Menengok Penyebaran Dakwah Manhaj Salaf di Kediri
Pada umumnya masyarakat memandang bahwa manhaj salaf termasuk dalam tipologi salafi haraki atau salafi jihadi yang sering disebut gerakan Islam mengangkat senjata. Kini ditemui terdapat fenomena pondok pesantren di Kediri dengan beberapa corak, seperti salafi puritan, salafi haraki, dan salafi jihadi. Seperti halnya disampaikan Mubaidi Sulaeman bahwa ditemukan tak semua pondok pesantren manhaj salaf di Kediri bermanhaj salafi jihadi dan eksklusif. Melainkan, terdapat pondok pesantren manhaj salafi dakwah dan cenderung bersifat inklusif.
Pada kesempatan diskusi online KOBAR kolaborasi NSC Selasa, (01/09), yang kerap disapa Ubaid sebagai pemantik diskusi memaparkan bahwa fenomena pondok pesantren manhaj salaf di Kediri memiliki geneologi yang sama, namun memiliki corak yang berbeda-beda. Adapun banyak pondok pesantren manhaj salaf di Kediri saat ini lebih menerima manhaj salaf bercorak dakwah, tapi juga ada beberapa yang bercorak haraki dan jihadi.
“Sebab bagi mereka (pondok pesantren salafi dakwah) menyatakan bahwa konsep jihadi sudah tak relevan lagi diterapkan di Indonesia. Hingga hal ini mengakibatkan banyak pondok pesantren manhaj salaf di Kediri lebih menerima dan menganut paham moderat. Akhirnya Pondok pesantren manhaj salaf yang masuk ke Kediri menjadi lunak,” ucapnya.
Berpegang Teguh Pada al-Qur’an dan Hadits
Lebih lanjut, Ubaid mengatakan bahwa terdapat tiga pendakwah yang cukup berpengaruh dalam terbentuknya ciri khas Islam di Kediri. Demikian juga yang menjadi inspirasi para pendiri pondok pesantren salafi di Kediri hingga sekarang. Adapun tiga pendakwah tersebut, yaitu Syekh Syamsudin Al-Wasil, Syekh Abdul Mursyad, dan Kiai Sholeh Banjarmlati.
Ubaid pun kembali mengatakan bahwa beberapa pondok pesantren manhaj salaf di Kediri memandang bahwa Islam ditebarkan sebagai sebuah diskursus, yang dapat didiskusikan untuk menanggapi perkembangan zaman. Sementara, terdapat beberapa pondok pesantren manhaj salaf di Kediri yang memiliki pemikiran bahwa yang perlu dipegang teguh hanya al-Qur’an dan sunnah.
“Akhirnya hal itu yang memunculkan perbedaan pendapat antara pondok pesantren dan beragam corak yang berbeda-beda,” jelasnya.
Melalui Pondok Pesantren, Masjid, dan Cafe
Berdasarkan makalah yang dibuat Ubaid untuk bahan presentasi di diskusi online KOBAR menjelaskan bahwa penyebaran manhaj salaf dimulai dari pondok pesantren pertama yang di dalamnya berkembang manhaj salaf, yaitu Pondok Pesantren Al-Qudwah Srikaton dan Susuh Bango Kecamatan Ringinrejo. Sementara, terdapat juga beberapa pondok pesantren lainnya, seperti Ponpes Al-Mansur Tegowangi, Ponpes Ar-Robitoh Gurah, Ponpes Ar-Rosyad Bogem, Ponpes Salman Al-Farisi Gayam, dan Ponpes Imam Muslim Al-Atsariy Kaliombo. Sementara, semua pendirinya memiliki keterikatan dengan Ponpes Al-Irsyad Salatiga, Al-Furqon, dan Al-Irsyad Surabaya.
Adapun yang menjadi tempat penyebaran manhaj salaf di Kediri, selain pondok pesantren juga di beberapa tempat, seperti cafe, mushola atau masjid, dan beberapa sekolah yang bermanhaj salaf.
Pondok pesantren manhaj salaf di Kediri memiliki dua model, yaitu eksklusif dan inklusif. Adapun pondok pesantren yang bermodel eksklusif memiliki ciri khas pembelajaran, yaitu mengembangkan hanya ilmu pengetahuan Islam dan sedikit pengetahuan umum dasar, seperti pelajaran bahasa Indonesia dan Matematika. Hal ini sebagaimana diterapkan oleh Pondok Pesantren Ar-Rosyad Bogem dan Al-Qudwah Kediri.
Sedangkan, pondok pesantren manhaj salaf model inklusif memiliki ciri khas pembelajaran, yaitu mengembangkan ilmu-ilmu Islam dan juga ilmu-ilmu umum dengan memanfaatkan teknologi. Adapun pondok pesentren termasuk dalam model ini, yaitu Ponpes Imam Muslim Al-Atsariy dan Ponpes Al-Manshur Plamehan Kediri.
Tak Semua Salafi Kolot
Beberapa pondok pesantren manhaj salaf di Kediri berkeinginan untuk memisahkan manhaj salaf corak jihadi dan haraki. Hal ini sebagaimana terkait penafsiran tunggal, yaitu apabila berislam harus angkat senjata. Ubaid pun menyampaikan bahwa manhaj salaf juga memiliki pemikiran jihadi. Namun, jihadi yang dianut bukan bercorak haraki, tapi justru manhaj salaf bercorak dakwah.
Sementara, setiap dari masing-masing individu dapat dikatakan salafi. Sebab, masing-masing individu memiliki masa lalu dengan tokoh yang berbeda. Sebagaimana dalam komentar Khobirul Amru salah satu peserta diskusi online KOBAR yang sekaligus penanggung jawab rubrik Daras di NSC mengatakan bahwa setiap masing-masing individu dapat dikatakan sebagai Salafi.
“Mengutip penjelasan dalam buku (As-Salaf As-Salafiyyah), kita semua adalah Salafi. Dalam artian mempunyai masa lalu. Kita mempunyai tokoh di masa lalu yang menjadi acuan, pedoman, anutan yang kita ikuti. Tak semua Salafi kolot dan taqlid. Dan, tidak semua Salafi bersifat eksklusif, tapi juga ada yang inklusif. Masih mau toleran. Sehingga, akhirnya yang menyamaratakan Salafi dapat memunculkan sikap yang kurang baik,” ucapnya.
Namun, di akhir penyampainnya, ia merekomendasi beberapa referensi yang dapat menjadi bacaan agar dapat lebih peka dan memahami secara mendalam terkait Salaf dan Salafi. Dalam referensi tersebut menjelaskan dan menggambarkan secara lengkap dan jelas terkait Salaf dan Salafi secara etimologis, pemikirannya yang paling berbahaya, pembeda dengan pemikiran lainnya, dan juga pengaruh yang muncul dari doktrin pemikirannya. Adapun referensi yang direkomendasi, yaitu kitab As-Salaf As-Salafiyyah karya Syekh Muhammad Imam Imarah, kitab As-Salafiyah Wahabiyah Wa Afkaruha karya Syekh Hasan bin Ali Assegaf, dan kitab Al-Hanabilah Wa ‘Ikhtilafuhum Ma’a As-Salafiyah Al-Mu’asharah karya Syekh Musthafa Ahmad ‘Uluwiyan Al Hanbali.(Nin)




