Pengajian Kitab Alala
Muqoddimah
السّلام عليكم ورØÙ…Ø© الله وبركاته
الØÙ…د لله رب العالمين. والصّلاة والسّلام على أشر٠المرسلين سيّدنا Ù…ØÙ…ّد وعلى آله ÙˆØµØØ¨Ù‡ اجمعين
Mari kita mulai pengajian kitab ini dengan terlebih dahulu membaca Surat al-Fatihah kepada:
1. Baginda Nabi Muhammad saw, al-Fatihah
2. Syaikh Abdul Qodir Jailani ra dan Syaikh Abil Hasan al-Syadzili ra, al-Fatihah
3. Guru, kyai kita semua, terrutama Masyayikh Lirboyo dan Penyusun Kitab Alala, al-Fatihah
4. Kedua orang tua kita semua, al-Fatihah
5. Tiap umat Islam, khususnya yang mengajar dan belajar Kitab Alala, al-Fatihah
Kitab berjudul Alala (ألالا) merupakan kitab yang masyhur di kalangan santri Jawa, terutama santri-santri yang menjalani pembelajaran dengan metode sorogan atau bandongan di pesantren. Bahkan, santri yang belajar di madrasah tingkat ula pun telah akrab dengan kitab ini. Pada era sekitar tahun 70 sampai 90-an, di langgar atau lembaga-lembaga pendidikan yang kini dikenal dengan Madrasah Diniyah (Madin), kerap kita dengar santri-santri menghafalkan bait-bait dalam kitab ini dengan bersenandung.
Kitab tipis ini disusun oleh para ulama Pesantren Lirboyo Kediri. Naskah yang diterbitkan oleh penerbit Maktabah Muhammad bin Ahmad Nabhan wa Auladuh Surabaya tanpa keterangan tahun penerbitan, menjelaskan bahwa kitab ini memang menjadi produk akademik dari Pesantren Lirboyo. Bila kita melihat-lihat toko kitab di daerah komplek Makam Sunan Ampel di Surabaya misalnya, kita akan menemukan kitab ini dicetak dalam jumlah masal, berharga murah, dan terkadang kita dapat menemui pembeli memborong kitab ini dalam jumlah puluhan eksemplar, atau bahkan ratusan. Itu tanda bahwa kitab ini menjadi salah satu “nutrisi†penting bagi santri-santri tingkat dasar.
Lantas pertanyaannya, seberapa penting kitab kecil ini sehingga ia diproduksi, dipelajari, dan ditradisikan secara massal? Ada beberapa penjelasan menjawab pertanyaan sederhana tapi mendasar ini. Pertama, kita tahu bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang sudah ada jauh sebelum negara Indonesia ada, yang berusaha mentransformasikan nilai-nilai Islam pada pemeluknya melalui jalur pendidikan dan pengajaran. Transformasi nilai keislaman ini dipadukan dengan adat sebagai wong Nusantara yang memegang teguh sopan-santun pada semua hal. Nah, kitab kecil berjudul Alala ini menjadi panggung betapa relasi antara murid dengan lingkungan sekitarnya memiliki kode etik yang bisa mempengaruhi pendidikan. Artinya, kitab ini sangat penting sebab pendidikan terkait dengan banyak hal di sekitarnya. Memperhatikan lingkungan pendidikan, sama dengan memperhatikan pendidikan itu sendiri.
Kedua, pendidikan memiliki jenjang menyesuaikan tujuan dan sasaran dari pendidikan itu sendiri. Kita tahu bahwa orientasi pendidikan itu minimal dimulai dari level ta’dib ( تأديب), lalu menuju tandzim (تنظيم ) ta’lim (تعليم ), lalu meningkat ke tarbiyah (تربية ). Jenjang ta’dib berorientasi untuk membiasakan peserta didik atau santri untuk melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk yang kaprah dilalukannya saat bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Ta’dib juga berorientasi pada pembiasaan ibadah-ibadah dasar seperti shalat, puasa, dan sebagainya. Orientasinya bukan pemahaman nalar, tapi tumbuhnya kebiasaan. Nah, beretika baik itu perlu dibiasakan, walaupun tidak selalu harus dipahami alasan mengapa dan untuk apa. Kode etik murid terhadap lingkungan juga perlu diejawantahkan dalam kebiasaan hidup santri. Kitab kecil ini hadir untuk menjembatani kepentingan tersebut.
Dalam bingkai semangat mengawal tradisi emas para ulama yang telah terbukti berhasil mewujudkan Islam yang sejuk dan damai di bumi pertiwi ini, nursyamcentre mengetengahkan kajian kitab Alala ini tentu dengan harapan agar bermanfaat pada umat Islam secara luas, dan tentu dengan berharap keberkahan para ulama penyusun dan yang berkontribusi pada kitab penuh keberkahan tersebut. Wallahu a’lam bisshawab.
والسّلام عليكم ورØÙ…Ø© الله وبركاته
*Rubrik daras ini diasuh oleh Ustadz Muhamad Hasan Zamzami
You may also like




