Rokok Lebih Penting dari Pendidikan? Data BPS Ini Harusnya Bikin Kita Nggak Nyaman
Eva Putriya Hasanah
Bayangkan ini: seorang anak kecil, sebut saja namanya Dimas, duduk di depan rumah sambil memegang bungkus nasi sisa pagi tadi. Ia menatap ke arah jalan, menunggu ayahnya pulang kerja. Tapi yang datang lebih dulu adalah asap rokok dari tetangga sebelah, juga dari kakeknya sendiri, yang dari tadi duduk sambil melinting tembakau.
Di dalam rumah, tidak ada buku cerita. Tidak ada majalah anak. Tidak ada rak buku. Yang ada, tumpukan kardus kosong dan bungkus rokok di meja. Dan mungkin, mimpi-mimpi yang terpaksa disimpan karena terlalu mahal untuk dibayar. Cerita Dimas bukan fiksi. Ini kenyataan yang terekam dalam data.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, rumah tangga miskin di Indonesia mengalokasikan 12,21% pengeluarannya untuk rokok, sementara untuk pendidikan hanya 2,7%.
Sekali lagi ya: rokok lima kali lebih besar dari pendidikan.
Kita semua pasti pernah mendengar jargon-jargon tentang pembangunan SDM, tentang pentingnya menyiapkan generasi emas 2045, dan bonus demografi yang katanya peluangnya besar menjadikan Indonesia jadi negara maju. Tapi, ketika melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 itu menjadi kenyataan yang cukup mengganggu dan membuat kita bertanya-tanya: apa benar kita sedang menyiapkan masa depan yang cerah?
Rokok jadi kebutuhan harian, pendidikan justru pilihan terakhir
Fenomena ini menyadarkan kita bahwa ada krisis prioritas pada banyak keluarga miskin. Bukan sekedar soal “tidak mampu membayar sekolah,†tapi lebih dalam dari itu: soal kebiasaan dan pilihan pengeluaran. Rokok dianggap sebagai kebutuhan harian yang normal, bahkan mungkin “wajib.†Sementara itu, biaya pendidikan seringkali dianggap sebagai beban, atau sesuatu yang hanya bisa dibayar jika ada sisa uang.
Bayangkan, betapa ironisnya, ketika anak-anak Gen Alpha—generasi yang seharusnya menjadi penerus kemajuan bangsa, tumbuh dalam lingkungan yang menormalisasi rokok, namun menganggap buku sebagai barang mahal. Mereka melihat orang dewasa di rumah ikut membakar uang melalui lintingan tembakau setiap hari, tapi harus mempertahankan beli seragam sekolah atau les tambahan karena “belum ada uang.â€
Data ini bukan sekadar angka, tapi potret nyata krisis pilihan hidup
Ketika kita berbicara tentang ketimpangan, banyak yang langsung berpikir tentang gaji kecil atau harga barang mahal. Namun terkadang permasalahannya bukan hanya di situ, tapi pada bagaimana uang yang sedikit itu dipakai. Dan ini bukan semata-mata soal menyalahkan keluarga miskin. Kita juga harus melihat bahwa sistem dan lingkungan sosial ikut membentuk kebiasaan ini.
Akses terhadap rokok sangat mudah. Harganya murah, iklannya masih ada di mana-mana, bahkan warung di dekat rumah pun menjual batangan. Sementara itu, pendidikan masih menghadapi banyak tantangan: mulai dari biaya yang tinggi, fasilitas yang tidak merata, hingga sistem belajar yang belum sepenuhnya adaptif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Akhirnya, banyak keluarga lebih memilih sesuatu yang instan (rokok memberi rasa tenang sesaat), dibandingkan sesuatu yang hasilnya jangka panjang (pendidikan baru terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian). Dan ini adalah tanda bahwa intervensi negara perlu diarahkan tidak hanya pada bantuan dana, tetapi juga pada perubahan perilaku konsumsi dan prioritas keluarga.
Risiko besar: memperpanjang rantai kemiskinan dari generasi ke generasi
Ketika pendidikan diabaikan sejak awal, artinya anak-anak dari keluarga miskin tidak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka tumbuh tanpa akses ke sumber daya yang bisa mengangkat mereka keluar dari lingkaran kemiskinan.
Akibatnya, kemiskinan menjadi warisan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan ini bukan hanya soal individu yang gagal sukses, tapi kerugian besar bagi negara. Bayangkan potensi anak-anak Indonesia yang hilang karena tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Bayangkan bakat, ide, dan inovasi yang tidak pernah muncul ke permukaan karena mereka tidak pernah diberi peluang.
Lalu Apa? Harus Menyalahkan Orang Tuanya?
Nggak segampang itu. Banyak keluarga miskin yang hidup dalam tekanan ekonomi dan sosial yang berat. Rokok kadang jadi pengungsi. Tapi di sisi lain, kita juga perlu bicara jujur: mengubah masa depan butuh keberanian mengubah kebiasaan.
Solusinya bukan hanya menyuruh berhenti merokok. Tapi juga:
• Memberikan edukasi keuangan rumah tangga yang kontekstual.
• Membuat buku dan fasilitas belajar lebih mudah diakses daripada rokok.
• Membangun kampanye publik yang menyentuh: bukan menyalahkan, tapi mengajak.
Dan tentu saja, kebijakan yang lebih berpihak pada pendidikan keluarga miskin — bukan hanya beasiswa, tapi juga pelatihan pola pikir dan manajemen keuangan keluarga.
Perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun langkah kecil yang dimulai dari sekarang dapat menentukan apakah kita benar-benar serius membangun kualitas SDM bangsa ini atau hanya menjadikan “bonus demografi†sebagai slogan kosong.
Ketika rokok lebih mudah dijangkau daripada buku, dan asap menjadi hal yang lebih umum daripada suara guru di rumah, kita harus bertanya: apa benar kita sedang menyiapkan generasi masa depan? Atau justru kita sedang menyiapkan mereka untuk kembali ke pola hidup yang sama — miskin, tanpa arah, dan penuh secepatnya?
Sudah waktunya berhenti memaklumi data seperti ini. Dan mulai bergerak. Demi generasi yang lebih layak untuk masa depan yang lebih baik.




