Refleksi Peringatan Hari Ibu; Makna Peran Ibu Dalam Budaya Jawa Dan Agama Islam
Oleh: Dewi Kumalasari
(Mahasiswi Program Doktor UIN Sunan Ampel Surabaya)
Setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu. Penetapan tanggal tersebut memutuskan dalam kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Dan secara resmi, penetapan tanggal 22 Desember sebagai peringatan sebagai peringatan hari Ibu setelah adanya Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 yang menyatakan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional setiap tahunnya.
Pada awalnya Peringatan Hari Ibu dilatar belakangi oleh semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk mengingatkan seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda akan makna Hari Ibu sebagai hari kebangkitan dan persatuan serta perjuangan kaum perempuan bangsa yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan.
Ibu merupakan sosok yang istimewa, sangat penting bagi kehidupan manusia dan kemajuan suatu bangsa. Seorang wanita, perempuan yang pada akhirnya menjadi seorang Ibu, mampu menjalankan beberapa peran dalam satu waktu. Baik itu peran sebagai pribadi, istri, ibu, anggota masyarakat, guru, kepala keluarga, tulang punggung keluarga, pemimpin/penggerak komunitas, perempuan karir dan lain sebagainya. Sosok ibu mampu melakukan berbagai peran, namun tak seorang pun mamapu melakukan peran ibu.
Dalam beberapa ungkapan Jawa sering kita dengar bahwa peran perempuan atau seorang ibu adalah di Dapur, Sumur dan kasur. Janganlah kita larut dalam makna negatif dari ungkapan-ungkapan tersebut, Namun mari kita maknai secara positif, sebagaimana disampaikan oleh khilma anis bahwa peran perempuan atau seorang ibu di dapur tidak hanya sebagai koki atau juru masak. Namun dengan pemaknaan yang positif, yaitu bagaimana seorang ibu tampil sebagai ruh dalam keluarga, yang memberikan kehidupan bagi keluarga dengan menyiapkan makanan yang sehat, halal serta baik. Sehingga terwujud keluarga yang sehat dan tangguh.
Ungkapan yang kedua bahwa seorang perempuan, wanita atau seorang Ibu pimpinan dengan baik. Dalam pemaknaan positif adalah perempuan, wanita dan seorang ibu harus bias menjadi sinobo yang sehat. Sumur sinobo adalah sumur yang berada di padang pasir, yang mana setiap orang yang melewati sumur tersebut tertarik untuk mampir, meneguk air untuk menghilangkan rasa haus dan berteduh. Artinya, seorang ibu harus bisa menjadi tempat bertanya bagi putri putrinya, saudaranya, masayarakat dan semuanya. Hal ini sebagaimana dalam ajaran agama Islam bahwasanya Ibu adalah Madrasah/sekolah pertama bagi putra putrinya. Oleh karena itu, seorang perempuan, perempuan dan seorang ibu harus terus belajar dan menuntut ilmu baik itu ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Tidak ada batasan bagi perempuan, perempuan dan ibu dalam hal pendidikan dan akademik. Karena memang sejatinya seorang perempuan adalah pembelajar sejati. Dalam menghadapi berbagai permasalahan keluarga, menghadapi karakter putra putri yang berbeda satu sama lain, memaksa seorang ibu untuk terus belajar guna menemukan solusi dan menjawab semua persoalan hidup dalam keluarga maupun yang ada di masyarakat. Karena memang dalam agama Islam menuntu ilmu wajib mulai dari Rahim ibu sampai ke liang lahat.
Ungkapan jawa yang ketiga adalah, peran perempuan adalah di kasur. Artinya adalah bahwa seorang ibu sebagai penenang yang bisa menciptakan dan memberikan kenyamanan. Sehingga anggota keluarga ketika berada di luar rumah, selalu rindu untuk pulang ke rumah karena di rumah ada sosok ibu yang selalu memberikan rasa aman, nyaman. Ibu adalah sosok yang penuh perhatian dan kasih sayang, perhatian dan kasih sayangnya tanpa terkecuali. Dalam kondisi lelah pun, seorang ibu masih memikirkan kebutuhan anggota keluarganya.
Sungguh berat dan mulia peran seorang ibu, rasanya tidak berlebihan jika kira-kira kita menganggap semua ibu itu hebat. Karena sosok ibu mampu melaksanakan tugas dan berbagai pekerjaannya dalam satu waktu. Sosok ibu seringkali disebut sebagai ibu peradaban, karena sosok ibu adalah sumber kehidupan. Dari rahimnya lahirlah generasi- generasi penerus peradaban bangsa. sehingga Agama Islam sangat memuliakan seorang ibu dan memposisikan kedudukan seorang ibu tiga tingkat lebih tinggi dari seorang ayah. Dan Allah meletakkan esensi surga di bawah telapak kaki ibu.
Selain itu, dalam hadits nabi disebutkan bahwa doa seorang ibu untuk anaknya, bagaikan doa seorang nabi untuk umatnya. Dengan kata lain, doa seorang ibu untuk anaknya itu mustajabah atau dalam bahasa jawa disebut \’mandi\’. Dalam ajaran jawa wanita tidak hanya \’wani noto atau wani ditata\’ tapi esesnsi wanita adalah wani tapa, Berani bertapa. Bertapa artinya seorang wanita atau ibu tetap tenang dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidupnya namun tetap terhubung dengan yang maha kuasa dengan merapal doa dan wirid untuk memohon pertolongan yang maha kuasa. Sebagaimana posisi orang yang sedang bertapa, dengan duduk bersila dan kedua telapak tangan menelungkup mengarah ke atas. Dari bertapa itu menghasilkan keteguhan diri, kemudian dari keteguhan diri tersebut mewujud tapak atau telapak. Pada telapak lah kekuatan perempuan itu berada,
Oleh karena itu, kita sebagai anak jangan pernah lupa untuk minta keridhaan dan doa tulus ibu di setiap aktivitas dan hari-hari kita. Dan kita yang berpredikat sebagai Ibu, berhati-hatilah –hati dalam berucap. Karena ucapan seorang ibu untuk anak-anaknya adalah doa. Ucapkan yang baik-baik saja pada anak kita, meskipun kita dalam rasa jengkel atau kecewa pada anak-anak kita. Karena kesuksesan dan kebahagiaan seseorang tidak lepas dari tirakat dan doa seorang ibu.
Selamat hari ibu untuk semua ibu hebat di seluruh penjuru dunia. Teruslah bahagia dalam menjalankan semua peran, karena esensi surga ada di bawah telapak kaki ibu.
You may also like


