(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke 80: Antara Muhlis dan Muhlas (Bagian Enam)

Opini

Dalam hal membikin acara yang luar biasa,  Kementerian Agama adalah jagonya. Dalam beberapa even yang melibatkan Menteri, para pejabat dan ASN Kemenag dan undangan tokoh-tokoh agama di Indonesia, saya menyaksikan sebuah pagelaran acara yang full menggunakan teknologi digital dalam prosesinya. Acara yang dihelat dalam Tasyakuran Hari Amal Bhakti Kementerian Agama (HAB) ke 80 juga dipagelarkan kehebatan back drop dan sajian lain yang memanjakan mata (05/01/2026).

  

Acara ini dihadiri oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.,  Menag, Dr. KH. Romo R. Muhammad  Syafi’i, Wakil Menteri Agama, segenap pejabat Kemenag, para Eselon I dan II, Penasehat Ahli Menag, Staf Ahli, Staf Khusus, dan Tenaga Ahli Kemenag, tokoh Agama Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, Konghucu dan Islam, serta  pimpinan organisasi Islam dan juga para ASN Kemenag. 

  

Di dalam pengantar tasyakuran, Prof. Kamaruddin Amin, Sekjen Kemenag, menyatakan bahwa di dalam upacara tasyakuran 80 tahun Kemenag,  para ASN Kemenag patut bergembira dan bersyukur karena banyak sekali penghargaan yang berhasil diperoleh oleh Kemenag. Di antara capaian yang mendasar adalah peningkatan kerukunan umat beragama, kualitas Pendidikan Islam dan agama lain yang semakin meningkat dan juga pelayanan Kemenag berdampak yang semakin dirasakan oleh umat.

   

Artikel ini  menyajikan pandangan dan arahan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., Menag,  tentang makna tasyakuran HAB ke 80  bagi ASN Kemenag. Ada tiga hal yang saya jelaskan sebagaimana pidato Menag, yaitu: pertama, jadilah kita orang yang bersyukur karena kita tahu harus bersyukur. Kita harus bersyukur atas kesempatan kita untuk menjadi ASN Kemenag, yang tentu berbeda dalam penilaian public atas tugas pokok dan fungsi Kementerian lain. Kemenag itu memanggul tugas tidak hanya sebagaimana  ASN lain dari  Kementerian lain yang tugasnya hanya bersifat duniawi, akan tetapi ASN Kemenag memanggul tugas menjaga moral bangsa. Jika Kementerian lain cukup bekerja untuk memenuhi tupoksinya saja sesuai dengan apa yang diwajibkan, akan  tetapi ASN Kemenag harus bekerja selama 24 jam. Itulah yang diharapkan oleh public tentang peran Kemenag. ASN Kemenag itu tidak sekedar memenuhi tupoksi,  akan tetapi melayani dengan berdampak. Jadi ukurannya secara kuantitatif dan bukan kualitatif tentang apa yang menjadi dampak positif atas kehadiran Kemenag dengan ASN-nya. Gambaran background Kemenag itu seperti kain putih, bukan coklat, merah atau lainnya. Warna putih itu dapat ditulis apa saja di dalamnya. Dan yang menulis di kain putih tersebut adalah ASN Kemenag. Jadi kitalah yang menulis apakah Kemenag itu menjadi baik atau bukan.

  

Kedua, tema Peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke 80 adalah “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Maju.” Dari tema ini dapat dipahami bahwa yang dibutuhkan bukan sekedar kerjasama akan tetapi sinergi. Jika kerjasama hanya ukuran duniawi, akan tetapi sinergi lebih dari urusan duniawi. Di dalam sinergi itu melibatkan agama yang di dalamnya momot tentang spirit Theos, logos dan ethos. Jadi sinerginya memiliki corak spiritualitas. Yaitu bagaimana menerjemahkan theos atau dimensi ketuhahan di dalam penafsiran ilmu dan kemudian bagaimana menjadi ethos atau semangat di dalam kehidupan. Jadi di dalam birokrasi ada dimensi theos atau spiritualitas birokrasi, ada tafsir atas spiritualitas birokrasi dan bagaimana ethos atau semangat bekerja dalam birokrasi. 

   

Selain itu ada tantangan kolaborasi yang tidak boleh dilupakan, yaitu bagaimana membangun kerjasama plus dengan Kementerian lain. Kita tidak bisa bekerja sendiri akan tetapi  harus melibatkan Kementerian lain. Misalnya di saat kita mengembangkan kurikulum ekoteologi, tidak mungkin kita akan mengerjakannya sendiri karena ada Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian dan lainnya. Jadi kita harus melakukan sinergi yang di dalamnya terdapat dimensi spiritualitas. Menghias lingkungan hidup dengan spiritualitas. 

   

Tantangan lainnya adalah teknologi informasi yang wujudnya adalah artificial intelligent (AI). Sebagai ASN, aparat Kemenag harus menjadikan AI sebagai mitra dan bukan menggantikan peran manusia. Perkembangan AI yang sedemikian cepat tidak bisa dilawan. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah menjadikan AI untuk menjawab persoalan pekerjaan dengan memanfaatkannya sebagai instrument bekerja. 

  

Ketiga, jadilah orang yang mukhlas dan bukan sekedar mukhlis. Mukhlis adalah usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mencapai maqam mukhlas. Sedangkan mukhlas itu bisa dimaknai sebagai pemberian Tuhan untuk seseorang yang dipilihnya untuk menjadi orang yang Ikhlas atas semua yang diberikan Tuhan. Orang yang mukhlas itu merupakan orang yang dapat memperkuat rasa ketuhanan dan rasa kemanusiaan. Hal ini relevan dengan motto Kemenag: “Ikhlas beramal”. Yakni orang yang bekerja dengan bingkai spiritualitas yang tinggi dengan menempatkan usaha dan doa sebagai pirantinya. Seseorang harus  memiliki basis spiritualitas dalam bekerja untuk mencapai kinerja lebih baik. Orang yang mukhlas itu mencapai kinerja yang melebihi tupoksinya. Tidak hanya berupaya atau berusaha akan tetapi juga berdoa. Orang yang tidak mau berdoa itu orang yang sombong merasa bahwa usahanya yang optimal dipastikan akan menghasilkan produk yang optimal, padahal kenyataannya selalu ada factor yang bisa menghambat pencapaiannya.  

  

Orang yang mukhlas itu di dalam bekerja dipandu oleh spiritual direction. Jadi bekerja itu untuk memperoleh ridhanya Allah. Ada tujuan tertinggi di dalam bekerja bukan sekedar untuk mencapai atau memenuhi tupoksi. Harus  dikaitkan  bahwa bekerja adalah ibadah kepada Allah. 

  

Sebagai ASN Kemenag, maka kita semua harus bekerja dengan etos yang dipandu oleh logos dan berbasis pada theos. Intinya adalah bekerja dengan spiritualitas. Inti terdalam dari bekerja adalah untuk memaksimalkan spiritualitas. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.