Pesantren Ramah Lingkungan di Garut: Peacesantren Welas Asih dan Gaya Hidup Hijau Santri
Eva Putriya Hasanah
Di kaki Gunung Cikuray, udara Garut terasa lebih sejuk. Di sanalah berdiri Peacesantren Welas Asih, sebuah pesantren yang berbeda dari kebanyakan. Alih-alih hanya mengajarkan ilmu agama, pesantren ini juga menanamkan nilai perdamaian dan kecintaan terhadap alam. Bagi mereka, mencintai Allah berarti juga mencintai bumi yang diciptakan-Nya.
Pesantren ini didirikan oleh Irfan Amalee, pendidik perdamaian yang dikenal luas di Indonesia dan dunia. Namanya bahkan tercatat dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia versi The Muslim 500. Irfan memimpikan pesantren yang bisa melahirkan generasi santri yang bukan hanya saleh, tetapi juga peduli terhadap sesama dan lingkungan. “Cinta lingkungan adalah ekspresi welas asih yang paling nyata,†ujarnya dalam wawancara dengan Pikiran Rakyat Bandung Raya (2024). “Bumi ini juga ciptaan Allah yang harus dijaga dengan kasih sayang.â€
Semangat itu tumbuh nyata di kesekharian para santri. Di Peacesantren Welas Asih, tidak ada yang datang ke kantin membawa plastik sekali pakai. Semua santri terbiasa membawa wadah dan tumbler sendiri untuk makan dan minum. Kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari budaya pesantren. Seperti dilansir Detik.com (2024), para santri memang diajak untuk sadar bahwa mengurangi sampah berarti menjaga bumi agar tetap lestari.
Kebiasaan sederhana ini menjadi kebanggaan. Para santri bahkan memiliki bank sampah sendiri. Limbah organik olah mereka menjadi kompos untuk menyuburkan kebun pesantren, sedangkan plastik bekas dijadikan eco-brick atau bahan kerajinan. Mereka juga menanam sayur dan buah di lahan sekitar, menanamkan pertanian organik, dan memanfaatkan hasilnya untuk kebutuhan dapur sehari-hari. Tak heran jika GosipGarut.id (2025) mencatat bahwa Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, sempat datang berkunjung ke Peacesantren Welas Asih untuk belajar tentang pengelolaan sampah yang diterapkan di sana.
Namun yang paling menarik perhatian dunia luar adalah proyek besar mereka: pembangunan Masjid Kembar Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Masjid ini dibangun dari 12 ton limbah plastik dan 24 ton sekam gabah padi, menjadikannya salah satu masjid paling ramah lingkungan di Indonesia. Detik.com (2024) menulis bahwa bahan-bahan tersebut diolah menjadi material bangunan yang kuat, ramah lingkungan, dan tahan lama. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Raja Juli Antoni, bahkan mengapresiasi inisiatif ini karena dinilai mampu “menyelamatkan sekitar 8.000 batang pohon†(JPNN.com, 2024).
Masjid itu bukan sekedar simbol kreativitas, namun juga cermin keyakinan bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah. Ibadah sejati, menurut mereka, adalah menjaga bumi agar tetap menjadi tempat yang aman bagi semua makhluk.
Dalam hal pendidikan, Peacesantren Welas Asih menggunakan metode belajar yang disebut FIDS — Feel, Imagine, Do, Share. Para santri diajak untuk merasakan masalah di sekitar mereka, membayangkan solusi, melakukan aksi nyata, dan membagikan hasilnya kepada masyarakat. Model pembelajaran ini membuat santri terbiasa berpikir kritis, berempati, dan berani bertindak. Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam Jurnal Profetika (2023) mencatat bahwa pesantren ini berhasil menanamkan tiga nilai utama pada santri: empati, kemandirian, dan keberanian.
Bagi para pengasuh, pendidikan seperti ini adalah bentuk nyata dari ajaran Islam yang rahmatan lil \’alamin — rahmat bagi semesta alam. Mereka ingin santri memahami bahwa menjadi religius bukan hanya soal hafalan ayat, tapi juga bagaimana memperlakukan manusia dan alam dengan kasih. “Kami ingin melahirkan santri yang tak hanya hafal ayat, tapi juga memahami makna kehidupan di baliknya,†tulis mereka di situs resmi welasasih.school (2025).
Kini, gagasan besar Peacesantren Welas Asih harus bisa menyebar ke banyak tempat. Harus ada banyak orang di Indonesia yang terinspirasi untuk menerapkan langkah serupa: mengurangi plastik, menanam pohon, dan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Apa yang dilakukan santri di Garut ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil — dari membawa wadah sendiri, menanam satu bibit pohon, atau belajar mengolah sampah.
Sore hari di pesantren selalu tampak indah. Para santri menyiram tanaman sambil bercanda, beberapa membersihkan halaman, yang lain menyiapkan hasil kebun untuk makan malam. Semua dilakukan dengan senyuman, tanpa paksaan. Mereka tahu, merawat bumi bukan tugas tambahan — melainkan bagian dari ibadah.
Dari sebuah lembah hijau di Garut, pesan welas asih itu tumbuh dan menyebar: bahwa mencintai Tuhan juga berarti mencintai ciptaan-Nya. Peacesantren Welas Asih bukan sekadar tempat belajar, melainkan taman kasih yang menumbuhkan iman, empati, dan harapan bagi bumi yang lebih hijau dan damai.




