Mengapa Harus Ada Kue Apem Saat Tradisi Megengan Menjelang Ramadan?
InformasiEva Putriya Hasanah
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Muslim di berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi khas yang sarat makna spiritual dan sosial, salah satunya adalah Megengan. Tradisi ini hidup dan berkembang terutama di wilayah Jawa, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sebagian Yogyakarta. Megengan menjadi bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara yang memadukan nilai keagamaan dengan kearifan lokal.
Secara etimologis, kata megengan berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan. Makna ini selaras dengan esensi ibadah puasa di bulan Ramadhan, yaitu menahan diri dari makan, minum, serta hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Melalui tradisi ini, masyarakat seakan diingatkan untuk mulai mempersiapkan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan penuh berkah.
Megengan biasanya dilaksanakan beberapa hari atau pada akhir bulan Sya\'ban, menjelang Ramadhan. Kegiatan ini umumnya diisi dengan doa bersama, membaca tahlil, dzikir, dan pengajian di masjid, mushala, atau rumah warga. Selain itu, tradisi ini juga menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga dalam suasana penuh kebersamaan.
Salah satu ciri khas utama Megengan adalah kehadiran kue apem. Kue tradisional berbahan dasar tepung beras ini hampir selalu ada dalam setiap pelaksanaan Megengan. Apem tidak sekadar menjadi sajian konsumsi, melainkan simbol yang memiliki makna mendalam. Secara filosofis, kata “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab afwun atau afwan yang berarti maaf atau ampunan. Dengan demikian, pembagian apem dalam tradisi Megengan dimaknai sebagai simbol permohonan maaf kepada sesama manusia dan permohonan ampun kepada Allah SWT.
Makna tersebut sangat relevan dengan semangat menyambut Ramadhan. Sebelum memasuki bulan suci, umat Islam dianjurkan untuk membersihkan hati dari rasa dendam, iri, maupun keturunan. Tradisi saling berbagi apem menjadi simbol bahwa masyarakat telah saling memaafkan dan siap menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih.
Selain apem, beberapa daerah juga menambahkan nasi berkat atau makanan lain yang dibagikan kepada tetangga. Hal ini mencerminkan nilai sedekah dan kepedulian sosial. Dalam konteks ini, Megengan bukan sekedar ritual keagamaan, tetapi juga media mempererat silaturahmi dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Tradisi Megengan dapat dikatakan sebagai tradisi khas Indonesia. Meskipun umat Islam di berbagai negara memiliki cara masing-masing dalam menyambut Ramadhan, bentuk tradisi seperti Megengan dengan Bagi Apem merupakan ekspresi budaya yang tumbuh dari perpaduan dakwah Islam dan budaya lokal Nusantara. Tradisi ini diyakini telah ada sejak masa penyebaran Islam di Jawa, ketika para wali dan ulama menggunakan pendekatan budaya untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Keberadaan Megengan menunjukkan bahwa Islam di Indonesia berkembang dengan cara yang ramah, adaptif, dan menghargai budaya setempat. Nilai-nilai universal Islam seperti tobat, saling memaafkan, dan berbagi diwujudkan dalam simbol-simbol budaya yang mudah dipahami masyarakat. Inilah yang menjadikan Megengan tetap lestari hingga kini, bahkan di tengah arus modernisasi.
Di era sekarang, Megengan tidak hanya dilakukan di lingkungan pedesaan, tetapi juga di perkotaan, lembaga pendidikan, hingga perkantoran. Generasi muda pun mulai kembali mengenal dan melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya dan keagamaan mereka.
Dengan demikian, tradisi Megengan dan keberadaan apem di dalamnya bukan sekadar seremoni menjelang Ramadhan. Ia adalah cerminan kearifan lokal, penguatan nilai spiritual, serta mengikat keharmonisan sosial. Di tengah kehidupan yang semakin individualistik, Megengan mengajarkan pentingnya kebersamaan, saling memaafkan, dan mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh dalam menyambut bulan suci Ramadan.

