(Sumber : nursyamcentre.com)

Prof. Nur Syam; PTKIS Harus Berubah Jika Ingin Eksis di Masa Depan

Informasi

Program Pasca Sarjana Institut Agama Islam (IAI) Tribhakti Kediri baru saja menyelenggarakan Webinar, (08/08). Webinar tersebut diprakarsai oleh Dr. Suko Susilo, MSi selaku Direktur Program Pasca Sarjana IAI Tribhakti Kediri. IAI Tribhakti turut mengundang beberapa narasumber, yaitu Prof. Dr. Azis Fahrur Rozi, MA, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Prof. Dr. Nur Syam, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya. Menariknya, Nur Syam mengakhiri perbincangan kali ini dengan menyatakan bahwa sudah semestinya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) merubah tantangan menjadi peluang sekaligus menjadi pemenang bukan pecundang.

 

Tumbuh berkembangnya PTKIS yang kian semakin pesat mengakibatkan persaingan yang semakin ketat. Hal ini sebagaimana disampaikan Nur Syam, ia mengatakan bahwa PTKIS semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Wilayah IV, yaitu Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT terhitung terdapat 150 PTKIS.

 

"Bahkan di dalam satu kabupaten atau kota bisa terdapat tiga sampai empat PTKIS. Makanya, persaingan untuk merebut sumber daya mahasiswa di PTKIS juga sangat ketat," jelasnya kala itu.

 

Kendati demikian, banyak mahasiswa masuk PTKIS bukan karena keinginannya, melainkan karena terdapat beberapa keterbatasan, salah satunya yaitu biaya kuliah hingga akhirnya mengharuskan masuk PTKIS. Seperti halnya disampaikan Nur Syam, ia mengatakan bahwa banyak dari mahasiswa tak berkeinginan untuk melanjutkan kuliah, seperti di luar kota dan kota besar.

 

"Banyak mereka tidak menghendaki untuk kuliah di luar kota atau di kota-kota besar, tetapi sengaja masuk kuliah di daerahnya karena keterbatasan banyak hal, seperti pendanaan, pekerjaan atau area pendidikan," ucapnya.

 

Perubahan Kurikulum Sesuai Tuntutan Zaman

 

Pesantren dan lembaga pendidikan kini menghadapi tantangan yang cukup serius. Hal ini disebabkan karena perubahan sosial yang cepat, yaitu era revolusi industri 4.0. Hingga menutut perubahan sosial di dunia pesantren dan lembaga pendidikan. Seperti halnya disampaikan Nur Syam, ia menyampaikan bahwa jika dahulu pesantren masih mengajarkan ilmu agama berbasis kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan atau wetonan. Maka, pesantren perlu berubah mengadopsi sistem madrasi dengan kurikulum Kementerian Agama.

 

"Lalu harus mengadopsi sistem baru lagi, yaitu sistem pendidikan sekolah dengan mengadaptasi kurikulum Kemendikbud. Semua perubahan ini hakikatnya merupakan respon positif pesantren terhadap perubahan sosial yang terus terjadi," katanya.


Baca Juga : Karya Monumental Masyumi

 

Nur Syam kembali menyampaikan bahwa untuk menghadapi tantangan  revolusi industri 4.0 sudah semestinya PTKIS merespon dengan cepat. PTKIS dapat melakukan perubahan terhadap apa yang dibutuhkan di masa depan. Dengan menyiapkan generasi yang memiliki kapasitas tertentu untuk menyongsong perubahan, yaitu competence, creative, communications and collaboration.

 

"Maka PTKIS harus menjawabnya dengan perubahan kurikulum yang relevan dengan tuntutan perubahan ke depan. Hard skill diperkuat, baik dari sisi teori, metodologi maupun praksisnya, dan tetap mengedepankan wawasan keislaman, wawasan kebangsaan dan penguasaan IT," imbuhnya.

   

Pendidikan Modern-Religius Berbasis IT

 

Sementara, pesantren juga perlu melakukan pembaharuan dan inovasi. Seperti halnya disampaikan Nur Syam, ia mengatakan bahwa pesantren memiliki kewajiban bersama untuk melakukan pembaharuan dan inovasi yang tetap berlandaskan pada nilai-nilai luhur yang sudah berjalan dan menjadi tradisi dengan merujuk pada pedoman keberagamaan yang sudah ada.

   

"Bukankah pesantren memiliki prinsip al muhafadhotu 'ala al qadimish shalih wa al ahdzu bi al jadid al ashlah. Jadi, perubahan itu suatu keniscayaan, melakukan pembaharuan itu kewajiban ijtima'iyyah dan melakukan inovasi itu kewajiban institusional," katanya.

 

Pada kesempatan Webinar, Nur Syam juga menyatakan betapa beruntungnya akibat pandemi Covid-19 yang awalnya sedikit sekali memanfaatkan IT kini telah serba menggunakan IT."Misalnya, webinar hari ini yang dihadiri 117 peserta dari berbagai daerah dan dihadiri narasumber dari Jakarta dan Surabaya, yang  dengan aplikasi Zoom, maka semua tersambung dari tempatnya masing-masing lintas wilayah tersebut," ucapnya.

 

Nur Syam pun kembali menyampaikan bahwa PTKIS ke depannya harus menggunakan IT untuk kepentingan pendidikan. Bahkan, PTKIS perlu mengubah mindset pengelolaan pendidikan dari prinsip pendidikan konvensional ke pendidikan modern-religius. Dengan mengadopsi IT sebagai instrumen pembelajaran dan pelayanan. Sementara, sisi lain PTKIS juga perlu memperkuat networking.

 


Baca Juga : Gus Dur, Natal dan Masa Depan Beragama

"Ke depan, PTKIS harus memperkuat jejaring, misalnya antar PT, perusahaan, organisasi sosial keagamaan dan juga LSM yang bergerak di bidang pengembangan keberagamaan masyarakat dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk menjawab gagasan Kampus Merdeka dan Belajar Merdeka," ujarnya.

 

Adanya Pusat Bahasa Dan Budaya

 

Sementara, PTKIS tetap dapat terus eksis dengan mengedepankan suatu hal yang menjadi pembeda dengan program sejenis. Bahkan, PTKIS perlu menunjukkan suatu hal yang menjadi keunggulan. Nur Syam mengatakan bahwa PTKIS dapat belajar dari kampus-kampus, seperti di Thailand, dengan Pusat Bahasa dan Budaya negara-negara lain, yaitu Pusat Bahasa dan Budaya Jepang, Korea Selatan, Indonesia dan sebagainya.

 

"Bukankah PTKIS yang berbasis pesantren bisa juga membuat Pusat Studi Bahasa dan Budaya Timur Tengah, Pusat Bahasa dan Budaya China, Pusat Bahasa dan Budaya Afrika Utara dan sebagainya. Akhirnya, akan menjadi destinasi atau tujuan belajar bagi masyarakat Indonesia maupun dunia internasional. Makanya, PTKIS harus berubah untuk menjemput masa depan yang lebih baik," ucapnya.

 

PTKIS Memiliki Kekuatan Tetap Eksis

 

Pesantren dan Pendidikan Tinggi Islam secara keberadaanya memang berbeda. Tapi, memiliki basis yang sama yaitu pengembangan ilmu keislaman. Nur Syam pun mengatakan bahwa PTKI yang berbentuk institut, maka memiliki kewenangan untuk pengembangan mandat tambahan yaitu ilmu sosial dan humaniora. Sedangkan, jika bentuknya universitas, maka bisa memiliki wewenang untuk mengembangkan ilmu sains dan teknologi selain ilmu keagamaan, sosial dan humaniora.

 

"Meskipun memiliki ilmu non islamic studies, namun tetap saja lembaga pendidikan di bawah pesantren harus mengedepankan lingkungan pendidikan yang berbasis pesantren, yaitu institusi pendidikan yang mengusung ilmu keislaman, perilaku keberagamaan yang tinggi, mengembangkan wawasan kebangsaan dan mengadopsi kemodernan yang memiliki relevansi dengan kebutuhan di zaman sekarang," imbuhnya.

 

PTKIS tetap memiliki kekuatan untuk tetap terus eksis, terlebih yang berbasis pesantren. Sebab, dari sisi keberagamaan pesantren dan PTKIS memiliki kesamaan. Demikian Nur Syam menilai bahwa PTKIS memiliki beberapa kekuatan. Adapun kekuatan yang dimiliki, yaitu pengetahuan, keyakinan, ritual, konsekuensi, dan pengalaman beragama yang sama antara pesantren dan PTKIS.

 

"Dari sisi keyakinan beragama pastilah mereka memiliki paham keyakinan beragama berbasis konsep ahlu sunnah wal jamaah, demikian pula pada dimensi pengetahuan, dan ritual beragama. Di dalam konteks konsekuensi beragama juga pasti berpaham Islam wasathiyah. Kala menafsirkan jihad, pasti bukan jihad dalam konteks perang offensive, tetapi jihad sebagai upaya sungguh-sungguh dalam menjalankan visi dan misi kehidupan, berbasis pada keluhuran ajaran Islam," tuturnya.

 

Pesantren memiliki kekuatan tersendiri yakni rasa kepemilikan. Alumni pesantren memiliki rasa memiliki dan bangga telah menempuh studi di pesantren. Nur Syam pun mengatakan, alumni pesantren menjadi kekuatan khusus yang demikian menjadi peluang bagi PTKIS untuk menuai dukungan dan sumber daya manusia.

 

"Selama ini, keterikatan alumni pesantren dengan kyai  itu masih melekat dengan kuat. Bahkan, apa yang dinyatakan oleh kyai masih menjadi pedoman dalam menempuh kehidupan. Kyai memiliki peran polymorphic bagi para santri dan alumninya," ujarnya.

 

Sementara, pesantren adalah institusi sosial yang stabil. Sebab, pesantren memiliki kekuatan bertahan, baik dari arus modernisasi dan hal yang ada di luarnya. Seperti halnya yang disampaikan Nur Syam, ia menyampaikan bahwa Kyai dapat menjadi kekuatan penyeimbang sekaligus mediator bagi setiap perubahan yang datang dari luar pesantren.

 

"Pesantren tidak mudah berubah dan tidak mudah goncang hanya karena serbuan modernisasi dan faktor eksternal lainnya," pungkasnya.