Teori Konflik Sosial (3)
Membicarakan teori konflik tentu sangat mengasyikkan, meskipun terkadang juga membuat kejengkelan. Hal ini tentu terkait dengan fakta atau realitas di mana konflik itu telah menjadi bagian di dalam kehidupan manusia semenjak dahulu kala, bahkan semenjak manusia awal tercipta di dunia ini. Konflik individu itu telah tersaji di dalam teks yang menyatakan bahwa putera Nabi Adam Alaihis Salam, Qabil dan Habil telah melakukan tindakan kekerasan sebagai bagian mendasar teori konflik, yaitu ketika Habil dibunuh oleh Qabil dalam perseteruan antar kerabat karena persoalan sesaji kepada Tuhan.
Konflik yang semula masih bercorak individual, lalu lama kelamaan menjadi konflik komunal bahkan konflik antar masyarakat dan konflik antar negara seirama dengan perkembangan masyarakat yang semakin kompleks. Satu kata kuncinya adalah adanya “keinginan†untuk menguasai satu atas lainnya. Jadi, “kepentingan†yang berbeda lalu menjadi penyebab terjadinya benturan antar individua tau masyarakat untuk memperebutkan agar kepentingannya yang tercapai dan yang lain gagal atau bahkan musnah. Makanya, kepentingan itu merupakan sesuatu yang abadi di dalam kehidupan di dunia. Jika seseorang memiliki kesamaan kepentingan, maka bisa berkerjasama, namun jika terjadi perbedaan kepentingan, maka lalu terjadi konflik. Sungguh dunia ini banyak diwarnai dengan konflik sosial yang diungkit dari persoalan perbedaan kepentingan.
Di antara teori konflik yang masih dominan hingga sekarang dan memiliki rujukan empiris yang tetap relevan adalah teorinya Charles Wright Mills dan Randal Collin. Keduanya merupakan teoretisi konflik yang berpengaruh terhadap perkembangan teori konflik pada tahap berikutnya, sehingga pantas untuk diangkat kembali berbagai proposisi dan pandangan-pandangannya sebagai bagian untuk membangun kepekaan akademis.
Charles Wright Mills
Charles Wright Mills dilahirkan di Waco Texas, Amerika Serikat, 28 Agustus 1916. Mills menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Wisconsin Madison, 1941 yang membahas tentang konsep pragmatism. Pernah mengajar di University of Maryland dan selanjutnya di Universitas Columbia lalu mendapatkan gelar professor tahun 1956. Mills banyak menulis, di antaranya adalah The New Man of Power:America’s Labor Leaders, White Collars: The American Middle Classes dan yang paling monumental dan menjadikan namanya sangat terkenal adalah bukunya yang berjudul The Power Elit. Tokoh yang satu ini banyak dipengaruhi oleh Karl Marx dan Max Weber.
Ada banyak gagasannya tentang teori sosial, misalnya konsep pluralisme, di mana yang menjadi intinya adalah bagaimana masyarakat barat berwatak dan mendistribusikan kekuasaannya. Dalam memandang kekuasaan dalam kaitannya dengan konsep elit pluralisme, maka digambarkan bahwa masyarakar Barat merupakan masyarakat demokratis yang meletakkan kekuasan pada proses kompromi dan penyebaran kekuasaan secara umum.
Sebagai seorang teoretisi, Mills juga mendapat inspirasi dari Gaetano Mosca dan Vilfredo Pareto yang terlebih dahulu membicarakan tentang elit kekuasaan. Berdasarkan studinya yang mendalam Mills sampai pada kesimpulan bahwa pengaturan kekuasaan dikendalikan dan didominasi oleh para elit. Mills berpandangan bahwa telah terjadi eksploitasi massa oleh elit. Dominasi terjadi karena kesamaan kepentingan, sementara itu eksploitasi terjadi karena konflik kepentingan.
Di dalam studinya tentang politik Amerika, maka diketahui bahwa terdapat fakta bahwa terdapat elit kuasa yang berada dibalik semua kebijakan pemerintah. Meskipun tidak bisa serta merta disebut sebagai teori konspirasi, namun gambaran yang bisa didapatkan bahwa terjadi orang-orang yang menduduki jabatan atau posisi penting untuk mempengaruhi dan memainkan kebijakan. Menurut Mills, bahwa Amerika dikuasai oleh tiga kelompok, yaitu presiden dan pejabat-pejabat pentingnya, para pengusaha atau pemilik modal dan pimpinan atau panglima militer. Tiga penguasa ini disebut sebagai Military-industrial complex. Di dalam konteks Amerika, ternyata bahwa yang dominan di dalam kebijakan pemerintah adalah militer dan pengusaha yang kemudian disebut sebagai military capitalism.
Saya lebih cenderung menggunakan istilah konspirasi dalam menjelaskan teori Mills ini karena di dalam praktik penyusunan dan penyelenggaraan kebijakan tentu ditentukan oleh tiga kelompok elit yang menguasai pemerintahan. Konsep Mills saya kira masih relevan untuk menjelaskan tentang pemerintahan dalam level tertentu, terutama terkait dengan system pemerintahan demokrasi yang terjadi dewasa ini.
Randal Collins
Randal Collins lahir di Knoxville Tennese Amerika Serikat, 29 Juni 1941. Beliau pernah mendapatkan penghargaan Ludwig Flex Prize. Collins mendapatkan Pendidikan di Universitas Califormia, Universtas Stanford dan Universitas Harvard. Sebagai seorang ahli sosiologi, Collins banyak dipengaruhi oleh Emile Durkheim, Erving Goffman dan Herbert Blumer.
Melalui pengaruh ahli ilmu sosial berparadigma fakta sosial dan definisi sosial ini, maka Collins menjadi ahli yang bisa menjembatani dua paradigma tersebut. Dari Durkheim Collins terpangaruh mengenai konsep ritual, dari Goffman terpengaruh atas konsep dramaturgi dan dari Blumer dia terpangaruh atas interaksionisme simbolik. Pengaruh Durkheim terlihat dari gagasannya tentang kedatangan dalam kebersamaan dalam ritual yang didasari oleh keyakinannya atau system of believe, sedangkan dari Goffman dan Blumer dipengaruhi dalam hal pandangannya mengenai peran dan interaksi dalam struktur sosial yang lebih luas.
Collins memiliki minat yang besar dalam studi-studi tentang sejarah perubahan sosial politik dan ekonomi makro, sosiologi intelektual dan teori konflik sosial. Mills dikenal sebagai ahli teori konflik sosial non-Marxian. Sebagai sosiolog, Mills mengabdikan ilmu pada Universitas Pennsylvania. Dalam konsepnya tentang emotional energy dinyatakan bahwa terdapat sejumlah kekuatan emosional yang berpengaruh terhadap tindakan seseorang. Jadi bukan hanya satu emosi yang menggerakkan akan tetapi terdapat sejumlah emosi yang menentukannya. Emosi yang dibicarakan Collins bukan emosi dalam pandangan psikhologis, yang bercorak individual namun emosi yang terkait dengan dunia sosial dan budaya meskipun mikro. Dalam pandangan Collins, bahwa budaya merupakan sesuatu yang bercorak simbolik yang digunakan dalam pertukaran symbol sacral dalam suatu unit kelompok. Jika seseorang menggunakan symbol secara kelompok maka disebut sebagai modal budaya umum, jika dilakukannya di dalam kelompok khusus disebut sebagai modal budaya particular dan jika seseorang menggunakan modalitas individul untuk meminta kepada yang lain dalam kepentingan tertentu maka disebut sebagai modal budaya reputasi.
Sebagai teori yang banyak berpengaruh dalam dunia ilmu sosial, maka kajian Collins bisa bermanfaat untuk mengkaji relasi antara individu dengan masyarakat melalui pemanfaatan modal budaya dan sosial baik yang bercorak umum maupun khusus. Misalnya mengkaji perbedaan makna symbol bagi organisasi sosial keagamaan dan peluangnya untuk saling berebut penguasaan di dalamnya.
Contoh lain adalah bagaimana pengaruh symbol tokoh agama bagi organisasi sosial keagamaan dan peluangnya untuk terjadinya konflik atas pemaknaan yang berbeda.
Wallahu a’lam bi al shawab.
Bahan Bacaan
Nur Syam, Bukan Dunia Berbeda, Sosiologi Komunitas Islam. (Surabaya: Eureka, 2004).
Nur Syam, Model Analisis Teori Sosial. (Surabaya: IAIN Press, 2009).
You may also like
Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Ilmu Kesehatan Transendental
Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Ekonomi Syariah
Integrasi Sains dan Ilmu Agama: Pendidikan Transendental

