(Sumber : warta kebangsaan)

KH. Sonhaji Hasbullah Guru Tarekat Gus Dur : Sosok Sederhana, Khumul Dan Ahli Tirakat

Horizon

Oleh : Nanang Abdillah

Mahasiswa Doktoral S3 UNKAFA

  

Mungkin tak banyak orang tahu, guru mursyid atau guru spiritual KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu berasal dari Kebumen Jawa Tengah. Tepatnya dari Jimbun, sebuah dusun di wilayah Kecamatan Sruweng. Postur tubuhnya kecil, kulitnya bersih, wajahnya cerah memancarkan karisma. Itulah sekilas sosok KH Sonhaji Hasbullah (1916-2008). Sekitar tahun 90-an, selesai mengisi acara haflah akhirissanah di pondok pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik, Gus Dur ditemani KH.Masbuhin Faqih ( pengasuh PP Mambaus Sholihin), KH.Ainur Rofiq dan KH Abdul Ghofar ( semua dari Manyar Gresik) berangkat menuju Jimbun Sruweng Kebumen Jawa Tengah untuk mengambil baiat tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah kepada KH. Sonhaji Hasbullah. KH Sonhaji atau mbah yai Son yang oleh masyarakat sekitar dikenal dengan mbah Jimbun adalah besan dari KH. M. Utsman Al-Ishaqi Jatipurwo Surabaya sekaligus juga sebagai murid tarekat yang telah disempurnakan sampai pada tahap mendapatkan ijazah kemursyidan dan izin dari mbah Utsman Al-Ishaqi. Secara nasab beliau masih keturunan ulama-ulama besar, berdarah biru, yang bersambung ke para sunan (Wali Songo) penyebar Islam di nusantara ini.

  

Kiai Sonhaji mulai diketahui khalayak umum sebagai gurunya Gus Dur adalah setelah pengakuan Gus Dur sendiri saat berlangsung Istighatsah Akbar di Gelora Bung Karno tahun 1997. Barangkali banyak yg bertanya, guru dalam perihal apa?. Bisa kita jelaskan bahwa dalam tradisi Islam, khususnya dalam konteks Nahdlatul Ulama (NU), tarekat merupakan konsep penting untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam pandangan tasawwuf NU, tarekat berfungsi sebagai fondasi spiritual yang mengarahkan pengikutnya untuk mencapai hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan melalui praktek praktek keagamaan dan spiritual terstruktur. Tarekat juga diartikan sebagai metode bimbingan spiritual yang membantu individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Maka KH. Sonhaji adalah guru Gus Dur dalam bidang tarekat dan tasawwuf.

  

Salah satu ajaran kiai Sonhaji yang melekat pada diri Gus Dur adalah kesederhanaan. Tetangga mbah Sonhaji yang menyaksian hal itu menceritakan ia sering melihat Kiai Sonhaji pergi ke pasar Tengok berbelanja sayuran sendiri. Di mata tetangganya itu tentu merupakan pemandangan yg aneh, secara awam memberi kesan istrinya “kebangetan” membiarkan kiai yang sudah sepuh itu “kedangkrakan” ke pasar sendiri. Tetapi itu adalah kemauan beliau sendiri dan tentu beliau mempunyai argumentasi transendental yang orang lain tentu tidak bisa merasakan nilai nilai spiritual yang beliau rasakan.

  

Menjadi seorang mursyid dan juga guru tarekat Gus Dur yang saat itu menjadi presiden, tidak lantas menjadikan KH. Sonhaji jumawa tampil ke publik. Beliau tetap milih untuk berkontemplasi di salah satu mihrab (ruangan khusus) masjid jimbun atau juga di rumah sederhananya sambil istiqomah melaksanakan aktifitas tarekat bersama orang orang yang sabar bersama beliau. Rumah yang beliau tempati, sampai sekarang masih seperti dulu. Orang orang yang berziarah ke makam beliau ketika tahu fisik rumah beliau pasti akan kaget tidak menyangka bahwa rumah sederhana itu pernah menjadi saksi bisu baiatnya ketua umum PBNU dan juga presiden RI KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Rumah beliau jauh dari kesan rumah kiai kiai pada umumnya. Ini tidak bermaksud untuk membandingkan satu sama lain, tetapi itulah horizon KH Sonhaji Hasbullah dalam mengarungi Samudra tasawwufnya. Beliau memilih khumul memilih menjadi orang biasa dan berkumpul dengan orang biasa. Saat kami sowan ke beliau, dengan gaya khas senyuman yang tak pernah pudar juga kalimat kalimat hikmat yang dibalut dengan dalil al Quran, hadis dan maqolah para ulama’, beliau memberikan banyak wejangan. Kalimat yang paling kami ingat di majlis itu dan benar benar membekas di hati adalah dawuh beliau ; “ atos atos kangge poro guru ingkang saking jawa timur, ten meriko niku guru sanget dipun mulyaaken, menawi mboten saget njagi manahe, mangke ndadosaken demen ten kemulyaan’ ( Hati hati para guru yang dari jawa timur, di sana guru itu sangat dimulyakan, kalau tidak bisa menjaga hatinya maka hatinya menjadi cinta pada kemuliaan) kemudian beliau lanjutkan dengan materi tentang tipu daya setan dan hawa nafsu.

  

Setahun sekali, kami selalu mengikuti acara haul yang beliau adakan yaitu haul syekh Abdul Qodir al Jilani dan guru beliau Syekh Muhammad Utsman al Ishaqy. Sangat unik sekali, berbeda dengan acara haul pada umumnya yang menampilkan aksesoris akseoris, dekorasi dan format acara yang tertib dengan bingkai formalitas acara , haul di tempat beliau tidak ditemukan model seperti itu. Tatanan tempat sama dengan ketika tidak ada acara, tidak ada panggung, tidak ada baner, tidak ada dekorasi, sehingga pernah salah satu teman yang baru mengikuti mengatakan “ lho tempat acaranya di mana lho, kok tidak ada apa apa?” saya jawab : ya begini ini, apa adanya, ya di masjid ini. Bagi Sebagian orang mungkin melihat itu sebagai sesuatu yang kurang wajar, tapi bagi yang memahami KH. Sonhaji pasti menemukan satu makna transendental, itulah sisi lain mbah yai Son, begitulah stilenya, begitulah horizonnya. Beliau terbang dengan pandangan ontologi tasawwufnya sendiri tanpa harus terpengaruh oleh sebuah metodologi. Aksiologi tasawwuf beliau tentu menjadi makna terpenting yang bisa ditangkap oleh orang orang yang memahaminya. Kekhumulan beliau tidak bisa terwakili oleh narasi artikel ini, tetapi jejak kekhumulan beliau akan banyak kita ketahui jika kita mendengarkan langsung cerita dari putra putra beliau dan orang orang yang bersabar dengan beliau.

  

KH.Sonhaji sangat kuat tirakat, bukti dari usaha untuk bisa melepas dunia dari jiwa dan hati beliau. KH. Badrun putra mbah yai son menuturkan; ‘ mbah Sonhaji itu pernah puasa tujuh tahun berturut turut, saat itu beliau menghabiskan waktu terbanyaknya di mihrab masjid”. Di saat yang sama beliau juga tetap menjaga hak hak anak anak dan istri beliau, menjadi imam masjid, memimpin beberapa kegiatan tarekat dan membimbing ummat. Artinya, selepas beliau melakukan itu semua beliau masuk mihrab untuk bertawajjuh kepada Rabbnya. Masih kata yai Badrun ; Ada tirakat aneh menurut pandangan umum yang saya tidak mampu menirunya, mbah Son itu kalau malam selalu merendan tubuh beliau (tetap berpakaian) di dalam kolam bak mandi yang ada di mihrab beliau sambil melakukan wirid. Hal itu terkadang berlangsung berjam jam. Itulah ahli tirakat, dalam dunia tasawwuf seorang sufi memang identik dengan sebutan ahli tirakat. Akhir kata, itulah dari KH. Sonhaji Hasbullah, sang patron yang identik dengan kesederhanaan, khumul dan tirakat.