Beragama Berbasis Cinta dan Ekoteologi: Masa Depan Pendidikan Islam
OpiniDi akhir tahun, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) menyelenggarakan acara yang sangat monumental, yaitu acara Review and Design on Islamic Education di Aula HM Rasyidi, Kantor Kementerian Agama, Jalan Thamrin Jakarta, 30/12/2025. Acara yang dikemas sangat baik dengan kolaborasi music, drama, orasi ilmiah dan taushiyah yang sangat bergizi. Sungguh acara ini dipersiapkan dengan sangat baik, sehingga menghasilkan tontonan yang menyegarkan.
Kolaborasi menari, menyanyi dan drama yang sungguh membuat penonton bergembira. Acara ini dimulai dengan sambutan Prof. Dr. Amien Suyitno, MAg, Dirjen Pendis, dan dilanjutkan dengan pagelaran tarian dan drama yang dilakonkan oleh Abdel dkk dengan tema “Pendidikan Islam Masa Depan, Future Studies for Islamic Studies.” Drama yang menyajikan lakon perjalanan Ditjen Pendidikan Islam. Apa yang sudah dilakukan dan bgaimana desain masa depan serta dampaknya bagi masyarakat Indonesia. Drama yang juga merupakan pemaduan antara nyanyian, dan dialog yang sangat menarik. Celetukan-celetukan cerdas khas komedia menambah suasana tontonan yang menyenangkan.
Tetapi yang lebih menarik adalah sambutan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, yang memberikan pencerahan tentang mengapa agama cinta atau beragama berbasis cinta dan ekoteologi itu menjadi penting. Cinta tidak hanya ditekankan pada relasi antar jenis, akan tetapi cinta pada kemanusiaan dan cinta kepada alam lingkungan. Cinta yang bersubstansi pada kedalaman rasa tentang betapa pentingnya memahami manusia secara utuh dan mencintai alam secara utuh.
Ada sebuah cerita dari dunia tasawuf. Rabi’ah Al Adawiyah adalah seorang Sufi Perempuan yang mengembangkan tasawuf cinta. Disebut sebagai tasawuf berbasis hubb atau cinta. Yang penting adalah cinta kasih kepada Allah dan Allah mencintai manusia sebagai kekasihnya. Rabi’ah Al Adawiyah merupakan seorang Sufi Perempuan yang menghayati Tuhan dengan perasaan cinta. Dari perasaan cinta tersebut kemudian mencintai seluruh ciptaan Tuhan di dalam kehidupan.
“Suatu ketika Rabi’ah Al Adawiyah berdzikir di pinggir Sungai. Maka datanglah Binatang-binatang di sekelilingnya. Burung menyanyi sebagai manifestasi dzikir kepada Allah. Buaya, kera, kijang, singa, harimau, ular dan lainnya mengelilingi Rabiah Al Adawiyah yang khusyuk melantunkan dzikir kepada Allah. Binatang-binatang itu mengikuti irama dzikir yang dilantunkan oleh Sufi Perempuan ternama itu. Lalu datanglah Ahli Tasawuf Hasan Basri yang menjadi tokoh tasawuf Ridha atau Ridhallah. Tasawuf yang mengedepankan rasa untuk menemukan Ridha Allah. Maka, binatang-binatang itu satu persatu pergi. Hasan Basri merasa tidak enak, kenapa binatang yang sebelumnya menemani Rabiah Al Adawiyah kemudian pergi kala dirinya datang. Maka, Hasan Basri bertanya kenapa binatang-binatang itu tidak suka padanya. Lalu dijawab oleh Rabiah, bahwa rasa cinta yang sedemikian mendalam kepada Allah dapat menggerakkan alam dan binatang untuk saling mencintai.”
Dunia ini penuh dengan kontradiksi. Ada masa kegelapan dan ada masa kecerahan. Dunia ilmu pengetahuan juga mengalaminya. Relasi manusia dengan Tuhan juga mengalami paradoks. Ada saat manusia begitu dekat dengan Allah dan ada pada saat lain manusia begitu jauh dengan Tuhan. Ada pandangan pantheisme yang beranggapan bahwa semua adalah pancaran Tuhan, ada yang atheisme manusia tidak mengenal dan tidak meyakini adanya Tuhan, ada deisme atau Tuhan sebagai pencipta alam tetapi tidak lagi terlibat setelah penciptaannya itu, dan ada juga theism yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu pencipta alam dan sekaligus pemelihara alam.
Jika kita flash back sejarah perkembangan ilmu, maka dikenal ada masa kegelapan. Abad satu Masehi sampai enam masehi adalah masa kegelapan. Masa ini ilmu tidak berkembang sebab terdapat control gereja dan personalnya serta para raja untuk memonopoli tafsir atas teks-teks agama, sehingga pendapat yang berbeda dianggap sebagai musuh. Tidak ada ilmu yang dapat berkembang. Baru abad ke enam sampai abad 13 ilmu pengetahuan menggeliat sedemikian kuat. Lahirlah ahli filsafat seperti Plato, Aristoteles, Thales dan lainnya. Ada banyak kalam hikmah yang masih kita kenal hingga saat ini.
Di dalam sejarah perkembangan ilmu di dalam Islam, maka lahirlah tokoh-tokoh besar pada zaman Harun al Rasyid, Al Makmun dan Al Mu’tashim. Pada waktu inilah berdiri Baitul Hikmah, yang menandai puncak perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak sekali karya para ahli yang bijak di masa sebelumnya yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab yang menjadi basis bagi pengembangan ilmu. Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan. Di masa inilah lahir para ahli ilmu, Al Khawarizmi tokoh ilmu matematika, astronomi, astrologi dan geografi, Ibnu Sina tokoh ahli dan Bapak ilmu kedokteran modern dan ahli astronomi, Al Biruni ahli fisika, matematika, dan astronomi, Al Kindi tokoh ahli ilmu kedokteran (farmakologi), matematika, filsafat dan ahli tasawuf dan sebagainya.
Dari dalam Baitul Hikmah itulah ilmu berkembang dan Islam menjadi pusat peradaban dunia. Sampai suatu saat ilmu-ilmu itu diambil alih oleh dunia Barat, sehingga lahirlah zaman pencerahan, yang menghasilkan sekularisasi. Memisahkan agama dari negara, dan kemudian berkembang proyek-proyek yang menjadikan alam sebagai obyek dan alam dijadikan proyek untuk kesejahteraan manusia tetapi dengan cara merusak alam.
Kerusakan alam yang sedemikian parah yang dilakukan sekarang sebenarnya memiliki akar dari budaya menjadikan alam sebagai obyek sehingga alam tidak lagi sacral. Alam yang dimasa lalu dianggap sacral untuk dihormati, maka hilang menjadi desakralisasi. Itulah sebabnya kita perlu membangkitkan beragama dengan cinta untuk kembali kepada hakikat relasi manusia dengan alam yang berkesetaraan, berkeadilan dan beradab. Cinta itu memiliki substansi yang sangat mendalam.
Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi dapat menjadi fondasi pendidikan di masa depan. Kurikulum tersebut harus dapat mentransformasikan dari formalitas pendidikan ke substansi pendidikan, dari antroposentrisme ke teosentrisme yang sistemik atau dari antroposentrisme ke kesadaran ekologis dan dari teologi yang kaku dan mengikat ke teologi yang membebaskan atau yang disebut sebagai teologi transformative. Agama di masa depan harus menghasilkan orang yang kreatif tetapi etis, bukan menjadikan agama sebagai penjara kreativitas. Dan hanya dengan kesadaran beragama dengan cinta dan kesadaran memelihara alam yang seimbang hal tersebut akan dapat dilakukan.
Bangunan pendidikan Islam di masa depan adalah pendidikan yang berdampak bagi manusia. Pendidikan untuk mengembangkan beragama yang secara substantif momot kedalaman cinta yang berimbas pada cinta kepada kemanusiaan dan sekaligus juga kecintaan terhadap alam lingkungan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

