Jauh Sebelum Isu Mental Health Populer, Islam Sudah Bicara Itu Sejak Ribuan Tahun Lalu
InformasiEva Putriya Hasanah
Di tengah munculnya kesadaran global tentang pentingnya kesehatan mental saat ini, banyak orang mengira bahwa perhatian terhadap gangguan jiwa adalah produk modern abad ke-20 atau ke-21. Padahal, jika menengok sejarah, peradaban Islam telah menunjukkan perhatian serius terhadap kesehatan mental lebih dari seribu tahun yang lalu. Salah satu bukti paling kuat adalah berdirinya rumah sakit yang memberikan perawatan khusus bagi pasien gangguan jiwa pada awal abad ke-8 Masehi.
Secara historis, salah satu institusi medis paling awal yang terdokumentasi berdiri pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid I (705–715 M), dari Kekhalifahan Umayyah. Pada tahun 705 M, ia membangun sebuah bimaristan (rumah sakit) di Damaskus. Bimaristan ini bukan sekadar tempat perawatan umum, tetapi juga menyediakan layanan bagi penderita gangguan mental — sesuatu yang sangat maju untuk ukuran zaman tersebut.
Konteks Dunia Saat Itu
Untuk memahami betapa revolusionernya langkah-langkah ini, kita perlu melihat konteks global pada masa itu. Di banyak wilayah lain, gangguan mental sering dipandang sebagai akibat kerasukan roh jahat, kutukan, atau hukuman ilahi. Penderita kerap dikucilkan, dirantai, atau diperlakukan tidak manusiawi. Pendekatan berbasis medis observasi dan perawatan sistematis terhadap gangguan jiwa masih sangat terbatas.
Sebaliknya, dalam peradaban Islam yang sedang berkembang pesat, ilmu pengetahuan justru menjadi pilar penting. Kota-kota seperti Bagdad, Damaskus, dan kemudian Kairo berkembang menjadi pusat ilmu kedokteran, filsafat, dan sains. Konsep rumah sakit umum (bimaristan) menjadi institusi publik yang dibiayai negara dan terbuka untuk berbagai kalangan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial maupun agama.
Konsep Bimaristan dan Perawatan Jiwa
Baca Juga : Islamophobia di Masa Depan
Bimaristan pada masa itu memiliki sistem yang terorganisir. Terdapat ruang rawat inap, apotek, dokter spesialis, serta sistem pencatatan medis. Menariknya, pasien dengan gangguan mental tidak dipisahkan secara tidak manusiawi, melainkan dirawat sebagai bagian dari layanan kesehatan.
Pendekatan yang digunakan mencerminkan pemahaman bahwa gangguan mental adalah kondisi medis yang perlu penanganannya. Beberapa catatan sejarah menunjukkan adanya penggunaan terapi musik, percakapan terapeutik, pengobatan herbal, serta lingkungan yang tenang untuk membantu pemulihan pasien. Hal ini menunjukkan bahwa perawatan tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga aspek psikologis dan emosional.
Pada abad-abad berikutnya, perkembangan ini terus diperbarui dan diperkaya oleh para ilmuwan muslim, seperti Al-Razi (Rhazes) dan Ibnu Sina (Avicenna). Mereka menulis karya medis yang membahas kondisi seperti melankolia (depresi), gangguan kecemasan, dan gangguan psikosomatis. Dalam ensiklopedia kedokterannya, Ibnu Sina menjelaskan hubungan antara kondisi mental dan fisik — konsep yang kini dikenal sebagai psikosomatik.
Landasan Teologis Perhatian terhadap Jiwa
Perhatian terhadap kesehatan mental dalam Islam tidak muncul secara kebetulan. Ia memiliki landasan teologis yang kuat. Islam memandang manusia sebagai kesatuan jasad dan ruh (jiwa). Keseimbangan keduanya penting untuk mencapai kesejahteraan hidup. Prinsip menjaga lima tujuan utama syariat (maqashid syariah) mencakup perlindungan jiwa (hifz al-nafs), yang secara luas dapat dipahami termasuk perlindungan kesehatan mental.
Selain itu, ajaran Islam mendorong kasih sayang, empati, dan keadilan sosial. Merawat orang yang sakit — termasuk sakit secara mental — dipandang sebagai amal kebajikan. Hal ini berbeda dengan stigma yang berkembang di sebagian masyarakat lain pada periode yang sama.
Kontras dengan Isu Kesehatan Mental Saat Ini
Baca Juga : Perempuan Gen Z: Menikah Bukan Tujuan, Kesetaraan Adalah Kebutuhan
Ironisnya, meskipun dunia modern memiliki teknologi medis yang jauh lebih canggih, stigma terhadap kesehatan mental masih bertahan di banyak tempat, termasuk di sebagian komunitas Muslim. Gangguan seperti depresi dan kecemasan terkadang masih disalahpahami sebagai kelemahan iman semata, bukan kondisi medis yang memerlukan bantuan profesional.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam klasik telah mengakui realitas gangguan mental dan membangun institusi untuk menanganinya. Artinya, perhatian terhadap kesehatan mental bukanlah konsep asing dalam tradisi Islam. Justru, ia memiliki akar sejarah yang kuat.
Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan peningkatan signifikan kasus gangguan mental secara global akibat tekanan hidup modern, perubahan sosial, hingga dampak krisis global. Kondisi ini mencakup pendekatan yang komprehensif — medis, sosial, dan spiritual.
Pelajaran bagi Umat Islam Masa Kini
Fakta sejarah tentang berdirinya rumah sakit jiwa pertama oleh seorang khalifah muslim mengandung pesan penting: Islam sejak awal telah mendorong pendekatan rasional dan manusiawi terhadap kesehatan mental. Ini menjadi pengingat bahwa tidak ada pertentangan antara iman dan upaya mencari pertolongan medis.
Umat Islam masa kini dapat mengambil inspirasi dari warisan ini dengan cara:
1. Menghapus stigma terhadap gangguan mental.
2. Mendukung layanan kesehatan mental profesional.
3. Mengintegrasikan nilai spiritual dengan pendekatan ilmiah.
4. Membangun komunitas yang suportif dan empatik.
Berdirinya bimaristan pada masa Al-Walid I di Damaskus bukan sekedar catatan sejarah, melainkan bukti bahwa peradaban Islam telah menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan mental jauh sebelum isu ini menjadi perhatian global. Fakta ini membantah anggapan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental adalah gagasan baru atau produk Barat semata.
Dengan memahami dan menghidupkan kembali semangat ilmiah dan kemanusiaan tersebut, umat Islam dapat berkontribusi secara positif dalam menjawab tantangan kesehatan mental di era modern — meneruskan warisan sejarah yang berakar pada ilmu, empati, dan kepedulian terhadap sesama.

