(Sumber : nursyamcentre.com)

Raih Predikat Memuaskan, Durhan Menghasilkan Temuan Produk Pendidikan

Informasi

Saat di tengah wabah pandemi Covid-19, Durhan mahasiswa S3 asal kota Sumenep dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan Program Doktoral Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Ampel Surabaya. Dengan merampungkan disertasi yang berjudul 'Pengembangan Model Pembelajaran AD-PREDIC (Ask, Do, Presentation, Discussion, dan Communication) Untuk Meningkatkan Aktivitas Pembelajaran Pada Mata Kuliah Fikih Ibadah Di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep Madura. Ia pun telah  selesai melakukan Ujian Disertasi Terbuka Via Zoom, (28/20).

 

Dalam Ujian Disertasi Terbuka tersebut, Durhan mendapat komposisi penguji, yaitu Prof. Dr. H. Aswadi, M.Ag sebagai ketua penguji dan Dr. Hj. Hanun Asrohah, M.Ag sebagai sekretaris penguji. Demikian yang menjadi promotor dalam Ujian Disertasi Terbuka, yaitu Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Z, M.Ag dan Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag.  Sementara, Prof. Dr. H. Ahmad Pathoni, M.Ag IAIN Tulungagung sebagai penguji utama. Sedang, Dr. H. Asep Saepullah Hamdani, M.Ag dan H. Mokhammad Saefuddin, M.Ed, Ph.D juga sebagai penguji.

 

Model Pembelajaran AD-PREDIC

 

Dilansir kabarmadura.id, (28/20), hasil disertasi Durhan  dianggap layak untuk diterapkan dalam dunia pendidikan. Seperti halnya disampaikan Durhan, hasil disertasinya, yaitu model pembelajaran AD-PREDIC (Ask, Do, Presentation, Discussion, dan Communication). Sementara, juga disampaikannya bahwa metodologi yang digunakan, yaitu berupa penyebaran angket, observasi, dan wawancara.

 

"Lebih banyak saya melakukan penyebaran angket, observasi, dan wawancara saat uji coba. Sedangkan, penyebaran angket ini bertujuan untuk mengetahui sampai dimana efektivitas model pembelajaran," ucapnya.

 

Dalam disertasinya juga dijelaskan bahwa yang menjadi fokus pembahasan, yaitu prosedur pengembangan model pembelajaran, implementasi model pembelajaran, dan efektivitas model pembelajaran. Disertasi ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu bisa membangun kerja sama tim, melatih komunikasi, dan sangat solutif dalam mengatasi masalah. Sementara, dalam kajian teoretiknya, ia menggunakan dua teori, yaitu teori modern dan teori klasik.

 

Teori modern yang digunakan oleh Durhan dalam kajian teoretik, yaitu teori konstruktivistik, teori belajar joyce and weil, dan teori pemprosesan informasi Robert Gagne. Seperti halnya disampaikan Durhan, ia menjelaskan bahwa teori modern disebutnya sebagai teori pembelajaran. Sementara, teori klasik disebutnya sebagai teori belajar, meliputi model pembelajaran AD-PREDIC (Ask, Do, Presentation, Discussion, dan Communication).

 

"Teori Ask ini yang saya gunakan adalah Ask devergen dan konvergen. Kemudian, teori Do yang saya gunakan adalah teori Do Al-Amin dan Al-qawi. Demikian Presentation disini, saya menggunakan teori demonstrasi dan presentatif. Lalu, discussion adalah model Buzz group, sedang Communication yang dikembangkan adalah komunikasi dua arah dan teori David K Berlo," jelasnya saat diwawancara oleh crew Nur Syam Centre, (30/07).


Baca Juga : Penerimaan Muhammadiyah terhadap Neo-Sufisme

 

Akhirnya perpaduan antara teori pembelajaran dan teori belajar, maka menghasilkan sebuah teori baru, yaitu model pembelajaran AD-PREDIC. Demikian disampaikan Durhan, ia mengatakan bahwa model pembelajaran AD-PREDIC nantinya dapat menjadi bagian kontribusi positif dalam dunia pendidikan.

 

Menjadikan Diskusi Sebagai Langkah-Langkah Pembelajaran

 

Adapun penerapan model pembelajaran AD-PREDIC, yaitu pertama, dosen menyusun SAP yang akan diajarkan kepada mahasiswa. Lalu, saat sudah masuk kelas, dosen menyampaikan materi-materi pokok pembelajaran. Kedua, dosen membentuk kelompok kecil yang terdiri dari tiga sampai lima mahasiswa dalam satu kelompok. Setelah itu, maka model pembelajaran AD-PREDIC dapat diterapkan. Langkah pertama yang dapat dilakukan, yaitu 'Ask'. Durhan mengatakan bahwa penerapan 'Ask', yaitu dosen memberikan beberapa permasalahan kepada masing-masing kelompok yang telah dibentuk. Lalu, masing-masing kelompok mencari jawaban dan solusi atas permasalahan tersebut.

 

"Ask itu dilaksanakan dengan memberikan permasalahan kepada masing-masing kelompok yang mengacu kepada capaian perkuliahan. Misal, capain terdapat lima, maka di dalam kelas dibentuk lima kelompok. Sementara, setiap masing-masing kelompok itu diberikan masing-masing pertanyaan yang berbeda-berbeda sesuai dengan capain perkuliahan," jelasnya.

 

Setelah dilakukan 'Ask', lalu berlanjut pada penerapan langkah pembelajaran yang kedua, yaitu 'Do'. Durhan menyampaikan bahwa penerapan 'Do' yaitu mahasiswa mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan oleh dosen sesuai dengan kelompok masing-masing. Sedang, mahasiswa diperkenankan untuk memanfaatkan teknologi, yaitu android. Android tersebut dapat digunakan mahasiswa untuk melacak dan mencari solusi dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh dosen.

 

"Modelnya tugas tersebut tidak kerja per kelompok. Akan tetapi, kerja individu. Kemudian, hasil dari individu tersebut dikumpulkan dan disatukan menjadi hasil satu kelompok. Nantinya kelompok tersebut mengambil kesimpulan bersama. Akhirnya, disanalah kemudian terjadi diskusi kecil di kelompok atas hasil lacakan masing-masing individu ," ucapnya.

 

Akhirnya setelah 'Do', langkah pembelajaran selanjutnya, yaitu 'Presentation'. Durhan mengatakan bahwa 'Presentation' nantinya dapat dilakukan oleh masing-masing kelompok. Sementara, masing-masing kelompok hanya dapat memilih satu orang untuk mempresentasi hasil kesimpulan di depan kelas."Jadi cuma satu orang yang jadi juru bicaranya bukan semua orang. Tetapi, tetap harus aktif mengikuti presentasi," ujarnya.

 


Baca Juga : Pluralisme Hukum di Indonesia: Antara Islam dan Adat

Lalu, langkah pembelajaran selanjutnya, yaitu 'Discussion'. Dalam hal diskusi, Durhan mengatakan bahwa mahasiswa hendak melakukan diskusi atas hasil pencarian solusi berdasar android. Selain itu, masing-masing individu diharap mempertahankan setiap hasil pencariannya. "Maka, setiap masing-masing individu harus aktif," ungkapnya.

 

Langkah pembelajaran yang terakhir, yaitu 'Communication', Durhan menyampaikan bahwa dalam komunikasi, dosen dan mahasiswa sebisa mungkin menarik benang merah dari hasil pembelajaran. "Jadi sepintas model pembelajaran seperti diskusi karena memang model pembelajaran ini dikembangkan dari metode diskusi. Jadi, kalau awalnya diskusi adalah metode dalam pembelajaran. Dalam model pembelajaran AD-PREDIC, maka diskusi adalah langkah-langkah pembelajaran," imbuhnya.

 

Tenaga yang Ekstra Dan Perjuangan yang Keras

 

Kendati demikian, sebelum akhirnya Durhan meraih gelar Doktor di UIN Sunan Ampel, ia melewati beberapa perjalanan kehidupan yang tak mudah. Seperti halnya yang disampaikan Durhan, ia mengatakan bahwa semasa menempuh studi S3 di UIN Sunan Ampel, terlebih saat menyelesaikan disertasinya membutuhkan tenaga yang ekstra dan perjuangan yang keras.

 

Durhan adalah seorang yang terlahir sebagai anak desa yang bertempat tinggal di pegunungan. Ia berhasil menggarap disertasi sebelum pandemi. Saat pertama kali melakukan bimbingan, ia sudah merasakan beban yang cukup berat untuk mengerjakan disertasi. Salah satunya karena jarak tempuh dari rumah menuju kampus terbilang cukup jauh. Hingga akhirnya mengharuskan Durhan berangkat dini hari dan pulang malam hari. Sementara, dari rumah kota Sumenep untuk sampai di kampus, ia menggunakan sepeda motor. Namun, jika tidak didapatkannya sepeda motor, ia pun naik bus antar provinsi.

 

"Kalo tidak ada sepeda, iya saya jalan kaki dari rumah ke jalan provinsi. Turun gunung kurang lebih 2,5 km. Akhirnya sampai di jalan provinsi sekitar pukul 1. Kemudian, saya menunggu bus antar provinsi," ucapnya pada crew Nur Syam Centre, (30/07/).

 

Setelah tiba di Surabaya, ia langsung bimbingan dengan dosen dalam waktu yang singkat. Lalu, tak lama ia langsung bertolak kembali ke kota tempatnya tinggal. Sebab, ia harus mengajar ngaji para santri di pondok.

 

Sementara, saat Durhan harus membawa sepeda motor berbagai rintangan dan tantangan menghampirinya. Bahkan, hujan dan badai pun tak memudarkan tekadnya untuk terus menyelesaikan studi S3. "Iya kalo membawa sepeda motor, iya kepanasan dan kedinginan sudah biasa. Kemudian merasakan banjir di pasar Blega juga sudah pernah dirasakan. Bahkan, nyetir sambil tidur juga pernah dirasakan. Selain itu, kena tilang juga sudah pernah dirasakan," tuturnya.

 

Tak cukup sampai disana, Durhan pun juga mengalami masa yang sulit saat semua sistem pembelajaran dan administrasi telah dilakukan secara daring sebab pandemi. Seperti yang disampaikan Durhan, ia mengatakan bahwa saat tahap verifikasi, dirinya mengalami kesusahan sinyal untuk verifikasi.

 

"Kemudian, saya mencari sinyal sejauh 7 km. Alhamdulillah waktu verifikasi bolak-balik cari tempat. Akhirnya saya bertemu dengan teman yang kemudian membawa saya ke kota Pamekasan. Akhirnya saya melakukan verifikasi di kantor PNS di kota Pamekasan yang tersedia fasilitas Wifi," pungkasnya. (Nin)