Haflah Akhirus Sanah KB &TK Al Hikmah: Pendidikan Berkualitas
Hari Senin, 22/06/2026, sebenarnya saya harus menguji dalam Ujian Terbuka atas Disertasi yang ditulis oleh Promovendus Lukman Hakim, sebagai promotor dan penguji, akan tetapi waktunya bersamaan dengan acara Haflah Akhirus Sanah pada Yayasan Qarya Jadida di Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak Tuban. Jadwal pada acara Haflah ini sudah beberapa kali ditunda, sehingga saat ada undangan untuk Ujian Disertasi tersebut, maka dengan terpaksa saya meminta agar dapat dilakukan dengan daring. Akhirnya keduanya dapat dilakukan. Setelah saya memberikan sambutan pada Haflah akhirus Sanah, maka saya mengikuti ujian disertasi. Dua pulau terlampaui.
Acara ini menjadi ajang unjuk kebolehan anak-anak TK. Mulai dari pembawa acara, sampai tari-tarian dilakukan oleh para siswa. Hanya bacaan shalawatan yang dilakukan oleh Ibu-Ibu wali murid. Shalawatan yang penuh kehikmatan. Apalagi di kala berdoa: “Rabbi faghfirli dzunubi Ya Allah, bibarkatil hadi Muhammad Ya Allah”. Acara tariannya juga banyak, misalnya tarian Singa, tari jangan ngambek saja, tari candik ayu, tari samba dan tari rindu Muhammadku. Semua tarian dibawakan oleh siswa dan siswi TK Al Hikmah. Penampilan tersebut dapat menjadi ajang bagi unjuk kemampuan para siswa dalam acara-acara yang menarik.
Saya sampaikan tiga pesan mendasar pada acara dimaksud, selain memberikan pertanyaan pada orang tua dan lulusan KB & TK Al Hikmah, yaitu:
Pertama, saya mengapresiasi atas ketahanan dan pengembangan KB & TK Al Hikmah, sebab institusi pendidikan ini masih tetap siswanya. Di tengah semakin banyaknya lembaga pendidikan yang berupa KB & TK, setiap desa memilikinya, akan tetapi lembaga ini tetap eksis. Lembaga yang benar-benar untuk orang desa. Sesuai dengan kapasitas kekayaan yang dimiliki orang desa. Bisa dibayangkan jika di KB & TK bisa menarik uang dalam berbagai macam dengan jutaan bahkan puluhan juta, maka di sini tidak ada tarikan apapun, kecuali uang sebesar Rp30.000,00 setiap bulan. Rp1.000,00 setiap hari. Tetapi kualitasnya tidak kalah dibandingkan dengan KB & TK di kota-kota besar. Penguasaan Alqur’an Juz Amma atau Juz 30 sampai di Surat Al Bayyinat, dan penguasaan materi fiqih, sejarah Islam dan lainnya yang sangat mendasar. Saya ucapkan terima kasih kepada pimpinan dan ustadzah yang sudah mendarmabaktikan kehidupannya untuk pendidikan Islam. Saya juga mengapresiasi kepada para orang tua siswa yang selama ini sudah mendukung terhadap pengembangan KB & RA Al Hikmah. Tanpa partisipasi Ibu-ibu, maka institusi pendidikan tentu tidak berkembang.
Kedua, saya sampaikan agar para Ibu dan hadirin mendawamkan untuk membaca kalimat “subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.” Bacaan ini, saya dapatkan di dalam Kitab Riyadhus Shalihin karangan Syekh Imam Nawawi. Di dalam hadits tersebut diceritakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “setiap pagi ruas-ruas tulang kita membutuhkan sedekah. Dan sedekahnya adalah dengan ungkapan tasbih atau subhanallah, lalu tahmid atau alhamdulillah, lalu dengan tahlil atau la ilaha illallah, dan dengan takbir atau Allahu Akbar. Semua perbuatan baik juga sedekah untuk badan kita”. Atas kecerdasan para ulama kita, maka empat kata tersebut dinyatakan di dalam satu kalimat menjadi “subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar”. Kita tinggal membacanya, memperoleh pahala dan menjadi sehat.
Saya kemudian bertanya: “Ibu-ibu siapa yang sudah hafal dengan wirid ini”? Lalu ada seorang Ibu yang menyatakan sudah hafal. Microfon saya berikan dan kemudian dibaca lafal tersebut dengan fasih, maka saya hadiahi uang sebesar Rp10.000,00. Yang penting hepi, berapapun uang yang diterimanya. Ibu-ibu saya harapkan agar dapat membaca kalimat ini untuk kepentingan memberikan sedekah kepada tubuh kita, jasad kita, tulang dan seluruh organ tubuh kita: hati, jantung, otak, limpa, pencernaan, dan semuanya.
Ketiga, kualitas anak-anak TK tentu tidak mengecewakan. Saya memang sengaja untuk mengujinya di dalam acara-acara seperti ini. Acara uji kemampuan tersebut memang tidak direncanakan. Spontan saja. Saya memang siapkan uang pecahan lima ribuan. Sekali lagi hanya untuk hiburan. Siapa yang dapat menjawab pertanyaan saya, maka saya beri hadiah. Ada beberapa pertanyaan. “Dimulai dengan ada berapa rukun islam dan sebutkan”. Mereka dapat menjawab dengan benar. Lalu pertanyaan: “berapa jumlah rasul di dalam Islam”?. Dan ada siswa yang menjawabnya dengan benar. Lalu pertanyaan: “siapakah Nabi pertama di dalam Islam”?. Ada siswa yang bisa menjawabnya dengan benar. “Siapakah Nabi terakhir”? Ada siswa yang menjawabnya dengan benar. Lalu, “siapa yang hafal Surat Al Kafirun”? Ada juga siswa yang membacanya dengan bacaan tajwid yang benar.
Ini tentu hanya sebagian kecil dari apa yang sesungguhnya dikuasai oleh para siswa. Tetapi keberanian dan kemampuan menjawab pertanyaan ini yang harus diapresiasi. Sungguh saya melihat bahwa kemampuan anak-anak TK itu sungguh tidak kalah dibandingkan dengan anak-anak TK di perkotaan. Mereka juga sudah bisa membaca dan menulis.
Jadi, kualitas pendidikan tidak harus berbiaya mahal dan sarana-prasarana yang hebat. TK di Dusun Semampir, Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Tuban ternyata mampu menjawab bahwa kualitas pendidikan sangat tergantung pada kualitas gurunya dan keikhlasan para pengasuhnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




