bahwa pluralisme agama adalah tuntutan terhadap setiap pemeluk agama untuk tidak hanya mengakui keberadaan dan hak orang lain, namun juga terlibat dalam upaya memahami perbedaan dan kesamaan guna mencapai keselarasan dalam keragaman.  

  

Islam Moderat Sebagai Resolusi Konflik Perbedaan Keyakinan Agama

  

Konsep tekait moderasi Islam dijelaskan oleh Betria Zarpina dan Doli Waitro dengan mengutip pendapat beberapa akademisi. Pertama, Al-Qaradhawi menyatakan bahwa Islam moderat identik dengan tawazun, I’tidal, ta’adul dan istiqomah. Kedua, El Fadl menyatakan bahwa terminologi moderat adalah yang paling tepat di antara bahasa lainnya, seperti Islam prograsif maupun Islam reformis. Ketiga, selain membahas Islam moderat, Betria Zarpina dan Doli Waitro menambahkan terkait dengan konsep wasathiyah. Mereka mengutip pendapat Hasan dan Bagir yang menyatakan bahwa wasathiyah sebagai identitas dan karakter utama Islam. Al Qaradhawi menambahkan bahwa wasathiyah memiliki definisi yang luas, seperti keadilan, istiqomah, terpilih dan terbaik, kemanan, kekuatan dan kesatuan. Lawan dari wasathiyah adalah tatarruf yang berarti tendensi, menuju pinggiran, ektrimimisme, radikalisme dan berlebihan. 

  

Islam moderat adala pandangan atau sikap yang selalu mencoba mengambil posisi temgah di antara dua sikap yang berlawanan. Artinya, seorang muslim muderat akan memberikan ‘nilai’ atas sesuatu yang berlawanan dengan porsi yang tepat. Betria Zarpina dan Doli Waitro mengutip pendapat Hilmy terkait dengan karakteristik moderat dalam konteks keislaman di Indonesia. Pertama, ideologi tanpa kekerasan dalam penyebarannya. Kedua, mengadopsi cara kehidupan modern baik dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, demokrasi, HAM dan sejenisnya. Ketiga, menggunakan pemikiran yang rasional. Keempat, pendekatan kontekstual dalam memahami Islam. Kelima, menerapkan ijtihad. 

  

Kesimpulan

  

Artikel yang ditulis oleh Betria Zarpina dan Doli Waitro secara gamblang terkait dengan opsi yang bisa dijadikan sebagai solusi atas konflik yang terjadi. Hasil penelitian tersebut menawarkan bahwa konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan kerjasama antar umat beragama. Melalui moderasi dan keanekaragaman bisa digunakan sebagai ‘energi’ untuk memecahkan masalah. Penyajian hasil penelitian dituliskan dengan tidak begitu runtut, bahkan hasil penelitian seakan sudah bisa terjawab melalui latar belakang. Hal tersebut berdasarkan dengan runtutan beberapa pemikiran yang disajikan. Namun, terlepas dari sedikit kekurangan tersebut, artikel ini semakin memperkuat bahwa Islam moderat adalah solusi bagi konflik keagamaan yang terjadi.