(Sumber : AI)

Umat Masa Depan: Fungsi Agama di Tengah Individualisme

Opini

Agama memiliki banyak fungsi tetapi yang sangat mengedepan adalah fungsi kritik social, menjaga keteraturan social dan menjaga kehidupan social dan lingkungan yang serasi dan seimbang. Di tengah perubahan social yang sedemikian cepat, maka terdapat banyak kejutan yang terjadi, misalnya social shock, cultural shock, technological shock dan tidak kalah penting adalah theological shock. Ini merupakan salah satu catatan di dalam pidato Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, dalam acara Lokakarya oleh Kemenag dan diikuti oleh para pejabat pusat dan daerah.

  

Manusia menjadi tergagap di tengah perubahan social yang sangat cepat. Perubahan social yang revolusioner  dapat  memicu terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam berbagai variasinya. Masyarakat menjadi semakin permissive dalam menghadapi kehidupan. Masyarakat mengabaikan nilai-nilai social yang sebelumnya menjadi pedoman atau pattern for bahavior. Nilai social bisa diabaikan sebab manusia tidak lagi merasa menjadi bagian dari masyarakat lainnya. Nilai kejujuran, keadilan, persamaan dan nilai keyakinan atas kebaikan dan implikasinya bagi kehidupan social semakin ditinggalkan. 

  

Berdasarkan beberapa survey dinyatakan, bahwa kehidupan masyarakat di Indonesia menjadi semakin individual. Sebagai akibat globalisasi dan teknologi informasi maka masyarakat menjadi semakin individual dan kurang  menyukai kehidupan kebersamaan. Partisipasi warga masyarakat atas kegiatan kebersamaan semakin menurun. Di masyarakat perkotaan realitas social tersebut semakin kentara dibandingkan masyarakat pedesaan. Masyarakat perkotaan berkecenderungan individualistis karena semakin kuatnya pengaruh teknologi informasi yang semakin signifikan, perbedaan strata social dan kehidupan yang semakin diferensiatif.  

  

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Cigna Study pada Masyarakat Amerika, bahwa tiga dari lima orang dewasa atau 61 persen merasakan kesepian. Berdasarkan survey atas orang dewasa sebanyak  10.000 orang lebih,  tujuh persen dari 54%  merasakan kesepian. Mereka merasa terisolasi dalam pekerjaannya. Dan dari generasi muda, 18-22 tahun yang merasakan kesepian berjumlah 73% lebih tinggi dari survey tahunan sebelumnya sebesar 69%.  Di antara factor penyebabnya adalah mereka terisolasi dalam dunia pekerjaannya dan juga disebabkan adanya korelasi antara perilaku social dan media social. Semakin tinggi penggunaan media social semakin besar peluang untuk terjadinya kesepian di dalam kehidupan. 

  

Saya menjadi teringat dengan konsep David Reisman (1950), yang menyatakan “lonely in the crowd.” Kesepian di dalam keramaian. Apa yang diungkapkan oleh Reisman memang menjadi kenyataan. Meskipun ditulisnya di pertengahan abad ke 20, akan tetapi memiliki pembenaran yang signifikan. Media social, individualisme dan tekanan social yang dirasakan oleh seorang individu akan menyebabkan terjadinya kesepian yang terus mendera kehidupan social. 

  

Kasus individualisme telah berkembang di Indonesia khususnya generasi Z atau Genzi. Hal itu misalnya diindikatori dengan kehidupan yang lebih mementingkan  kepentingan diri sendiri, enggan menolong orang lain, menyendiri di ruang public, lebih suka memainkan gadget dibanding dengan pertemanan secara langsung, melemahnya kesadaran hidup bersama dalam harmoni, dan juga semakin meningkatnya depresi, ketakutan dan merasa tanpa masa depan.

  

Hal yang patut menjadi perhatian bahwa Genzi adalah masa depan Indonesia.  Indonesia ke depan akan sangat tergantung pada bagaimana mengelola Genzi yang memiliki sikap untuk menjaga kebersamaan, bermasyarakat dan bersatu dalam diferensiasi. Dipastikan bahwa genzi, sebagai bagian dari masyarakat plural dan multicultural, sebagai bagian dari kehidupan strata social yang differensiatif dan latar social  dan pekerjaan yang berbeda, tentu harus tetap berada di dalam koridor untuk menjaga negara bangsa agar tetap berada di dalam konteks Binneka Tunggal Ika. Makanya, para Genzi harus tetap disadarkan akan arti pentingnya membangun kesadaran sebagai warga negara yang tidak bernuansa individual. Kesadaran kolektif harus tetap dikedepankan melalui ruang-ruang public, seperti ruang pendidikan, ruang peribadahan, ruang kerjasama, ruang public structural maupun kultural. 

  

Agama memuat nilai-nilai kebersamaan. Ibadah kepada Tuhan lebih baik dilakukan secara berjamaah atau bersama-sama. Agama apapun memiliki ajaran kebersamaan tersebut. Bukannya kesendirian dilarang, akan tetapi terdapat arena yang khusus. Di dalam ajaran tasawuf diperkenalkan ajaran uzlah atau menyendiri dalam waktu tertentu untuk kontemplasi atas relasinya dengan Tuhan. Sesungguhnya melalui ajaran kebersamaan tersebut, agama mengajak kita semua untuk hidup dalam kerukunan dan keharmonisan. 

  

Basis keharmonisan adalah beragama berbasis cinta dan kasih sayang. Agama sesungguhnya memiliki teologi feminis yang berupa kasih sayang, dan bukan teologi maskulin yang menonjolkan kekuasaan dan kekuatan. Semua agama memiliki basis kasih sayang. Kristiani, Islam, Yahudi, Buddha, Hindu dan Konghucu memiliki konsep yang jelas tentang ajaran kasih sayang. Ajaran Kristiani tergambar di dalam konsep cinta tanpas syarat, yang berasal dari Allah. Di dalam pernyataan Yesus dikatakan: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Nabi Muhammad SAW  menyatakan: “kasihilah yang di bumi, maka akan dikasihi yang di atas.\" Islam menegaskan arti pentingnya relasi dengan Tuhan, Manusia dan Alam yang seimbang. Ajaran Buddha,  “menekankan kasih sayang universal (metta) dan welas asih (karuna) kepada sesama makhluk tanpa kecuali yang bertujuan membebaskan manusia dari penderitaan.” Agama Hindu “menekankan cinta kasih  universal yang tulus (lascarya) kepada seluruh ciptaan Tuhan (Tat Twam Asi atau Aku adalah kamu).\" Konsep dasarnya pada Tri Hita Karana (keharmonisan dengan Tuhan, sesama dan alam).

  

Ajaran-ajaran ini dapat dijadikan pedoman oleh Genzi di dalam merenda kehidupan. Melalui nilai-nilai ajaran agama tersebut, maka akan dapat menghindarkan diri dari tindakan yang menyengsarakan diri sendiri dengan menyiksa diri untuk menyendiri dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan kebutuhan social. Manusia hakikatnya memiliki kebutuhan social yang harus diekspresikan melalui persahabatan dan kebersamaan.

   

Wallahu a’lam bi al shawab.