“Harus Hati-Hati Dalam Memodifikasi Agamaâ€
Oleh : Agung Wijayanto
Suatu hari seorang sahabat bernama Abdullah Ibnu Umar Ibnu Syuraikh atau yang selama ini kita kenal sebagai Abdullah Ibnu Ummi Maktum datang menemui Baginda Nabi Muhammad SAW. Ia adalah seorang sahabat yang berbeda dengan para sahabat yang lainnya karena kondisinya yang buta sejak lahir. Meskipun begitu, tekad dan keteguhannya dalam mencari nilai-nilai kebenaran sangatlah luar biasa. Kedatangan Abdullah Ibnu Ummi Maktum saat itu adalah dalam rangka mencari sumber ilmu dan hikmah yang bisa ia peroleh dari Baginda Nabi. Namun, yang terjadi adalah Nabi bersikap tidak seperti biasanya\nyang penuh dengan kehangatan dan perhatian. Ia menghampiri Nabi yang sedang berdialog dengan para pembesar Quraisy. Berulang kali, ia mengatakan kepada Nabi, “Wahai Nabi Allah, berilah aku petunjuk, berilah aku pelajaran, tunjukilah aku tentang suatu hal yang bermanfaat†(Abrar, 2013).
Penelitian Greg Fealy & Sally White tentang “Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia” (2008), menyatakan bahwa istilah komodifikasi berasal dari commodity, yang antara lain berarti benda komersial atau objek perdagangan. Dengan begitu, komodifikasi Islam adalah komersialisasi Islam atau mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan untuk mendapat keuntungan.
Allah berfirman :
وَلاَ تَشْتَرÙواْ Ø¨ÙØ¢ÙŠÙŽØ§ØªÙÙŠ ثَمَناً Ù‚ÙŽÙ„Ùيلاً ÙˆÙŽØ¥Ùيَّايَ ÙَاتَّقÙونÙ
“Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..†(QS. al-Baqarah: 41)
Dengan memperhatikan kisah dan firman Allah di atas, cukup bagi kita sebagai pemerhati dan penyeru dakwah sekaligus pegiat kemanusiaan untuk menjadikannya sebagai bahan muhasabah di penghujung akhir tahun 2020…OJO RUMUNGSO ISO (merasa pasti selalu benar akan semua perilaku yang dikerjakan), tapi ISO O RUMUNGSO (kesadaran akan segala kedhoifan dan kelemahan diri), semoga kita bisa menjadi lebih ikhlas dan tawadhu’ di waktu-waktu mendatang.
Wallahu a’lam Bishowab
You may also like




