Bakti Santri Untuk Negeri: Menteri Agama dalam Gebyar Penutupan Hari Santri Nasional (Bagian Dua)
Sungguh tepat tema Hari Santri Nasional 2025 yang berbunyi: “Bakti Santri Untuk Negeriâ€. Tema ini berpesan bagi semua masyarakat Indonesia, bahwa santri memiliki peran yang sangat signifikan di dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri memiliki kontribusi yang signifikan semenjak pra kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan, bahkan hingga era pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia dewasa ini.
Pesantren telah menghasilkan kader-kader bangsa yang sangat militan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Misalnya dengan para tokoh pesantren yang dinobatkan sebagai pahlawan bangsa. Sebut beberapa nama, misalnya Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Wahab Hasbullah dan lain-lain. Semuanya mengisi lembaran sejarah bangsa Indonesia dengan catatan tinta emas, yang tidak akan pernah dilupakan.
Suatu peristiwa yang menjadi tonggak sejarah bangsa adalah fatwa jihad yang dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari, yang diabadikan menjadi Hari Santri Nasional, merupakan wujud dari panggilan jihad yang sangat tepat di kala bangsa Indonesia berupaya untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1945. Melalui seruan jihad tersebut, maka santri bersama masyarakat dan pasukan Sabilillah melakukan tindakan terukur untuk melawan penjajah. Kalimat “Allahu Akbar†yang digelorakan oleh Bung Tomo mendorong para santri yang berkolaborasi dengan kekuatan rakyat untuk melawan penjajah. Luar biasa.
Artikel ini membahas tentang sambutan Prof. Dr. Anre Gurutta, Nasaruddin Umar, MA dalam pidato Gebyar Penutupan Hari Santri Nasional, 24/10/2025, yang diselenggarakan di Gedung Sasana Budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang meriah dengan panggung modern-Islami dan latar music modern-spiritual, berupa orchestra dan tampilan shalawatan yang dilantunkan oleh Putri Ariyani, perempuan Indonesia yang menggegerkan dunia American Idol karena talentanya yang luar biasa. Sungguh merupakan corak identitas modernitas berbasis spiritualitas yang indah.
Pertama, rasa syukur sangat penting diungkapkan dalam kesempatan yang istimewa hari ini, sebab kita semua bisa menghadiri acara Gebyar Penutupan Hari Santri Nasional yang terselenggara dengan sangat baik dan penuh dengan kedamaian. Semua ini bisa terselenggara karena adanya toleransi yang menghadirkan kerukunan dan harmoni social. Indonesia adalah negara yang paling toleran di dunia. Kita adalah contoh tentang kerukunan beragama yang sangat tinggi. Sebuah negara dengan pluralitas dan multikulturalitas paling kompleks di dunia tetapi memiliki kerukunan yang luar biasa. Kita berbineka dalam suku bangsa, bahasa dan agama tetapi satu juga adanya, yaitu sebagai bangsa Indonesia.
Kita tidak bisa membayangkan hidup di negara-negara yang tingkat konfliknya tinggi. Di sini, Kita dapat melakukan ibadah dengan tenang, kita dapat melakukan relasi social tanpa ada ketakutan. Negeri ini mayoritas muslim, 87 persen, akan tetapi tidak terjadi dominasi mayoritas dan tirani minoritas. Terdapat kesetaraan sebagai warga negara. Antara yang mayoritas dan minoritas dapat berbagi kebaikan dan keselamatan. Inilah indahnya Indonesia, tidak hanya di mata orang Indonesia tetapi juga bagi orang luar negeri.
Kedua, kita juga merasa bangga dan bahagia karena Presiden Prabowo memberikan perhatian yang luar biasa terhadap umat beragama di Indonesia. Pak Presiden di dalam banyak kesempatan menyatakan bahwa kerukunan umat beragama adalah modal dasar di dalam membangun kehidupan social. Perhatian Bapak Presiden atas rakyat yang belum memperoleh kesejahteraan juga sangat besar. Diberlakukannya program Sekolah Rakyat (SR) bagi masyarakat miskin di Indonesia adalah wujud keberpihakan presiden atas kehidupan warga negara. Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi masyarakat yang belum beruntung secara ekonomi.
Mereka dapat mengakses pendidikan berkualitas gratis, bahkan sehari-hari pada waktu sekolah mereka menggunakan pakaian rapi dan berdasi. Kemudian juga program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program orisinal keindonesiaan. Tidak ada negara lain yang melakukannya. Pak Presiden menyadari bahwa generasi muda adalah tumpuan Indonesia ke depan. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang akan menyukseskan Tahun Indonesia Emas, 2045. Genap 100 tahun Indonesia Merdeka. Tidak kalah menarik adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Sekolah Garuda, yaitu sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak cerdas yang kurang beruntung dalam kehidupan ekonominya.
Ketiga, yang juga tidak kalah sensasional adalah persetujuan Bapak Presiden tentang pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Ini merupakan kado terbaik pimpinan tertinggi negara, Presiden Prabowo, kepada masyarakat Indonesia, khususnya pesantren dan para santrinya. Hal ini disampaikan di dalam pidatonya menyambut Hari Santri Nasional, yang mana Pak Presiden telah menyetujui Izin Prakarsa Pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Kado ini merupakan unforgetable moment bagi masyarakat Indonesia sebagai jawaban atas kerisauan banyak pihak atas realitas social pesantren dewasa ini.
Di tengah simpang siur tentang pemberitaan negative pesantren, Pak Prabowo justru memberikan kepastikan bahwa negara harus hadir bagi lembaga pendidikan pesantren yang telah menghasilkan jutaan manusia Indonesia yang terdidik. Pesantren merupakan lembaga keagamaan yang telah berkontribusi di dalam pengembangan sumber daya manusia, yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan yang agung.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

Epistemologi dan Aksiologi Moderasi Beragama

Gelar Karya Professor: Manusia, Agama dan Teknologi


