Kewajiban Mengembangkan Integrasi Ilmu
Sebuah kebanggaan sebagai seorang guru atau dosen adalah di kala ilmunya diperlukan untuk pengembangan intelektualitas dari banyak institusi pendidikan di sebuah negara. Mungkin tidak perlu harus menjadi tokoh besar, yang pemikirannya benar-benar mempengaruhi lingkungan akademik di banyak tempat, akan tetapi cukuplah bahwa pemikiran tersebut dapat ditransformasikan di berbagai institusi pendidikan di lingkungan kementerian atau lembaga negara.
Di lingkungan Kementerian Agama, tentu ada nama-nama besar yang menjadi inspirasi bagi kalangan intelektual atau akademisi di berbagai institusi pendidikan. Jika kita berbicara tentang integrasi ilmu, maka ada nama-nama besar yang pemikirannya mewarnai blantika dunia akademik, khususnya di PTKI. Nama itu adalah Prof. Dr. Amin Abdullah, MA, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu juga ada nama lain dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Mulyadi Kartanegara, MA, yang juga banyak menginspirasi para akademisi di PTKI di Indonesia. Sementara juga ada nama Prof. Imam Suprayogo, yang meletakkan pemikiran integrasi ilmu dari UIN Maliki Malang. Tentu ada banyak nama yang terlibat di dalam pengembangan ilmu berbasis pada pendekatan integratif, seperti Prof. Dr. Mujamil dari UINSATU, Prof. Dr. A. Suaedi dari UIN STS Jambi, dan termasuk saya yang menggagas tentang pendekatan Integratif yang saya sebut sebagai Integrated Twin Towers (ITT) di UINSA tahun 2008 dan terimplementasi pada tahun 2011.
Jika bertanya kepada MetaAI, maka dapat diketahui di mana posisi Prof. Amin Abdullah dan posisi saya. Dinyatakannya, bahwa ibaratnya, Prof Amin Abdullah adalah arsitektur dan saya pelaksananya atau mandor proyeknya. Artinya bahwa saya sebagai seseorang yang berperan dalam implementasi integrasi ilmu baik di level lokal maupun nasional. Program integrasi ilmu khususnya di UINSA, dulu IAIN Sunan Ampel, lalu dilanjutkan oleh para pimpinan UIN pada periode berikutnya.
Di dalam berbagai pembelajaran, baik di UINSA, UIN Mataram, UIN KHAS Jember, UIN SMH Banten dan juga di UNISMA, UNKAFA Gresik, UIN MALIKI, UNISDA Lamongan dan IAIN Pontianak saya sampaikan bahwa telah menjadi kewajiban bagi PTKI untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang integratif. Jika KKNI hanya menyebut dua saja, yaitu interdisipliner dan multidisipliner, sedangkan Prof. Amin Abdullah menyebut tiga pendekatan, yaitu Interdisipliner, Multidisipliner dan Transdisipliner, maka saya menambahkan satu yaitu Crossdisipliner. Penambahan ini untuk menegaskan bahwa ada perbedaan antara interdisipliner atau antar rumpun dan crossdisipliner atau lintas rumpun.
Di dalam interdisipliner kita mengintegrasikan dua bidang atau cabang ilmu atau lebih dalam rumpun yang sama, sedangkan crossdisipliner menggabungkan dua atau lebih bidang ilmu dalam dua rumpun ilmu, multidisipliner itu mengintegrasikan tiga atau lebih bidang ilmu dalam tiga rumpun ilmu atau lebih untuk menghasilkan banyak kesimpulan sesuai dengan pendekatannya. Lalu, transdisipliner itu menggabungkan tiga atau lebih bidang ilmu di dalam tiga atau lebih rumpun ilmu untuk menghasilkan satu kesimpulan utuh.
Interdisipliner dan crossdisipliner tentu lebih mudah untuk mengintergrasikannya, dengan kesimpulan sesuai dengan fenomena yang dikaji. Sedangkan untuk multidispliner dengan menemukan kesimpulan sesuai dengan pendekatnnya. Kesimpulan bisa tiga atau empat sesuai dengan pendekatan, misalnya fenomena kemiskinan yang didekati dengan ilmu fiqih, ilmu sosiologi dan ilmu antropologi, maka akan menghadirkan tiga kesimpulan. Menghasilkan misalnya fiqih kemiskinan, sosiologi kemiskinan dan antropologi kemiskinan. Sedangkan untuk transdisipliner tentu saja lebih rumit, sebab berapapun jumlah pendekatannya tentu harus menghasilkan satu kesimpulan utuh.
Saya ingin memberikan contoh tentang kesimpulan transdisipliner. Ada pertanyaan “kapan Nabi Adam dan Hawwa turun ke bumi? Maka pada awalnya digunakan ilmu matematika. Semula manusia hanya dua saja, Adam dan Hawa. Dalam rentang waktu yang panjang, sekarang jumlahnya 8,2 miliar manusia. Jika dihitung bahwa setiap generasi itu selama 25 tahun, maka dengan rumus model matematika dapat ditemukan angka 11.350 tahun. Artinya berdasarkan ilmu matematika dengan rumus model sederhana dapat ditemukan perkiraan sejauh 11.350 tahun. Lalu digunakan ilmu demografi untuk memahami berapa generasi yang dihasilkan dalam rentang waktu tersebut. Kemudian digunakan ilmu archeologi untuk menemukan kapan manusia memiliki organisasi sosial dalam bentuk fosil-fosil kebersamaan, lalu menggunakan ilmu pertanian atau perkebunan, maka ditemukan alat-alat pertanian itu sekitar 10.000 tahun SM. Dan dengan dalil ilmu agama, bahwa Nabi Adam AS., meminta anak-anaknya berkorban dengan domba dan hasil pertanian atau perkebunan.
Jadi ada lima ilmu yang digunakan untuk memprediksi atas kehadiran Nabi Adam di dunia. Ilmu matematika, archeologi, demografi, ilmu pertanian dan ilmu agama. Dengan demikian dapat digambarkan secara prediktif bukan presisi, bahwa Nabi Adam AS., berpeluang diturunkan ke Bumi adalah pada 11.000-12.000 tahun SM. Jadi berapapun pendekatannya, akan melahirkan satu kesimpulan. Inilah ilustrasi atas penggunaan pendekatan transdisipliner.
Kita tentu bersyukur bahwa para akademisi Islam telah menemukan kembali integrasi ilmu yang pernah dilakukan oleh ilmuwan Muslim pada masa yang lalu, 1200 tahun yang lalu, sehingga menghasilkan “Baitul Hikmah” yang menjadi tempat untuk mengembangkan ilmu dan menghasilkan berbagai temuan di dalam ilmu pengetahuan. Dunia ilmu kedokteran, ilmu fisika, kimia, arsitektur, matematika, ilmu farmasi dan ilmu-ilmu lainnya yang sekarang berkembang pesat tentu melalui temuan-temuan ilmuwan Islam di masa lalu.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like


Professorial Inaguration Ceremony: Prof. Muhammad Zakki

Dari Kampus Untuk Bangsa: UIN Sunan Kudus

