Perjalanan umrah: Ibadah Mulia di Tanah Suci (Bagian Ketiga)
OpiniMeskipun orang yang well educated, bahkan professor, akan tetapi kala berada di Mekkah Al Mukarramah dengan jutaan umat Islam yang berada di dalam satu barisan untuk memuliakan Allah SWT dan mencintai Nabi Muhammad SAW, akan tetapi jika tidak suka bertanya-tanya akan bisa mengalami kesalahan. Tidak semua di antara jamaah haji atau umrah bisa berbahasa Arab atau berbahasa Inggris, makanya meskipun beberapa kata harus bisa diucapkan untuk bertanya tentang tempat atau arah yang ingin dituju.
Saya terlepas dari rombongan pada waktu menyelesaikan thawaf, karena ada jamaah yang tiba-tiba sakit. Maka ada sebagian yang membantu dan ada sebagian yang melanjutkan untuk salat sunnah thawaf dua rakaat. Dan sayangnya tidak janjian atau saya yang tidak mendengarkan harus bertemu di mana. Makanya jamaah, seperti saya dan istri harus meneruskan upacara sa’i. Di sinilah letaknya bertanya kepada para pekerja yang selama ini telah mengabdi di Masjidil Haram. Akhirnya dengan bantuannya, saya menemukan jalan menuju tempat sa’i. Saya naik ke lantai tiga dan melakukan sa’i di situ. Setelah tuntas tujuh kali putaran dan tahallul, maka harus mencari lagi jalan menuju WC 3 di depan. Tempat ini dijadikan sebagai patokan untuk menuju hotel atau memasuki Masjidil Haram. Saya tidak kembali masuk ke masjid tetapi mencari jalan keluar. Di sini pulalah saya harus bertanya kepada pekerja Masjidil Haram, bahkan diantarkan sampai mendekati WC 3. Pepatah di dalam Bahasa Indonesia, “siapa yang tidak mau bertanya, akan sesat di jalan”.
Saya sungguh mengapresiasi atas kerja para pekerja di Masjidil Haram. Jika kita berada di area masjid dari pintu 89, maka kita dapat masuk ke jamaah lelaki dan jamaah perempuan. Pintu 89 adalah salah satu pintu di Masjidil Haram yang bisa dilewati oleh lelaki dan perempuan. Setelah berada di dalam masjid pasangan suami istri bisa berpisah tempat, dan jika keluar juga melalui pintu ini. Lebih mudah. Apalagi jika tempat pemondokannya adalah di Hotel Meridien, Hotel Movenpick dan lain-lainnya. Keluar dari hotel sudah mendekati area Masjidil Haram.
Perihal pekerja di Masjidil Haram, mereka sehari-hari di dalam masjid. Ada yang merapikan Alqur’an dan ada yang memindahkan Al-Qur’an dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika ada yang meminta bantuan untuk mengambilkan atau menempatkan kembali Alqur’an di dalam rak yang tertata rapi, maka dengan cepat dilakukannya. Sayangnya saya tidak ingin bertanya berapa gajinya. Ada di antara jamaah yang dengan sukarela memberikan tips uang riyal, kebanyakan lima riyal. Ada dua golongan pekerja, yaitu yang merapikan Alqur’an dan membersihkan bekas-bekas minuman dan sebagainya. Mereka terbagi dalam dua perusahaan yang mempekerjakannya, yaitu Al Idarah al ammah lis syuuni al khidmiyah dan Arabia Bin Laden for Haramain.
Pada hari kedua saya di Mekkah, maka saya dan istri mengikuti jamaah shalat shubuh. Jam 02.00 dini hari saya berangkat. Ketepatan bertemu dengan seseorang dan putrinya. Putrinya lalu minta tolong saya agar menemani bapaknya. Ternyata dia berempat, dengan istri dan dua putrinya. Kala keluar lift di jalan menuju ke Masjid, lalu anaknya pamit kembali ke kamarnya. Jadilah orang Trengganu, namanya Pak Ismail itu bersama saya. Saya ajak memasuki pintu 89 dan saya ajak berjajar dengan saya di dalam masjid. Saya ambilkan air Zamzam untuk minum.
Dia cerita bahwa ongkos untuk umrah dari Trengganu ke Makkah sebesar 10.000 ringgit atau sebesar Rp36.569.000,-. Nyaris sama dengan biaya Umrah di Indonesia. Usianya sudah 77 tahun dan sudah beberapa kali menjalankan ibadah umrah. Beberapa tahun yang lalu dilakukannya pada bulan Ramadlan. Pak Ismail berangkat dengan Amani Travel, Teman Kembara Ibadah Anda.
Ada banyak ragam pendatang di Masjidil Haram. Ada orang Inggris, Libanon, Mesir, Marokko, Uzbekistan, China, Pakistan, India, Malaysia, Turki dan bahkan juga Orang Jeddah. Ketepatan yang berdampingan dengan saya orang Jeddah, Namanya Athoillah Muhammad, usianya sekitar 70-an. Ada juga anak-anak muda yang gaya berpakaiannya seperti sedang rekreasi saja. Dengan celana jeans dan kaos lengan pendek. Yang menarik ada tulisannya yang berbunyi: “Hey Sirri, Turn My Emotions Off”. Untung bukan tulisan: “Yesus Saves Me”. Ada yang berambut panjang, lurus atau keriting, ada yang gundul asli alias botak, atau berpakaian ala pakaian Orang Arab atau jubah, dan ada yang berkemeja lengan pendek atau panjang, dan ada juga yang berpakaian batik dan bersarung. Selain itu juga ada yang berjenggot lebat dan tebal, ada yang berjenggot tipis dan ada yang klimis atau tak memakai jenggot. Hal ini menggambarkan bahwa multikulturalisme itu benar-benar nyata adanya.
Allah memang menciptakan manusia dengan warna kulit, tradisi, kesukubangsaan dan golongan social yang beraneka ragam. Tetapi Islam menjadi satu kesatuan perekat di tengah kebinekaan dimaksud. Ada yang mengikuti tafsir beragama ala ahli sunnah wal jamaah, ada yang ahli sunnah saja, ada yang mengikuti paham Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi dan Imam Maliki. Yang penting bukan Imam Samudra. Islam yang menjadi perekatnya, Islam yang menyatukannya, Islam yang menjadi rumah besarnya. Orang bisa memasuki Rumah Besar Islam dari berbagai pintu yang dipilihnya. Sebagaimana orang bisa memasuki surga dari berbagai pintu yang disediakan Allah untuk orang Islam yang taat.
Oleh karena itu, jangan sampai ada yang menginginkan adanya satu penafsiran di dalam beragama, karena itu menyalahi kodrat manusia yang memang secara rasional dan spiritual bisa berbeda-beda. Marilah kita menghargai perbedaan dengan tetap berpegang teguh kepada Islam yang menjadi rumah besarnya. Di sela-sela dzikir, Athoillah Muhammad menyatakan: “innamal mu’minuna ikhwah”. Dia mengutip ayat Suci Al-Qur’an.
Wallahu a’lam bi al shawab.

