(Sumber : okezone muslim)

Dramaturgi Dakwah Millennial

Riset Sosial

Artikel berjudul “Dramaturgi Dakwah Hanan Attaki Pada Komunitas Geng Motor di Bandung” adalah karya Cholil, Nur Syam dan Yasyva Agfa Nizar. Tulisan ini terbit di Jurnal Komunikasi Islam tahun 2022. Penelitian ini berusaha memperdalam kajian inovasi dakwah yang dilakukan Hanan Attaki di Bandung melalui perspektif teori dramaturgi. Data diperoleh melalui studi literatur dengan pendekatan analisa historis dan sosiologis. Terdapat empat sub bab dalam review ini. Pertama, sekilas geng motor Bandung. Kedua, dramaturgi dan kajian dakwah. Ketiga, lebih dekat dengan Hanan Attaki. Keempat, dramaturgi dakwah Hanan Attaki. 

  

Sekilas Geng Motor Bandung

  

Tulisan ini dimulai dengan gambaran geng motor di Bandung dalam film Dilan 1990. Secara garis besar, film tersebut menggambarkan siapa dan bagaimana geng motor itu. Geng motor adalah komunitas yang beranggotakan anak muda dengan hobi yang sama, yakni menyukai motor. Mereka beraktivitas tidak hanya berkumpul di jalan dengan komunitasnya, namun tekadang melakukan balapan liar. Salah satu tujuannya adalah menarik perhatian anak muda lainnya sebagai salah satu strategi menambah anggota baru. Berdasarkan data yang didapatkan, saat ini ada empat geng motor besar di Bandung yang masih berkembang yakni Brigade Seven (Brigez), Moonraker, Grab on Road (GBR), dan Exalt to Coitus (XTC). 

    

Berdasarkan perspektif historis, geng motor terbentuk karena rasa solidaritas para pemuda Bandung yang hobi dan menyukai motor. Sayangnya, geng motor mendapatkan stereotip negatif dari masyarakat. Tentu saja, berkaitan dengan pemberitaan yang beredar mengenai aktivitas buruk geng motor. Misalnya, balapan liar, perusakan infrastruktur, tawuran, dan lain sebagainya. Seiring dengan berkembangnya waktu, pada pertengahan tahun 2015 muncul geng motor yang aktif melakukan dakwah di kalangan anak muda. Aktivitas dakwah ini setidaknya memberikan dua dampak positif. Pertama, perbaikan citra geng motor yang menjadi komunitas atau organisasi masyarakat dalam bidang sosial sekaligus komunitas pecinta otomotif. Kedua, sebagai sarana komunikasi dengan pemerintah, sehingga geng motor menjadi salah satu alat kontrol sosial pemerintah terhadap anak muda di Bandung. Hal ini sejalan dengan dukungan pemerintah yang membangun fasilitas sekaligus infrastruktur yang mendukung komunitas anak muda di Bandung. 

  

Dramaturgi dan Kajian Dakwah

  

Pada artikel tersebut jelas dijelaskan bahwa teori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah dramaturgi miliki Erving Goffman. Dramaturgi menganggap bahwa manusia adalah aktor yang menampilkan segala sesuatu untuk mencapai tujuan dengan melakukan drama. Artinya, identitas seorang manusia atau aktor ketika melakukan aktivitas bisa berubah dengan menyesuaikan dengan siapa ia berinteraksi. Manusia yang ingin melakukan interaksi akan menyuguhkan gambaran diri yang diterima orang lain. Hal tersebut disebut dengan “impression management.”

  

Berdasarkan teori dramaturgi, kehidupan ibarat pertunjukan teater. Interaksi sosial mirip dengan pertunjukan drama yang menampilkan pesan. Ketika manusia sedang memainkan peran, ia akan menggunakan bahasa, perilaku dan atribut tertentu. Goffman menambahkan bahwa kehidupan sosial dibagi menjadi dua wilayah yakni wilayah depan (front region) yang merujuk bahwa individu bergaya dan menampilkan perannya, seta wilayah belakang (back region) yang merujuk tempat dan peristiwa di mana seseorang dapat mempersiapkan perannya di wilayah depan. 

  

Terdapat dua asumsi dasar yang digunakan oleh peneliti. Pertama, panggung yang identik dengan teater. Kedua panggung depan dan belakang, dengan panggung depan akan menuntut individu memainkan peran sesuai dengan fungsinya.


Baca Juga : Kilas Peretasan Media Massa di Era Covid-19

  

Jika dikaitkan dengan kajian dakwah, para penulis merujuk pada tulisa Nur Syam berjudul “Formulating Principles of Islamic Proselytization: A Sociological Contribution.” Di dalam rujukannya tersebut dijelaskan bahwa dramaturgi dalam mengkaji fenomena dakwah dapat meneropong beberapa hal. Pertama, bagaimana seorang pendakwah dapat memerankan banyak peran dalam aktivitas dakwahnya. Kedua, penampilan seorang pendakwah. Hal yang perlu dicatat adalah pendakwah juga manusia yang tentu memainkan drama di wilayah depan dan belakang, sama seperti manusia lainnya. Ketiga, teori ini dapat digunakan untuk memetakan relasi antara kinerja keagamaan dan pemikiran keagamaan individu dalam masyarakat. Keempat, mempelajari pemikiran pendakwah dalam menjalankan aktivitas dakwahnya dengan berbagai metode, media dan pesan yang ingin disampaikan. 

  

Lebih Dekat dengan Hanan Attaki

  

Artikel tersebut mengulas dengan cukup detail biografi dan aktivitas dakwah seorang Hannan Attaki. Terutama, dalam kaitannya dengan geng motor. Berdasarkan penjelasan artikel tersebut dapat diketahui bahwa Hannan Attaki dikenal dengan pendakwah yang memiliki penampilan nyentrik, sebab ia berbeda dengan ustaz pada umumnya. Ia mulai dikenal terutama dikalangan generasi millennial karena dakwahnya dengan bahasa yang kekinian. Selain itu, ia berdakwah dengan pakaian khas anak muda, seperti kaos, kemeja flannel dan topi snapback. Topik dakwah yang ia angkat seringkali berkaitan dengan rezeki, niat, doa, kesabaran, bahkan jodoh. 

  

Salah satu inovasi yang dilakukan oleh Hannan Attaki adalah Gerakan Pemuda Hijrah yang berdiri sejak tahun 2015. Selain itu, ia aktif di media sosial Youtube dengan konten berisi dakwah, vlog traveling bahkan keseharian beliau yang tentu saja diselipkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Kegiatan yang sering kali dilakukan adalah ladies day, ngabuburide, sharing night, voice of youth, shift weekend dan teraz tahfidz. Gerakan ini memiliki tagline berbunyi “Banyak main, banyak manfaat” dan “Banyak pahala, sedikit dosa.”

  

Dramaturgi Dakwah Hanan Attaki

  

Berdasarkan analisis dari para penulis terkait dramaturgi dakwah Hanan Attaki, secara garis besar terbagi dalam tiga sub bab. Pertama panggung depan (front stage) dengan dua bagian yakni front personal sebagai alat pendukung sebagai pembahasan perasaan aktor, serta seting yakni ruang dan tempat yang digunakan ketika aktor memainkan perannya. Pada kaitannya dengan inovasi dakwah Hanan Attaki terlihat bahwa front stage terlihat dari bagaimana ia berpenampilan dan bergaya sesuai dengan mad’u yang dihadapinya, yakni para pemuda kota Bandung. Selain itu, tercermin dari kegiatan yang ia lakukan bersama dengan komunitasnya. Misalnya, ngabuburide yang dilakukan dengan mengendarai sepeda motor bersama beberapa geng motor di Bandung. Tujuannya adalah mengintegrasikan para geng motor di Bandung yang terkadang saling bermusuhan dari satu generasi ke generasi yang lain.  

  

Kedua, panggung belakang (back stage) adalah kegiatan yang banyak ditemukan pada keseharian Ustaz Hanan Attaki. Misalnya, ia yang menyempatkan diri membaca al-Quran sebelum mengantarkan anaknya sekolah. Selain itu, tercermin dalam penampilannya ketika bertemu dengan para geng motor, bukan para jemaah “formal” yang ia temui ketika berdakwah di masjid atau tempat lainnya. 

  

Ketiga, manajemen kesan (Impression Management) yakni aktivitas seseorang agar terlihat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Manajemen kesan yang berusaha ditampilkan Hanan Attaki terutama kepada para geng motor adalah rasa kebersamaan dan persatuan dengan memberikan contoh untuk tidak melakukan tindakan anarkis. Ia mengkampanyekan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, sebagaimana Islam rahmatan lil alamin. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar penelitian tersebut mengangkat topik yang sangat menarik yakni salah satu inovasi dakwah terhadap generasi millennial. Di dalam penulisan penelitian terdapat beberapa hal yang menjadi catatan. Misalnya, dalam kaitannya dengan kepenulisan yakni jumlah kalimat dalam satu paragraf yang masih kurang atau hanya terdapat satu kalimat, inkonsisten penyebutan kata ganti orang antara “dia” dan “beliau”. Selain itu, pisau analisis dramaturgi yang digunakan tidak “mengupas” terlalu dalam, hanya berada pada “kulit” dengan penjelasan yang singkat. Namun, sedikit kekurangan di atas tidak mengurangi menariknya artikel tersebut untuk di baca bahkan menjadi salah satu bahan diskusi yang menambah wawasan. Terutama, dalam  kaitannya dengan perkembangan dakwah saat ini.