(Sumber : Pustaka Keris)

Metafisika Keris

Opini

Saya merasa senang dapat membaca Majalah “LIONAIR GROUP” yang saya baca pada saat ke Jakarta, 02/05/2026 dengan maskapai Batik, sebuah maskapai yang bernaung dalam Manajemen Lion Group, milik Rusdi Kirana, anggota Legislatif dari Fraksi PKB. Saya ke Jakarta dalam acara fit and proper test calon Rektor atau carek UIN Sunan Ampel Surabaya. Ketepatan pagi itu, meski tidak janjian, maka ada beberapa carek yang bersama-sama. Prof. Rubaidi, Prof. Muhibbin, Prof. Masdar, Prof. Nurkholis,  dan Prof. Sri Warjiati. 

  

Saya terkadang memang membaca Majalah dari Maskapai Penerbangan. Kali ini ada yang menarik untuk dibaca atas konten majalah Lionair Group yang berjudul “Keris.” Tentu saya langsung terpikat, sebab keris merupakan kekayaan budaya yang sudah mendapatkan pengakuan dari Badan Dunia, UNESCO, tahun 2005. Sebuah pengakuan yang sangat monumental bahwa karya anak bangsa tersebut mendapatkan pengakuan internasional dari Badan Dunia yang sangat otoritatif. 

  

Keris, tentu sudah sangat dikenal oleh Masyarakat Indonesia. Meskipun yang paling dominan di Jawa, akan tetapi produk budaya ini terdapat di seluruh Masyarakat Indonesia. Mungkin namanya yang berbeda. Bahkan di Malaysia benda ini sangat dikenal. Maklum banyak penduduk Malaysia yang aslinya berasal dari Jawa. Bahkan banyak keturunan orang Jawa yang menjadi pejabat di Malaysia, baik di dunia birokrasi maupun pendidikan. Mereka masih bisa mengenang asal usulnya. Di UTM, misalnya ada beberapa dosen dan pejabat PT yang memiliki latar belakang orang-orang Jawa. 

  

Keris terdiri dari besi yang dipanaskan dalam kapasitas tertentu dan kemudian dibentuk sesuai dengan kemampuan para pembuatnya. Di Jawa disebut sebagai empu. Orang yang memiliki keahlian khusus untuk membuat keris. Ada nama-nama beken dalam urusan keris, misalnya Empu Supo, ahli keris dari tlatah Tuban. Empu Supa berasal dari Banyuwangi, dan menikah dengan Dewi Rasawulan, adik Kanjeng Eyang Sunan Kalijaga. Makam Empu Supa masih bisa dilacak di Kawasan Rengel Tuban.  Empu Supa pembuat Keris Sengkelat, yang menjadi keris Kerajaan Mataram. Makamnya juga diziarahi oleh para pengagumnya (Nur Syam, jejak Penyebar Islam di Tuban, 2023).

  

Ada nama lagi yang sangat fenomenal adalah Empu Gandring. Sebuah nama yang menggetarkan dalam Sejarah Kerajaan di Jawa. Khususnya Kerajaan Tumapel dan Singasari. Empu gandring, sebenarnya bukan hanya pembuat keris saja tetapi disebut sebagai perusahaan persenjataan. Empu Gandring menjadi tempat para pejabat pemerintahan di jaman Tumapel untuk membuat senjata dalam mempertahankan negara dan perang melawan negara lainnya. Cerita tentang Empu Gandring sangat massive dipahami oleh Masyarakat Nusantara. (Pramoedya Ananta Toer, Arok Dedes, 2005). 

  

Cerita Empu Gandring menjadi sangat terkenal karena akibat dari pembuatnya yang sangat kontroversial. Di dalam cerita rakyat digambarkan bahwa yang memesan keris tersebut adalah Ken Arok, seorang berandal, yang sangat terkenal. Dan mendengar namanya saja, orang sudah merasa keder. Sakti dan pemberani. Sesuai perjanjiannya, bahwa keris tersebut dapat diselesaikan pada waktunya, akan tetapi karena keinginan agar keris tersebut sangat sakti, maka memerlukan waktu yang lebih lama. 

  

Kala Ken Arok datang, maka keris belum selesai, dan marahlah Ken Arok. Pusaka tersebut dapat direbutnya, dan di dalam perebutan itu, maka Empu Gandring wafat. Di sinilah dunia mitos itu mulai bermain. Dikisahkan bahwa setelah wafat,  Empu Gandring bersupata atau bersumpah, bahwa keris tersebut akan membunuh tujuh orang berikutnya. Akhirnya, yang terkena kutukan Keris Empu Gandring adalah Empu Gandring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Ki Pengalasan, Anusapati, dan Tohjaya. 

  

Di antara keris-keris yang sangat terkenal adalah Keris Kalamunyeng, yang menjadi ageman atau pegangan Kanjeng Sunan Giri. Keris Kalamunyeng merupakan keris yang melambangkan tentang kekuatan pena atau kalam Kanjeng Sunan Giri. Keris Nagasasra Sabuk Inten adalah pusaka peninggalan Kerajaan Majapahit yang diyakini memiliki symbol kekuatan, keagungan dan perlindungan spiritual. Tombak Kyai Plered juga keris yang ampuh. Keris ini dikaitkan dengan Kanjeng Sultan Panembahan Senopati. Keris ini menjadi andalan Kanjeng Senopati dalam menguasai Kerajaan Mataram. Lalu ada keris Setan Kober yang diasosiakan dengan Ario Penangsang. Keris ini digunakan oleh Aria Penangsang dalam melawan Kanjeng Senopati. Sayang di dalam pertarungan ini, Aria Penangsang kalah karena strategi jitu Kanjeng Senopati. 

  

Masih sangat banyak keris yang memiliki tuah yang luar biasa, dan di antaranya adalah  menghasilkan mitos di tengah masyarakat. Bagaimana mitos dapat bekerja. Bagi kaum pengkaji fisikal yang rasional dan empiris, maka tentu tidak dapat meyakini  dunia mitos yang irrasional dan immaterial atau nonfisikal. Bagi mereka kaum positivistic, maka keris tidak lebih dari benda biasa, seperti sabit, parang, golok dan sebagainya. Tidak ada sedikitpun kekeramatan atau kekuatan atau kehebatannya. Sebagaimana benda biasa keris itu dibesar-besarkan kekuatan atau kekeramatannya. 

  

Bahkan dengan nada “mengejek” bahwa mengeramatkan keris adalah tindakan mempercayai dinamisme atau meyakini keris sebagai benda gaib. Hal yang tidak bisa dibuktikan secara empiris. Jika benda itu melukai orang karena tusukan atau sabetan, maka hal tersebut merupakan sifat benda tajam yang memang bisa membahayakan. Bukan karena kekeramatannya akan tetapi karena watak dasarnya.

  

Di sinilah perlu kerja untuk memahami bahwa dibalik yang fisik ada yang metafisik dan ada yang empiris lalu ada yang metaempiris. Bagi orang yang memahami dunia metaempiris atau metafisik, maka keris bukanlah sembarang benda. Untuk menciptakannya dibutuhkan berbagai macam upacara ritual. Bisa melalui puasa dengan berbagai variannya, atau dengan melakukan semedi atau uzlah dalam ruang khusus untuk mendapatkan kekuatan gaib, yang memang diyakini keberadaannya.   

Memang tidak semua orang bisa memahami “bahasa” kegaiban. Tidak semua orang mampu mengetahui dan memahami yang metaempiris atau metafisik. Orang harus masuk ke dalam ruang “kosong” dan kemudian masuk ke dalam ruang metafisik. Bukankah di dalam tradisi Jawa terdapat keyakinan tentang puasa yang bervariasi. Ada puasa ngebleng, puasa pati geni, puasa ngrowot, dan lain-lainnya. 

  

Mungkin kita tidak percaya bahwa ada orang yang selama dua tahun tidur di atas pohon dan hidup dari hutan ke hutan. Tidak makan kecuali diberi makan oleh orang lain. Berpuasa dan menghafal Al-Qur’an. Dan orang tersebut kemudian menjadi kyai yang hebat. Dan ada seorang doctor, dosen UINSA, yang rumahnya menjadi gudang keris, karena keris datang sendiri ke rumahnya. Tidak rasional, tetapi inilah dunia metarasional yang ternyata empiris bagi orang-orang tertentu. 

  

Jadi jangan kita terjebak pada pandangan sebagaimana orang secular, yang hanya melihat sesuatu dari aspek materi saja, sebab selain ada materi ternyata ada immateri, selain ada yang bercorak fisikal ternyata ada yang metafisikal dan yang empiris ternyata ada yang metaempiris. Dan keyakinan bahwa keris memiliki nilai metafisika tentu bisa benar sesuai dengan keyakinan yang memang nyata adanya.

Wallahu a’lam bi al shawab.