(Sumber : Republika)

Islam Wasatiyyah: Tradisi dan Tantangan Di Asia Tenggara

Riset Budaya

Artikel ini berjudul “Wasatiyyah Islam: Traditions and Challenges in Southeast Asia” merupakan karya Fikri Fahrul Faiz & Muhammad Nida’ Fadlan. Tulisan ini terbit di Studia Islamika tahun 2022. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, akar tradisi Islam wasatiyyah di Asia Tenggara. Ketiga, akomodasi pertemuan Islam wasatiyyah dan budaya lokal. Keempat, tradisi Islam wasatiyyah. Kelima, radikalisme dan terorisme sebagai tantangan Islam wasatiyyah

  

Pendahuluan 

  

Beberapa tahun terakhir, kelompok Islamis transnasional yang intoleran telah ‘menantang’ muslim moderat di Asia Tenggara. Umat Islam di kalangan Asia Tenggara memiliki tradisi yang beragam, termasuk bahasa dan etnis. Namun, mereka mampu hidup berdampingan, bahkan dengan agama lain selama berabad-abad. Artinya, kelompok muslim memberikan kontribusi terhadap stabilitas kawasan di tengah ‘keresahan sosial’ di belahan dunia muslim yang lain terutama di Timur Tengah dan Afrika Barat. Para ulama menggambarkan dan menyebut sifat moderat para muslim di Asia Tenggara sebagai wasathiyyah atau jalan tengah. Ada juga yang menyebut dengan Islam tersenyum (smiling Islam); Islam sipil (civil Islam); dan Islam berbunga (flowery Islam). 

  

Akar Tradisi Islam Wasatiyyah di Asia Tenggara

  

Wasatiyyah (moderat) bukanlah konsep baru dalam Islam, melainkan berakar pada salah satu ayat al-Qur’an yakni “ummatan wasatan”. Menurut Peter G. Riddell, seorang Professor di SOAS Universitas London yang menjelaskan bahwa istilah “ummatan wasatan” dapat diartikan sebagai komunitas jalan tengah yang menjaga dari apa yang ekstrem. Salah satu indikator penting yang membedakan wasatiyyah dan ekstrem adalah bagaimana cara memperlakukan pihak lain, pada ranah ini adalah non-muslim atau pun muslim yang berbeda aliran. Muslim moderat akan condong memiliki kesediaan untuk menghargai dan mendengarkan perbedaan. Mereka akan mengakui persaudaraan seluruh umat manusia tanpa terkecuali. 

  

Menurut Nina Nurmilla, salah seorang Professor Fikih Kontemporer di Universitas Islam Internasional Indonesia, sifat dasar masyarakat di Asia Tenggara adalah multikultural yang memungkinkan mereka menghargai keragaman. Berdasarkan sejarah, Islam disebarkan secara damai melalui akulturasi budaya lokal secara bertahap dan halus tanpa paksaan. Misalnya, di Kudus, Indonesia, umat muslim lebih memilih menyembelih dan mengonsumsi kerbau ketimbang sapi, karena tradisi umat Hindu di sana. Tradisi tersebut masih bertahan hingga saat ini.  

  

Ahmad Najib Burhani, Kepala Institut Ilmu Sosial dan Humaniora (ISSH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa Islam wasatiyyah di Indonesia telah disosialisasikan melalui kebijakan moderasi beragama. Moderasi beragama dapat dimaknai sebagai perpaduan yang seimbang antara akal (aql) dan wahyu (naql) serta antara kelebihan (excessiveness) dan ekstremisme (al-tatarruf). Selain itu, Burhani juga menambahkan bahwa intoleransi muncul sebagai tantangan dalam menegakkan tradisi Islam wasatiyyah di Indonesia. Beberapa kelompok yang berkembang di Indonesia condong memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang mereka anggap benar, sehingga melakukan berbagai cara untuk mewujudkannya. 

  

Akomodasi Pertemuan Islam Wasatiyyah dan Budaya Lokal


Baca Juga : Dilema Sosial-Ekonomi : Dari Trauma Hingga BLT Untuk Pekerja

  

Sebenarnya, muncul satu pertanyaan mengenai Islam wasatiyyah yakni bagaimana Islam melekat dengan masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara yang sangat akomodatif dengan tradisi lokal? Menurut penelitian Imtiyaz Yusuf, seorang Profesor Studi Islam dan Budha di ISTAC-Universitas Islam Internasional Malaysia memaparkan bahwa Islam yang dipraktikkan di Asia Tenggara menunjukkan dan mewakili karakteristik wasatiyyah. Di Indonesia, penelitian Robert W. Hefiner, seorang Profesor Urusan Global di Universitas Boston mengklaim bahwa Islam di Indonesia berbeda dengan kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA). Hal ini disebabkan budaya Islam di Indonesia adalah toleran. Hefiner juga menggarisbawahi bahwa wasatiyyah di Indonesia diterapkan di Indonesia dengan unik dan Istimewa. 

  

Terdapat tiga faktor penting yang mendukung mengapa muslim Indonesia menjunjung tinggi Islam wasatiyyah sebagai tradisi. Pertama, adanya lembaga pendidikan Islam seperti madrasah atau pondok pesantren yang menjadikan pilar infrastruktur terpenting bagi Islam wasatiyyah dengan mengembangkan metode pendidikan yang inovatif. Lembaga pendidikan tersebut membut sistem yang memadukan ilmu dunia dan ilmu agama. Kedua, dukungan dari organisasi Islam arus utama di Indonesia, seperti NU dan Muhammadiyah yang mendukung Islam wasatiyyyah dengan mempromosikan ‘kesejahteraan sosial’ guna kepentingan masyarakat. Ketiga, para pendidik dan aktivis muslim Indonesia telah berhasil mempromosikan demokrasi dan HAM dengan memberikan resonansi etis yang lebih dalam pada konteks Indonesia dan Islam. 

  

Tradisi Islam Wasatiyyah

  

Menurut Siti Ruhaini Dzuhayatin, Penasihat Senior Kantor Eksekutif Presiden Republik Indonesia, berpendapat bahwa Asia Tenggara telah menjadi moderat secara budaya jauh sebelum kawasan lain. Hal ini menjadi dasar akulturasi antara agama dan tradisi lokal. Karakter negara di Asia Tenggara memiliki banyak bentuk, seperti monoetnoreligius seperti Thailand, Kamboja dan Brunei; negara multietnoreligius seperti Indonesia, Filiphina dan Myuanmar, dan konsensus elit budaya-agama yakni Malaysia. Keberagaman tersebut tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling menghormati. 

  

Pada kaitannya dengan tradisi wasatiyyah di Indonesia, kebebasan beragama menjadi salah satu contohnya. Negara hanya mengurus administrasi publik seperti pendidikan, haji, hari raya dan lain sebagainya yang terkait. Ormas berbasis agama tetap independen, sehingga memungkinkan terhindar dari politisasi. Sayangnya, Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan seperti kemunculan populisme etnoreligius yang menuntut sistem politik yang lebih religius dan kecenderungan penyalahgunaan agama untuk keuntungan politik kelompok. 

  

Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014-2019 banyak mengulas mengenai korelasi antara Islam wasatiyyah dengan moderasi beragama. Ia menjelaskan bahwa kedua istilah tersebut memiliki konsep dasar yang sama. Di dalam menjelaskan makna moderasi beragama, Lukman Hakim merujuk pada definisi resmi yang digunakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan pengalaman beragama dalam kehidupan masyarakat dengan mencontohkan hakikat ajaran agama yang melindungi martabat manusia dan memberikan kemaslahatan secara umum. Selain itu, moderasi beragama didasarkan pada prinsip keadilan, keseimabangan dan ketaatan pada konstitusi sebagai kesepakatan nasional. 

  

Di Indonesia, penegarakan moderasi beragama telah masuk dalam Rencana Pembangunan Nasional 2020-2024. Artinya, seluruh kementerian dan lembaga negara memiliki kewajiban untuk melaksanakan program moderasi beragama. Ingat bahwa, Indonesia adalah negara yang religius dan majemuk, meskipun bukan negara agama, masyarakat terikat pada kehidupan beragama dan kebebasannya dijamin oleh konstitusi. 

  

Radikalisme dan Terorisme sebagai Tantangan Islam Wasatiyyah 

  

Bagi Ali Munhanif, Profesor Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta mengklaim bahwa Indonesia adalah contoh unik yang membuktikan bahwa Islam dan multikulturalisme itu sejalan. Buktinya, selama pembentukan negara, para pemimpin muslim di Indonesia menunjukkan sikap inklusif dan moderat dengan mengakui perbedaan masyarakat dalam kemajemukan, namun menolak formalisasi syariat Islam. Alhasil, Islam wasatiyyah di Indonesia tidak luput dari tantangan. Salah satunya adalah radikalisme yang berkembang yakni gerakan dengan tujuan kebangkitan kembali peran sentral Islam. 

  

Lebih lanjut, Noorhadi Hasan, Profesor Islam dan Politik di Universitas Islam Internasional Indonesia menyatakan bahwa ideologi Islamis juga merupakan tantangan bagi Islam wasatiyyah di Indonesia. Ideologi tersebut dikenal dengan karakternya yang kaku dan literal dengan menawarkan kemurnian serta melawan segala sesuatu yang sudah tercemar dengan kekafiran. Kelompok ini juga menawarkan pemberontakan dengan artikulasi ketidakadilan yang provokasi dan mobilisasi. Ia menambahkan bahwa anak muda dengan usia 15-29 tahun adalah yang paling rentan. Mereka akan diiming-iming dengan jaminan masa depan. Selain itu, perkembangan internet memudahkan kelompok radikal dalam melakukan kaderisasi bagi para pemuda. 

  

Eka Srimulyani, Profesor Pendidikan di Universitas Islam Negeri Banda Aceh berpendapat bahwa cara tradisional saja tidak cukup untuk mengatasi tantangan Islam wasatiyyah. Baginya, diperlukan strategi dan inisiatif baru yang dimodifikasi termasuk upaya melalui pendidikan dnegan membangun paradigma untuk menjawab tantangan yang ada. Ia menambahkan bahwa pendidikan multikultural bisa menjadi alternatif. Jika mengutip James Bank, maka diketahui ada lima dimensi pendidikan multikultural yakni integrasi, proses konstruksi pengetahuan, berfikir positif dengan mengurangi prasangka, pedagogi pemerataan serta budaya dan struktur sosial yang memberdayakan. 

  

Kesimpulan 

  

Artikel di atas sebenarnya membuktikan bahwa tradisi Islam wasatiyyah sudah diterapkan sejak lama. Bahkan jika dilihat dari sejarah sekali pun ditemukan bahwa cara penyebaran Islam dilakukan dengan cara-cara damai dan tanpa kekerasan. Jelas bahwa sejak awal perkembangan Islam wasatiyyah terutama di kawasan Asia Tenggara lebih inklusif dan toleran. Meskipun hingga saat ini Islam wasatiyyah memiliki tantangan yang cukup kompleks, namun eksistensinya tidak akan pernah hilang. Tentu saja, penyebaran moderasi beragama dan Islam wasatiyyah bukan hanya tanggung jawab lembaga negara atau Kementerian Agama Republik Indonesia, melainkan tanggung jawab bersama demi membendung ideologi-ideologi yang ingin meruntuhkan NKRI.