Dimensi Sosial Kaum Tarekat
Judul Buku : Tarekat Petani; Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal\nPengarang : Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si\nTebal : xiv+236 Halaman\nPenerbit : LKiS, Yogyakarta\nCetakan. : I, 2013\nPeresensi : Ach. Syaiful A’la*\n\nPraktik keagamaan seperti terakat sering dipandang sebagai sesuatu yang negatif ketika dihubungkan dengan sosiologis-fenomenologis. Karena tarekat dianggap sebagai pemisah yang membuat pelakunya mengalienasikan diri dari kehidupan masyarakat dan lebih mementingkan kehidupan akhirat (ukhrawi) ketimbang kehidupan dunia.\nDalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia, khususnya di tanah Jawa, Islam yang dibawah oleh Wali Sango adalah dengan jalan tarekat, bukan dengan syariat atau dengan ideologi. Sehingga Islam secara gampang diterima oleh masyarakat, berbeda dengan sekarang, melakukan Islamisasi dengan mengedepankan syariat atau ideologi tertentu sehingga banyak ditolak dan Islam dianggap aneh, mendatangkan kontroversial dan cenderung mengasingkan pengikutnya dari kehidupan yang telah menjadi kesepakatan sebelumnya. Lalu pertanyaannya, kenapa penyebar agama Islam di Jawa dengan pendekatan tarekat, tidak dengan syariat atau ideologi? Lalu, benarkah tarekat tidak mempunyai dimensi sosial dan “hanya†berhubungan dengan ilahiyyah?\nUntuk menjawab pertanyaan di atas perlu menyimak secara ilmiah (objektif) terhadap kajian, pendapat, dan hasil para peneliti yang mengkaji Islam dari sisi tarekat. Para ilmuan memberikan kesimpulan bahwa tarekat mempunyai peranan besar dalam proses penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sembilan Wali, sehingga Islam bisa cepat beradaptasi dan menjadi agama masyarakat tanpa adanya resistensi yang berarti dari masyarakat setemapat. Karena misi Islam dengan pedekatan tarekat tidak bertentangan tradisi yang ada di lokal, dan apa yang menjadi praktik keagamaan pada masyarakat itu tidak bertentangan dengan tarekat. Antara tarekat dengan budaya lokal begitu selaras dan simbang, tidak ada yang dirugikan, tetapi saling melengkapi.\nIslam mengajarkan adanya konsep keseimbangan antara dunia dan akhirat, adanya ketenangan lahir (fisik) dan batin (jiwa). Sementara manusia sebagai makhluk sosial juga membutuhkan adanya dua ketenangan itu. Sehingga tarekat dan budaya masyarakat (Jawa), sama-sama mengajarkan ketenangan, keharmonisan hubungan sesama, dengan alam semesta dan dengan Sang pencipta (Tuhannya). Adanya tarekat dalam masyarakat bukan suatu yang antagonis, tetapi bersifat simbiosis-mutualistik yang pada gilirannya akan membentuk karakter (khas) keberagamaan masyarakat lokal yang membedakan dengan praktik keagamaan lokal lainnya, oleh beberapa ilmuan yang mengkaji Islam disebut dengan agama kaum sufi (tarekat), jika meminjam istilahnya Simuh disebut dengan Sufisme-Jawa (Hal. 6).\nWacana akademik, penelitian dan buku-buku tentang tarekat sebenarnya telah banyak dilakukan oleh pemerhati sebelumnya, misalnya Ajid Thohir (Gerakan Politik Kaum Tarekat), Mu’tashim (Bisnis Kaum Sufi), Martin van Bruinessen (Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia), dan Simuh (Sufisme Jawa).\nBuku Tarekat Petani yang ditulis oleh Nur Syam ini, sebagai pelengkap dari pemerhati sebelumnya tentang kajiannya dunia tarekat dalam Islam. Disamping pendekatannya yang berbeda juga objek penelitian buku ini yang unik. Penulis buku ini berupaya mengkanter bahwa dunia tarekat yang dipandang tidak membuat kreatif para pengikutnya, justru hasil penelitian ini menyajikan yang sebaliknya. Mareka kreatif dan bersemangat untuk melakukan interaksi dengan lingkungan yang ada, membuat usaha, bekerja, dan bahkan sebagai petani yang produktif. Uniknya penelitian ini adalah masyarakat pesisir Desa Kuanyar, Kecamatan Mayong, Jepara, Jawa Tengah, biasanya kehidupannya sebagai nelayan (melaut), ia lebih memilih bercocok tanam (berprofesi sebagai petani). Petani jama’ah tarekat pesisir di Kuayar ini kalau siang melakukan aktivitas sebagai petani, sementara di malam hari ia melakukan amalan-amalan tarekat, seperti ba’iat, wirid, tawajudan, shalat sunnah, puasa sunnah, dan shalat jama’ah (Hal. 206). Kegiatan tarekat di luar rumah, misalnya, upacara peralihan, barikan, bodo, Maulid Nabi, Nuzulul Qur’an dan meleman. Tarekat yang diikuti adalah Syattariyah.\nMelalui bacaan terhadap ritual keagamaan jamaah tarekat Syattariyah yang ada di Kuanyar ini, merupakan sintesa dari pandangan negatif terhadap dunia tarekat yang dianggap tidak mempunyai dimensi sosial. Selamat menjelajah belantara dunia tarekat.\n\n*Peresensi adalah Rektor Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep.
You may also like




