Fakta Menarik: Bahasa Arab Jadi Bahasa Non-Eropa Pertama yang Diajarkan di Oxford
Oleh Eva Putriya Hasanah
Tahukah kamu bahwa Universitas Oxford adalah universitas pertama di Eropa yang mengajarkan Bahasa Arab? Inilah kisah menarik tentang bagaimana pertemuan antara Barat dan dunia Islam pada abad ke-17.
Bahasa Arab di Jantung Oxford
Di balik menara batu kuno Universitas Oxford, tersimpan cerita bersejarah yang jarang diketahui: bahwa Bahasa Arab adalah bahasa asing non-Eropa pertama yang diajarkan secara resmi di Oxford.
Langkah berani ini dimulai pada tahun 1636, ketika William Laud — Uskup Agung Canterbury sekaligus rektor universitas — mendirikan Laudian Professorship of Arab. Saat itu, di Eropa Tengah yang masih fokus pada teologi dan bahasa Latin, membuka ruang bagi bahasa Timur adalah keputusan yang tidak biasa.
Namun keputusan ini justru menjadi titik awal dialog panjang antara dunia Barat dan peradaban Islam yang kaya akan ilmu pengetahuan.
Dari Teologi ke Ilmu Pengetahuan: Mengapa Oxford Tertarik pada Bahasa Arab
Pada abad ke-17, dunia Islam dikenal sebagai pusat ilmu dan filsafat. Banyak karya Yunani kuno yang hilang di Eropa, justru diselamatkan oleh para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Kindi, dalam bentuk terjemahan Arab.
Untuk mengakses khazanah itu, para sarjana Eropa membutuhkan satu hal: kemampuan membaca Bahasa Arab. Di memahami Oxford mengambil langkah strategis — belajar langsung dari sumbernya, bukan hanya dari terjemahan Latin.
Selain alasan akademik, keputusan ini juga didorong oleh kebutuhan intelektual. Inggris mulai berinteraksi dengan wilayah Timur Tengah, dan memahami budaya serta bahasa Arab menjadi modal penting dalam hubungan lintas dunia.
Edward Pococke: Pelopor yang Membawa Timur ke Oxford
Tokoh pertama yang memegang jabatan Profesor Arab di Oxford adalah Edward Pococke. Ia bukan hanya ahli bahasa, tetapi juga penjelajahan ilmu pengetahuan. Sebelum mengajar di Oxford, Pococke tinggal di Aleppo, Suriah, selama beberapa tahun — mempelajari bahasa dan budaya Arab langsung dari masyarakat setempat.
Sekembalinya ke Inggris, Pococke membawa ratusan manuskrip Arab kuno yang kini menjadi bagian penting dari koleksi Bodleian Library.
Karya-karya itu membuka pintu bagi generasi ilmuwan Oxford untuk mempelajari teologi, sejarah, dan ilmu pengetahuan Islam secara langsung dari sumber aslinya.
Kuliah yang Mengubah Cara Pandang Dunia
Pada masa awal, kuliah Bahasa Arab di Oxford fokus pada tata bahasa dan teks klasik. Namun dalam perkembangannya, pembelajaran ini menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Mahasiswa diajak membaca teks keagamaan, sastra Arab, hingga karya ilmuwan Muslim tentang sains dan filsafat.
Pelan tapi pasti, Bahasa Arab di Oxford menjadi simbol keterbukaan intelektual, bukan sekadar bahasa asing untuk dipelajari. Dari situ kemudian lahirlah minat besar terhadap studi Timur Tengah dan Islam di Eropa. Banyak sarjana Inggris mulai menulis kamus Arab, menerjemahkan teks, dan meneliti sejarah peradaban Islam.
Warisan yang Masih Hidup Hingga Kini
Kini, lebih dari 380 tahun setelah kursi profesor Bahasa Arab pertama kali didirikan, warisannya masih hidup. Fakultas yang dulu bernama Oriental Studies telah berevolusi menjadi, tempat puluhan bahasa dari Asia dan Timur Tengah diajarkan — dari Arab, Persia, hingga Ibrani.
Mahasiswa Oxford modern tidak hanya mempelajari bahasa klasik, tetapi juga politik, sastra, dan media dunia Arab kontemporer. Semangat yang dulu ditanamkan oleh Laud dan Pococke tetap terasa: keingintahuan yang tulus dan menghormati ilmu dari peradaban lain.
Bahasa: Jembatan Antara Dua Dunia
Kisah Bahasa Arab di Oxford mengajarkan satu hal penting: bahwa bahasa adalah jembatan peradaban. Dengan mempelajari bahasa lain, kita belajar memahami cara berpikir, nilai, dan kebijaksanaan dari budaya lain pula.
Oxford mungkin tidak menyadari betapa besarnya dampak keputusan itu pada abad ke-17. Namun sejarah kini mencatat — pengajaran Bahasa Arab di Oxford bukan sekadar pelajaran linguistik, melainkan simbol keterbukaan dan penghargaan terhadap keberagaman ilmu pengetahuan.




