Cahaya Ramadan di Jantung London: Ketika 30 Ribu Lampu Menyinari Semangat Kebersamaan
Eva Putriya Hasanah
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah bagi umat Islam, tetapi juga momentum refleksi, solidaritas, dan harapan. Di berbagai belahan dunia, suasana Ramadan disambut dengan cara yang khas. Jika di Indonesia masyarakat mengenal tradisi seperti pawai obor atau megengan, maka di Inggris, tepatnya di pusat Kota London, Ramadan hadir dalam balutan cahaya yang memukau. Ribuan lampu LED mengelilingi jalanan utama kota sebagai simbol penghormatan terhadap bulan suci.
Pada Ramadhan 1447 Hijriah (2026), lebih dari 30.000 lampu LED menghiasi kawasan West End dan Leicester Square, dua area ikonik di pusat Kota London. Instalasi cahaya tersebut membentuk ornamen artistik dengan tulisan “Happy Ramadan†yang nantinya akan berubah menjadi “Happy Eid†perayaan menjelang Idul Fitri. Lampu-lampu ini menyala setiap malam dari sore hingga dini hari, menciptakan suasana hangat dan penuh makna di tengah gemerlap kota metropolitan.
Inisiatif ini didukung oleh Aziz Foundation, sebuah lembaga filantropi yang fokus pada pemberdayaan komunitas Muslim melalui pendidikan dan pengembangan kepemimpinan. Program pencahayaan Ramadhan ini telah berlangsung beberapa tahun terakhir dan menjadi agenda tahunan yang dinantikan. Kehadirannya bukan hanya sebagai dekorasi visual, melainkan simbol pengakuan atas kontribusi komunitas Muslim dalam kehidupan sosial Inggris.
Peresmian penyalaan lampu dilakukan secara simbolis oleh Wali Kota London, Sadiq Khan. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Ramadan Lights adalah wujud nyata dari semangat inklusivitas dan keberagaman yang menjadi identitas London. Ia juga mengajak seluruh warga, tanpa memandang agama atau latar belakang, untuk ikut merayakan nilai-nilai universal Ramadhan seperti empati, kepedulian, dan kebersamaan.
Kehadiran dekorasi Ramadhan di ruang publik utama kota besar Eropa Barat ini memiliki makna yang lebih luas. London menjadi salah satu kota pertama di kawasan tersebut yang secara resmi menghadirkan pencahayaan khusus Ramadhan di pusat kota. Di tengah meningkatnya tantangan sosial dan isu intoleransi di berbagai belahan dunia, langkah ini menjadi pesan kuat bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan ancaman.
Ramadhan sebagai Cahaya Persatuan
Ramadhan identik dengan cahaya—cahaya spiritual yang berakhir dengan hati, cahaya kebaikan yang menyebar melalui sedekah dan kepedulian, serta cahaya harapan akan perubahan diri. Apa yang dilakukan London merefleksikan nilai-nilai tersebut secara simbolik. Ribuan lampu LED yang menyala bukan sekadar rangkaian kabel dan SPBU, melainkan representasi semangat persatuan dalam keberagaman.
Bagi komunitas Muslim di London, pencahayaan ini memberikan rasa diakui dan dihargai. Ramadhan yang biasanya dirayakan dalam lingkup keluarga dan masjid kini juga terasa di ruang publik yang lebih luas. Masyarakat non-Muslim pun dapat merasakan suasana Ramadhan melalui dekorasi yang menghiasi jalan-jalan kota. Hal ini membuka ruang dialog budaya dan memperkuat rasa saling memahami antar warga.
Di sisi lain, Ramadan Lights juga menjadi daya tarik wisata dan simbol kota yang adaptif terhadap dinamika masyarakatnya. Kota global seperti London menunjukkan bahwa identitas modern tidak harus menanggalkan nilai-nilai religius warganya. Justru, pengakuan terhadap tradisi keagamaan dapat memperkaya karakter kota itu sendiri.
Fenomena ini menarik untuk direnungkan. Ramadhan yang identik dengan penghematan dan pengendalian diri justru diperingati dengan cahaya gemerlap di pusat kota dunia. Namun, gemerlap tersebut tidak menghilangkan esensi Ramadhan. Sebaliknya, ia menjadi metafora bahwa cahaya kebaikan harus bersinar di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Apa yang dilakukan London mengajarkan bahwa Ramadhan bukan hanya milik satu komunitas, tetapi dapat menjadi momen kebersamaan lintas budaya. Ketika ribuan lampu menyala di langit malam, pesan yang terpancar bukan sekedar ucapan “Happy Ramadanâ€, melainkan juga harapan akan dunia yang lebih inklusif, saling menghormati, dan penuh cahaya kedamaian.
Ramadhan, di mana pun dirayakan, selalu membawa pesan yang sama: menyalakan cahaya dalam diri, menyebarkan kebaikan, dan mempererat persaudaraan. Di London, pesan itu kini benar-benar bersinar terang di jantung kota.




