(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Slametan Sebagai Tradisi Lokal, Kehormatan dan Simbol Komunikasi

Riset Budaya

Tulisan berjudul “Revisiting the Javanese Muslim Slametan: Islam, Local Tradition, Honor and Symbolic Communication” merupakan karya Mohamad Abdun Nasir. Tulisan ini terbit di Journal of Islamic Studies “Al-Jamiah” tahun 2019. Penelitian Nasir mencoba untuk mengaji kembali “ritus tradisi kematian” muslim Jawa dan mencoba untuk menawarkan interpretasi baru. Selain itu, ia juga mengeksplorasi unsur lokal yang memiliki titik temu dengan ajaran nilai universal dalam Islam serta menunjukkan kesepahaman norma Jawa dengan doktrin dasar Islam. Sehingga, ritus semacam ini mudah diterima oleh orang Jawa. Nasir menginterpretasikan bahwa penghormatan pada leluhur serta komunikasi simbolik antara yang meninggal dan yang hidup, terutama yang “ditanggapi” adalah hal umum dalam nilai kejawaan dan keislaman. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan data yang didapatkan melalui studi literatur. Di dalam resume ini akan dijelaskan tulisan Nasir dalam empat sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, Islam Jawa: sejarah dan kategori. Ketiga, ritual slametan kematian: sinkretisme, komunikasi simbolik dan penghormatan. 

  

Pendahuluan

  

Ketika Islam diperkenalkan ke Jawa, sistem kepercayaan seperti animisme, Budha dan Hindu sudah ada terlebih dahulu. Sebagai gantinya, para pendakwah Islam berusaha mengadopsi beberapa aspek dari sistem keyakinan tersebut, selanjutnya diintegrasikan dalam Islam. Hasilnya adalah tradisi Islam sehari-hari. Misalnya adalah slametan, yakni ritual agama komunal dengan berbagai persembahan makanan yang disajikan kepada “peserta” atau mereka yang mengikutinya. Namun, dalam tingkatan “metaforis”, slametan ditujukan untuk orang mati dan roh leluhur, khususnya di antara masyarakat muslim yang berorientasi pada nilai tradisional Jawa. Bagi orang Jawa yang “lebih” berorientasi Islam, ritual ini sering diganti dengan nama tahlilan. Ritual ini bertujuan untuk mencari berkah dan mendapatkan “kesejahteraan” dalam transisi siklus hidup, seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Selain itu, ritual ini mewakili kompleksitas interaksi antara agama, budaya dan kepercayaan lokal.

  

Slametan memiliki banyak variasi. Setiap slametan memiliki tujuan, pengaturan waktu, dan “ornamen” tertentu yang menunjukkan kekhasan, kekayaan bahkan makna kedalaman ritus. Misalnya, Umat Islam Jawa masih berpegang teguh untuk melakukan slametan sebagai tanda akan dimulainya penanaman padi, di Surabaya. Di Yogyakarta, orang Jawa melakukan ritual “malam tirakatan” yakni terjaga semalaman untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

  

Islam Jawa: Sejarah dan Kategori

  

Di dalam buku Geertz yang berjudul “The Religion of Java” memperkenalkan tiga variasi Islam di Jawa, yakni abangan, santri dan priyayi. Istilah abangan umumnya mengarah kepada orang yang masih mempertahankan tradisi dan nilai-nilai Jawa. Artinya, tidak berorientasi pad Islam. Santri adalah masyarakat Jawa yang memiliki “komitmen” untuk menjalankan syariat Islam. Sedangkan priyayi awalnya mengacu pada orang Jawa asli yang bekerja selama penjajahan Belanda. Kalangan ini berasal dari keluarga feodal dan bangsawan, sehingga diasumsikan mereka yang memiliki posisi sosial yang “bergengsi”. Pembagian religiositas orang Jawa dihasilkan dari proses sejarah Islamisasi yang panjang di Jawa, oleh sembilan orang suci yakni Walisongo pasca jatuhnya Kerajaan Majapahit pada abad-15. Salah satu buktinya adalah literatur keraton Jawa di awal abad-18 yang mempromosikan akulturasi Islam terutama tasawuf. 

  

Tradisi Slametan Mengislamkan Jawa

  

Di Jawa terdapat berbagai macam slametan, baik yang bersifat individu maupun umum. Misalnya, ulang tahun, khitanan, pernikahan, kematian, bahkan mengusir roh jahat dan menghindari kesialan. Contoh slametan lainnya adalah Grebeg Maulud, Grebeg Sawal dan Ruwah Desa atau ritual pembersihan desa. Umat muslim jawa rela menunggu hingga prosesi selesai untuk memperoleh makanan yang tersedia, guna mendapatkan berkah. Oleh sebab itu, slametan bisa dikatakan sebagai spiritualitas yang melandasi hidup muslim Jawa. Hampir tidak ada siklus hidup atau peristiwa penting berlalu tanpa ritual ini. Hingga saat ini, slametan masih menjadi praksis sosial keagamaan yang terjalin dalam aturan sosial. 


Baca Juga : In Memoriam Prof. Dr. Sahid HM, M.Ag., MH

  

Ritual Slametan Kematian: Sinkretisme, Komunikasi Simbolik dan Penghormatan

  

Tradisi atau ritual bagi umat Islam Jawa yang meninggal ditujukan untuk memohon kepada Tuhan guna kepentingan mereka yang telah meninggal. Serta, “memulihkan” komunikasi simbolis antara yang hidup dan mati sebagai bagian dari penghormatan. Di dalam proses ritualnya, terdapat pembacaan ayat Al-Qur’an dan salat sebagai manifestasi dari “ibadah”. Namun, dalam ritual ini, masih terdapat beberapa hal yang dianggap sebagai tradisi sinkretis. Hal yang dianggap “mencolok” pada tradisi sinkretis adalah waktu untuk melakukan tahlilan yang dilakukan beberapa hari berturut-turut. Tradisi ini tampak asing bagi umat Islam secara umum. Sehingga, terdapat proses akulturasi dengan tradisi lokal pada tahap ritual tersebut. Hal yang melanggengkan tanggal slametan adalah sebab tidak dilarang oleh syariah, sehingga “dibiarkan” opsional. Oleh sebab itu, sistem penanggalan ritual ini adalah bagian dari “ciptaan” sejarah yang dihasilkan dari interaksi Isam dengan budaya lokal. Sehingga, menghasilkan akulturasi yang bersifat penafsiran. 

  

Bagi masyarakat yang lebih berorientasi pada nilai-nilai Jawa, salah satu tradisi slametan berupa persembahan makanan untuk arwah, hingga saat ini masih tetap lestari. Mereka akan memberikan persembahan dan menaruhnya di ruang tengah rumah. Mereka percaya bahwa arwah orang yang meninggal terkadang kembali ke rumah untuk mencicipi hidangan yang disediakan. Fakta-fakta di atas menjadi salah satu bukti mengapa orang Jawa “menolak” untuk pindah agama, misalnya menjadi Kristen. Sebab, tidak akan ada lagi slametan dan mengunjungi makam leluhur bahkan sanak keluarga yang sudah meninggal. Selain itu, orang Jawa takut akan perubahan semacam itu,  sehingga mereka akan meninggalkan tradisi ruwatan, muludan dan lain sebagainya. Tidak heran, keberhasilan Walisongo dalam mengislamkan tanah Jawa, sebagian besar tergantung pada metode akulturasi semacam ini. 

  

Perubahan ritual slametan menjadi lebih islami yakni tahlilan, berarti menguatkan ritual Islam di Jawa. Islamisasi ritual Jawa yang bertransformasi menjadi tahlilan tidak lepas dari peran santri sebagai representasi dari pesantren yang banyak tersebar guna membentuk karakter dan religiusitas masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan mayoritas santri adalah pemimpin acara slametan atau tahlilan yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa. 

  

Sedangkan, komunikasi simbolis dalam ritual kematian, terjadi selama proses penguburan. Seorang modin akan masuk ke dalam lubang kubur dan membisikkan ke telinga almarhum, tidak lama setelah jenazah dikuburkan. Hal ini disebut dengan talqin. Setelah ini, di rumah duka akan diadakan tahlilan yang bertujuan untuk menunjukkan rasa hormat terhadap almarhum. 

  

Kesimpulan

  

Ritual slametan merupakan ritual muslim Jawa yang diadopsi dari kepercayaan Jawa kuno sedangkan esensinya jelas islami. Perubahan nama dari slametan menjadi tahlilan bisa dikatakan sebagai bukti meningkatnya pengaruh Islamisasi Jawa. Namun, tahlilan tidak menghapus warisan lokal yang ada. Orang Islam Jawa masih mempertahankan ritual semacam ini, sebab mencerminkan nilai-nilai Jawa dan Islam. Ide dasarnya terletak pada kesamaan atau keselarasan pada nilai Islam dan Jawa mengenai penghormatan terhadap “leluhur”. Hubungan semacam ini harus tetap stabil selama hidup dan secara simbolis “dikomunikasikan” setelah adanya kematian.