Bagaimana Micin Bisa Mendapat Julukan “Bikin Bodoh”?
Eva Putriya Hasanah
Ada satu bahan dapur yang namanya mungkin lebih sering muncul dalam candaan daripada pembicaraan tentang ilmu pangan: micin. “Jangan kebanyakan micin, nanti bodoh.”
Kalimat semacam ini begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. “Kebanyakan micin” bahkan berkembang menjadi ungkapan sehari-hari untuk menggambarkan seseorang yang melakukan kesalahan atau bertingkah konyol. Karena terlalu sering diucapkan, batas antara lelucon dan fakta pun terkadang menjadi kabur. Lalu, dari mana sebenarnya anggapan bahwa micin dapat membuat seseorang bodoh? Jejak ceritanya ternyata membawa kita ke Amerika Serikat pada akhir 1960-an. Saat itu, sebuah laporan mengenai keluhan setelah menyantap makanan di restoran China berkembang menjadi perdebatan panjang mengenai monosodium glutamate atau MSG.
Berawal dari sebuah surat
Pada 4 April 1968, seorang dokter bernama Robert Ho Man Kwok menulis surat yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine. Ia menceritakan sejumlah keluhan yang dialaminya setelah makan di restoran China, seperti rasa kebas di bagian belakang leher, tubuh terasa lemah, dan jantung berdebar. Namun, Kwok tidak menyatakan bahwa MSG merupakan penyebabnya. Ia justru menyebut beberapa kemungkinan, termasuk garam, anggur yang digunakan dalam masakan, dan MSG. Dengan kata lain, sejak awal belum ada kesimpulan bahwa satu bahan tertentu menjadi penyebab keluhan tersebut.
Meski demikian, surat tersebut kemudian mendapat perhatian luas. Istilah “Chinese Restaurant Syndrome” muncul dan berkembang dalam pemberitaan maupun perdebatan ilmiah. MSG perlahan ditempatkan sebagai salah satu tersangka utama di balik berbagai keluhan setelah menyantap makanan China.
Dalam beberapa tahun berikutnya, berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan MSG dengan gejala tertentu. Perdebatan tersebut turut membentuk persepsi publik terhadap MSG dan makanan China di Amerika Serikat. Kajian sejarah mengenai isu ini juga menunjukkan bahwa perdebatan tersebut tidak sepenuhnya terlepas dari stereotip terhadap makanan dan budaya China yang dianggap asing.
Ketika dugaan berubah menjadi stigma
Sebuah dugaan dapat berkembang menjadi keyakinan ketika terus diulang. Pada masa itu, sebagian restoran China di Amerika Serikat bahkan memasang tanda “No MSG” untuk meyakinkan pelanggan. Namun, keberadaan label tersebut justru berpotensi memperkuat kesan bahwa MSG merupakan bahan yang harus dihindari. Padahal, label “tanpa MSG” tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa MSG berbahaya.
Hal ini menunjukkan bagaimana persepsi terhadap suatu bahan dapat terbentuk. Ketika sebuah zat sudah mendapatkan reputasi buruk, informasi berikutnya sering kali dibaca berdasarkan anggapan yang sudah lebih dahulu terbentuk. Seseorang yang merasa tidak nyaman setelah makan pun belum tentu dapat langsung menyimpulkan bahwa satu bahan tertentu adalah penyebabnya. Diperlukan penelitian yang mampu membedakan efek bahan tersebut dari faktor lainnya.
Sebenarnya, apa itu MSG?
MSG atau monosodium glutamate merupakan garam natrium dari glutamat. Dalam dunia pangan, MSG digunakan sebagai penguat rasa umami atau gurih. Glutamat sendiri bukan zat yang hanya terdapat dalam MSG. Senyawa ini juga secara alami ditemukan dalam berbagai makanan. Karena itu, pembicaraan mengenai MSG tidak cukup hanya dengan menyebutnya sebagai “bahan kimia”. Yang lebih penting adalah bagaimana suatu zat digunakan, berapa banyak yang dikonsumsi, serta bagaimana bukti ilmiah mengenai keamanannya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat mencantumkan MSG sebagai bahan tambahan pangan yang digunakan antara lain sebagai flavor enhancer. Sementara itu, Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) memberikan status ADI not specified untuk kelompok glutamat yang mencakup MSG. Namun, pembahasan mengenai keamanan MSG tetap perlu dibedakan dari klaim bahwa bahan ini dapat membuat seseorang menjadi bodoh. Sampai saat ini, tidak ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa konsumsi MSG dalam jumlah wajar menyebabkan seseorang kehilangan kecerdasan.
Bagaimana dengan sakit kepala?
Sebagian orang memang melaporkan sakit kepala atau rasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Pengalaman tersebut tidak perlu diabaikan, tetapi juga tidak otomatis membuktikan bahwa MSG merupakan penyebabnya. Ketika hubungan tersebut diuji melalui penelitian yang lebih sistematis, hasilnya belum selalu konsisten.
Sebuah tinjauan sistematis terhadap penelitian pada manusia menemukan bahwa hubungan sebab-akibat antara MSG dan sakit kepala belum dapat dibuktikan secara meyakinkan. Beberapa penelitian menemukan gejala ketika MSG diberikan dalam jumlah relatif tinggi, terutama tanpa makanan. Namun, hasil penelitian secara keseluruhan tidak konsisten dan sejumlah studi memiliki persoalan dalam proses blinding. Karena itu, ada perbedaan antara mengatakan “saya mengalami sakit kepala setelah makan makanan tertentu” dan “MSG menyebabkan sakit kepala”. Pernyataan pertama merupakan pengalaman individu, sedangkan pernyataan kedua membutuhkan bukti sebab-akibat.
Dari sakit kepala menjadi “bikin bodoh”
Lantas, bagaimana isu mengenai MSG kemudian berkembang menjadi anggapan bahwa micin membuat seseorang bodoh? Di sinilah budaya populer ikut memainkan peran. Informasi yang awalnya berbicara tentang dugaan keluhan fisik dapat bercampur dengan pemberitaan, nasihat orang tua, candaan, dan percakapan sehari-hari. Di Indonesia, “micin” akhirnya memperoleh kehidupan baru sebagai bagian dari humor.
Seseorang yang melakukan kesalahan disebut “kebanyakan micin”. Anak yang dianggap melakukan sesuatu yang konyol juga dapat menjadi sasaran candaan serupa. Lama-kelamaan, ungkapan yang awalnya merupakan lelucon dapat terdengar seperti sebuah penjelasan ilmiah. Padahal, keduanya berbeda. Tidak ada proses sederhana berupa “makan micin → otak rusak → menjadi bodoh” yang dapat digunakan untuk menjelaskan kecerdasan manusia. Kemampuan kognitif terbentuk melalui interaksi berbagai faktor, mulai dari perkembangan, pendidikan, lingkungan, pengalaman belajar, kesehatan, hingga faktor biologis.
Ketika mitos bertahan karena terus diulang
Kisah micin menarik bukan hanya karena kita ingin mengetahui apakah MSG berbahaya. Lebih dari itu, kisah ini menunjukkan bagaimana sebuah informasi dapat berubah ketika berpindah dari satu orang ke orang lain. Sebuah dugaan dapat berubah menjadi kesimpulan. Kesimpulan dapat berubah menjadi pemberitaan. Pemberitaan dapat berkembang menjadi ketakutan. Setelah bertahun-tahun, ketakutan itu bahkan dapat berubah menjadi lelucon yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di era media sosial, proses semacam ini berlangsung semakin cepat. Judul yang menarik sering lebih mudah dibaca daripada penelitian yang panjang. Pernyataan “bisa menyebabkan” juga mudah dipahami sebagai “pasti menyebabkan”, sementara konteks mengenai dosis, metode penelitian, populasi, dan keterbatasan studi justru hilang. Karena itu, ketika mendengar klaim kesehatan, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: dari mana informasi tersebut berasal? Sebab, sesuatu tidak otomatis menjadi benar hanya karena sudah lama dipercaya atau sering diulang.
Termasuk kalimat yang satu ini: “Kebanyakan micin bikin bodoh.”
Bisa jadi, yang lebih perlu dihindari bukan micinnya, melainkan kebiasaan menerima informasi tanpa pernah bertanya, “Memangnya, penelitian yang mana?”
You may also like



