(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Peran NU dan Muhammadiyah dalam Mewujudkan Konsep "Islam Wasathiyah"

Riset Sosial

Tulisan berjudul “Konsep Islam Wasathiyah Sebagai Wujud Islam Rahmatan Lil’alamin: Peran NU dan Muhammadiyah dalam Mewujudukan Islam Damai di Indonesia” adalah karya Zainun Wafiqatun Niam. Tulisan ini terbit di journal of Social-Religion Research tahun 2019. Penelitian Niam mengeksplorasi konsep wasathiyah Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan Muhammadiyah dalam mewujudkan Islam yang damai di Indonesia. Niam menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan sumber seperti buku, artikel jurnal dan media massa guna menganalisa konsep Organisasi Islam NU dan Muhammadiyah. Nyatanya, keduanya mengusung konsep yang sama dengan menunjukkan wajah damai Islam yang dapat menyatu dengan perbedaan. Hal ini dibuktikan dengan konsep\nyang di usung oleh NU yakni Islam Nusantara dan Muhammadiyah yakni Islam berkemajuan. Di dalam resume ini akan dijelaskan tulisan Niam dalam enam sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, konsep wasathiyah Islam. Ketiga, kehadiran NU dan Muhammadiyah di Indonesia. Keempat, konsep wasathiyah NU dan Muhammadiyah. Kelima, sinergitas NU dan Muhammadiyah dalam Menjaga persatuan NKRI. Keenam, Islam nusantara dan Islam berkemajuan. 

  

Penduhuluan

  

Kekerasan atas nama agama terjadi di berbagai dunia, termasuk Indonesia. Faktanya, kekerasan yang sering terjadi mengatasnamakan Islam sebagai agama yang mendukung perilaku tak bermoral tersebut. Sayangnya, kekerasan sering kali dipahami bahwa muslim yang menjadi pelakunya. Kesadaran bahwa Islam adalah agama yang damai dan meyakini fenomena kekerasan atas nama Islam adalah paham radikalisme Islam, yang merupakan ciptaan abad-20. Dunia Islam yang terpecah dalam berbagai negara bangsa dan proyek modernisasi yang dicanangkan pemerintah berhaluan barat mengakibatkan ikatan agama dan moral terkikis. Hal ini menyebabkan munculnya gerakan radikal dalam Islam yang menyerukan kembali ajaran Islam murni sebagai “solusi” dalam menghadapi ketakutan hidup.

  

Kehadiran dan wujud Islam di berbagai negara yang mayoritas penduduknya memiliki karakter khas. Islam di Indonesia terkenal sebagai wujud Islam yang moderat dan dapat berbaur dengan agama lain. Kemoderatan Islam di Indonesia tidak lepas dari sikap umat Islam sebagai anggota organisasi keislaman. Organisasi Islam terbesar di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah dengan latar belakang kemunculan yang berbeda. Namun, dalam konsep keislaman keduanya mengaku sebagai wujud Islam Wasathiyah.

  

Konsep Wasathiyah Islam

  

Kata wasathiyah diambil dari istilah wasatha, wustha, yang bermakna tengah, dan menjadi istilah wasith-al-wasith artinya penengah. Kata tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143. Di dalam tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa umat Islam dijadikan sebagai ummatan wasathan, yakni moderat dan teladan. Keberadaan umat Islam dalam posisi pertengahan sesuai dengan posisi Ka’bah. Artinya, dapat dilihat dari semua penjuru dan menjadi teladan bagi semua pihak. Yusuf Al-Qardhawi menyatakan pertengahan sebagai al-tawazun, yakni keseimbangan antara dua jalan atau arah yang saling berhadapan atau bertentangan. Intinya, Islam yang rahmat dan wasathiyah terwujud dalam sikap dan perilaku berislam yang inklusif, humanis dan toleran.

  

Kehadiran NU dan Muhammadiyah di Indonesia


Baca Juga : Aku Masih Seperti Yang Dulu?

  

Kehadiran Muhammadiyah dan NU di Indonesia memiliki latar belakang dan respon yang berbeda dari masyarakat kala itu. Muhammadiyah dihadirkan K.H Ahmad Dahlan di Yogyakarta mengusung purifikasi praktik peribadatan umat Islam Jawa yang kental dengan budaya klenik. Berbeda dengan lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama yang cikal bakalnya berasal dari komite yang mengusulkan kepada Raja Saud di Arab Saudi untuk tidak menghancurkan situs bersejarah umat Islam di Hijaz. Komite Hijaz ini kemudian bermetamorfosis menjadi NU dan memplokamirkan diri sebagai organisasi pelestari tradisi dan nilai luhur budaya bangsa pada 31 Januari 1926.

  

Konsep Wasathiyah NU dan Muhammadiyah

  

Moderatisme Islam yang ditampilkan NU dan Muhammadiyah dapat dilihat dari paham keagamaan yang dianut keduanya. Di bidang teologi, keduanya mengklaim sebagai penganut ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja). Di bidang fikih, NU lebih memilih mazhab Syafi’i, sedangkan Muhammadiyah memilih untuk tidak memihak kepada salah satu mazhab fikih. Di dalam sikap tawasuth, NU dan Muhammdiyah nampak pada pandangan politiknya. Tiga prinsip NU adalah kebijaksanaan, keluwesan, dan moderatisme.  Sedangkan, Muhammadiyah dalam teologi politik tergolong dalam kelompok substantivistik. Pandangan NU\ndan Muhammadiyah terhadap makna jihad juga bersifat moderat. Keduanya mengartikan jihad tidak semata-mata perang, melainkan segala kesungguhan dan kerja keras dalam setiap kebaikan. Termasuk bersungguh-sungguh memerangi kebodohan, kemiskinan, korupsi, dan bentuk kezaliman yang lain. Jihad berbentuk perang dilakukan ketika umat Islam diserang oleh pihak musuh, sebagai tindakan defensif, bukan offensif.

  

Sinergitas NU dan Muhammadiyah dalam Menjaga Persatuan NKRI

  

Peran NU dan Muhammadiyah tidak hanya sebatas kesamaan pandangan mengenai prinsip wasathiyah dalam konteks bernegara. Lebih jauh, NU dan Muhammadiyah memiliki sinergitas menjaga hubungan agama dan negara di Indonesia. Misalnya, sikap keduanya ketika menghadapi tahun politik yakni 2019, keduanya berkomitmen mengawal proses demokrasi.

  

Di dalam setiap sinergitas NU dan Muhammadiyah merupakan upaya penyelamatan bangsa dari ancaman perpecahan. Konsolidasi kebangsaan menjadi semakin penting, karena fakta adanya penurunan rasa dan komitmen kebangsaan termasuk generasi muda. Praktik beragama yang kompatibel dengan konteks Indonesia baik Islam Nusantara ala NU dan Islam berkemajuan ala Muhammadiyah perlu disebarluaskan agar menjadi acuan umat Islam. Oleh sebab itu, Islam yang moderat, progresif, damai dan toleran akan menjadi arus utama.

  

Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan

  

Secara sederhana, Islam Nusantara adalah ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad melalui Al-Qur’an dan hadis yang dipraktikkan di Indonesia. Di dalam konsep Islam Nusantara, keberagaman di Indonesia merupakan sunnatullah yang lama ada dan menimbulkan kekacauan jika terdapat upaya mengubah keragaman tersebut. Sebaliknya, keragaman akan menjadi kekuatan bersama ketika disikapi dengan baik dengan menyatukan kebersamaan dengan satu ideologi yakni Pancasila. Di dalam Islam Nusantara terdapat tiga ruh dan spirit yang\nharus dipertahankan dan dijaga baik-baik. Pertama,toleransi dalam keragaman. Kedua, apresiasi dan penghargaan terhadap tradisi yang baik. Ketiga, elastis dan tidak kaku dalam membaca teks.

  

Di sisi lain, Muhammadiyah mengusung konsep Islam berkemajuan yang berpandangan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mengemban misi dakwah dan tajdid untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhamadiyah meyakini ahwa risalah yang dibawa oleh Nabi Adam A.S dan Muhammad SAW adalah agama yang lengkap dan sempurna. Didalamnya mengandung ajaran perintah dan larangan, namun juga petunjuk untuk keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Selain itu, Islam mengandung nilai kemajuan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang tercerahkan.

  

Kesimpulan

  

NU dan Muhammadiyah telah berupaya menjadikan Islam sebagai agama yang inklusif, humanis dan toleran. Pada dasarnya, konsep yang dibawa oleh keduanya merupakan upaya implementasi “ruh” Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadist serta tidak merusak keberagamaan di Indonesia yang sudah ada sejak Islam belum datang. Lebih jauh, Islam Nusantara NU dan Islam berkemajuan merupakan sarana mewujudkan bentuk Islam yan menjadi panutan bagi seluruh dunia. Islam yang tetap “eksis” dalam dunia modern dan pergolakan zaman tanpa mengesampingkan nilai Islam dan tetap menebarkan kedamaian. NU dan Muhammadiyah telah menampilkan Islam yang wasathiyah dan ramah, yakni menjadi penengah di antara arus kiri dan kanan dalam model keragaman Islam di Indonesia.