Kiai Cholilurrohman: Ciri Pemimpin Masa Depan
Pengantar
“Indonesia adalah negara yang kita cintai dan di Indonesia pula kita semua mengamalkan ajaran Islam, yang disebut sebagai Islam wasathiyah, Islam rahmatan lil alamin atau Islam ahlu sunnah wal jamaah. Kita bersyukur bisa hidup di negara Indonesia yang aman dan damai sehingga kita semua bisa mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Rasa syukur itu yang harus terus menerus dikumandangkan dalam pernyataan maupun dalam tindakanâ€. Inilah pengantar Kiai Cholilurohman dalam sambutannya pada acara di Pondok Pesantren Bahrul Huda Tuban, 14/10/2020.
Selanjutnya, beliau juga menyatakan: “Indonesia ini akan memiliki gawe besar untuk memilih para pimpinan daerah atau bupati/wakil bupati atau walikota/wakil wali kota. Makanya, kita semua harus arif ketika memilih para pemimpin tersebut, agar negeri ini semakin lama akan semakin baik yang disebabkan oleh para pemimpinnya yang menjaga amanah, yang jujur dan bertanggungjawab. Jadi jangan salah memilih sebab pilihan tersebut merupakan pertaruhan akan nasib kita semua, warga negara Indonesia, khususnya yang beragama Islam. Kita semua sangat tergantung kepada para pemimpin yang memiliki ciri-ciri sebagai pimpinan yang baikâ€.
Kiai Cholilurrohman dan Kiprah Dakwahnya
Kiai Cholilurrohman atau biasa disebut Kiai Kholil, lahir di Tuban, 10 Nopember 1947. Beliau menyelesaikan pendidikan di lembaga-lembaga Pendidikan Islam. Dimulai di MI Bangilan, PGA Bojonegoro dan IAIN Malang. Sementara sebagai seorang santri beliau termasuk santri kelana yang nyantri di banyak lembaga pesantren, antara lain di Sarang, Tanggir, Lasem dan Mranggen. Beliau belajar di Kiai Maimun Zubair, dan juga Kiai Muslih Mranggen. Banyaknya kyai yang mengasuhnya, sehingga pantaslah kalau kemudian Beliau menjadi Kyai yang mumpuni di dalam ilmu keislaman. Lalu sebagai mahasiswa, Beliau juga aktif di PMII Cabang Malang.
Berkat penguasaan ilmu keislaman yang sangat mendalam tersebut, maka beliau menjadi aktivis NU yang luar biasa. Beliau menapaki dunia organisasi dari yang paling bawah, yaitu sebagai pimpinan LDNU Tuban, Ketua LP Maarif Tuban, Wakil Syuriah dan kemudian menjadi Ketua Syuriah NU Cabang Tuban dalam lima periode. Beliau memang orang NU tulen atau NU Tus, karena memang dilahirkan dari tokoh NU, Kiai Fathurrahman bin Kiai Asy’ari dan Bu Nyai Dewi Khafsah binti Thayyib. Mertuanya, Kiai Murtadji adalah tokoh NU Tuban yang sangat berpengaruh pada masanya. Kiai Murtadji dikenal sebagai tokoh NU yang sangat nasionalistis terutama di dalam menghadapi Gerakan PKI di sekitar tahun 1965. Bu Nyai Istianah, isteri Kiai Kholil adalah putri Kiai Murtadji.
Kiai Cholil dan Bu Nyai Istianah dikaruniai enam orang putra. Dr. Ahmad Shofi Mubarak, Dr. M. Lathoif Ghazali, Lc, MA., Ahmad Robith Fuadi, MSi., Ahmad Lubab, MSi., Ahmad Fikri, Sap., dan M. Ahaila Tsauro. Dr. M. Lathoif Ghazali dan Ahmad Lubab adalah dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya. Dr. M. Lathoif di PPs UIN Sunan Ampel, sementara Ahmad Lubab, MSi di Fakultas Saintek UIN Sunan Ampel Surabaya. Dr. Lathoif adalah alumnus Al Azhar University dan Jami’ah Alqur’an Alkarim Khartoum Sudan.
Saya mengenal Romo Kiai Cholil dalam kapasitas sebagai muridnya. Pada waktu saya belajar di PGAN 4 Tuban dan PGAN 6 tahun Tuban, maka beliau adalah salah seorang guru yang sangat dekat dengan para muridnya. Beliau mengajar dengan ciri khasnya, memakai kopyah yang tidak pernah lepas, sebagai ciri seorang kiai yang memang menjaga muruahnya. Memakai kopyah adalah bagian dari tradisi umat Islam Indonesia, terutama para ulama atau kiai.
Saya belajar di PGAN 4 Tahun yang tempatnya di Jalan AKBP Suroko dekat lapangan bola di masa lalu dan sekarang menjadi tempat parkir bagi peziarah Kanjeng Eyang Sunan Bonang. Saya ingat kalau jam olah raga, maka kita menggunakan lapangan bola tersebut sebagai tempat olahraga. PGAN 4 Tahun itu berada di sebelah kiri, kalau kita berjalan dari arah Jalan Basuki Rahmat. Selain Pak Kiai Kholil begitu saya menyapanya juga ada Kiai Mashad, Pak Asnawi Amir, Pak Hanafi, Pak Saifullah, Pak Anas Yohanes, Bu Basyirah, Pak Kiai Zawawi, Bu Nur Asiyah, Bu Wiwik, Bu Lilik Malichah, Pak Mughni dan lainnya. Pak Kiai Kholil mengajar tafsir Al-Qur’an dan saya masih ingat ayat yang beliau sampaikan saat mengajar.
Selain sebagai guru di PGA beliau juga aktif berdakwah. Beliau berdakwah di desa-desa di Tuban, Lamongan dan juga Lasem. Tema-tema pengajian yang dibawakannya sangat relevan dengan kehidupan masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Beliau berdakwah sesuai dengan alam pikiran dan keberagamaan masyarakatnya. Beliau berceramah dengan nada yang khas. Suaranya yang lantang dan berbobot membuat jamaah pengajiannya merasa nyaman. Saya pernah mengundang Beliau untuk ceramah walimatul arusy, dan yang menjadi tema pengajiannya adalah tentang bagaimana pasangan suami istri dapat memiliki anak yang cerdas dan berperilaku baik. “jangan lupa membaca doanya dulu, jangan langsung tancep†tuturnya. Bekal keilmuan Islam yang sangat mendalam dan dipadukan dengan kemampuan retorika yang baik menjadikan beliau diterima berdakwah di berbagai segmen masyarakat. Baik orang kampung sampai kalangan birokrat. Semua menyenangi dakwahnya yang segar dan berbobot.
Lama sekali saya tidak mendengarkan ceramahnya, terutama di kala saya berada di Jakarta. Kemarin, 14 Oktober 2020 bertepatan dengan Hari Rebo Wekasan bulan Safar, pada acara Ground Breaking masjid di Pondok Bahrul Ulum Tuban, saya mendengarkan kembali ceramahnya. Di Pondok Pesantren Kyai Fathul Huda (Bupati Tuban), beliau memberikan sambutan atas nama Rois Syuriah PC NU Tuban.
Sesuai dengan Sambutan Pak Bupati, bahwa masjid ini akan dinamai Masjid Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Izin pemberian nama tersebut sudah disepahami oleh Kyai Marzuki Mustamar Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, namun Pak Huda akan tetap meminta izin dari keluarga Kiai Hasyim Asy’ari. Selain KH. Fathul Huda, dan Kiai Kholil, juga Habib Musthafa dari Bangilan Senori Tuban memberikan taushiyah.
Di dalam ceramahnya, Kiai Kholil menyatakan bahwa pemerintah sebentar lagi akan memiliki gawe besar pilihan pimpinan daerah. Termasuk di Kabupaten Tuban. Beliau berpesan agar memilih pemimpin yang benar. Menurut Beliau bahwa pemimpin yang benar itu harus memiliki tiga ciri, yaitu:
Pertama, menjadi teladan. Seorang pemimpin itu merupakan teladan kebaikan. Harus orang yang ahli ibadah, ahli wirid, dan menjadi teladan di dalam perilakunya. Harus seorang yang dermawan jangan orang yang pelit atau medit. Jika dia meminta orang lain untuk shodaqah, maka dia harus ahli shodaqah. Kalau dia meminta kita mengamalkan ajaran agama yang benar, maka dia adalah contoh dalam pengamalan agama yang benar. Kalau kita ingin umat Islam semakin baik dalam amalan ibadahnya, maka harus dipilih orang yang benar mengamalkan ajaran Islam. Menjadi teladan dalam mengamalkan Islam wasathiyah, atau Islam rahmatan lil alamin.
Kedua, melayani umat. Pilihlah pemimpin yang bisa melayani umat. Seluruh warga Tuban semua dilayani dengan baik. Jadi tidak hanya melayani dirinya sendiri, keluarganya, kerabatnya dan orang-orang terdekatnya saja tetapi melayani seluruh umat yang hidup di Tuban. Jangan menumpuk harta untuk kepentingan dirinya sendiri. Kebijakannya harus ditujukan untuk kebaikan umat. Oleh karena itu, carilah pemimpin yang bisa membawa aspirasi umat, tidak hanya umat Islam tetapi juga umat agama lain. Berikan kepada umat kebaikan agar mereka merasakan kebaikan pula di dalam kehidupannya.
Ketiga, merasakan penderitaan umat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa merasakan penderitan umatnya. Jangan sampai pimpinannya hidup berkecukupan tetapi rakyatnya tidak merasakannya. Pimpinan yang baik adalah pimpinan yang mengetahui dengan tepat apa yang menjadi kesulitan warganya dan ketika kesulitan tersebut berada di tengah masyarakatnya, maka pimpinannya hadir untuk memberikan solusinya. Beliau mengharap agar warga Tuban cerdas memilih pimpinannya agar kehidupan beragama dan kehidupan sosial ekonominya semakin baik.
Mendengarkan ceramah beliau, maka ingatan saya menerawang sekian puluh tahun yang lalu ketika beliau mengajar saya di kelas. Ayat yang Beliau sampaikan tentang menjadikan orang Islam yang benar sebagai pimpinan di kelas itu terasa hadir kembali di ruang peletakan batu pertama Masjid KH. Hasyim Asy’ari yang kemarin diselenggarakan di Pesantren Bahrul Huda.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like


