Umat Masa Depan: Teologi Feminis di Era Kompetisi (Bagian Enam)
OpiniEra sekarang adalah era kompetisi. Sebuah era yang setiap individu harus berkompetisi agar bisa survive. Siapa yang ingin hidup, bahasa kasarnya, maka harus memiliki kemampuan untuk berkompetisi dengan manusia lainnya. Siapa yang kompetitif, maka dialah yang akan menguasai kehidupan. Sekarang bukanlah era menunggu takdir datang, atau menunggu nasib baik. Saya kira sudah bukan zamannya kita berpikir seperti itu. Semua harus serba kompetisi agar bisa memenuhi hajad kehidupan duniawi.
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, berulang kali menegaskan bahwa sekarang adalah eranya kita memberikan peluang kepada kaum perempuan untuk mengekspresikan dirinya di dalam ruang public melalui pemahaman yang benar tentang teologi feminis. Di dalam memahami teologi feminis, tidaklah berarti kita akan menggantikan teologi maskulin yang memang ada di dalam mindset beragama umat Islam, tetapi kita menyandingkan teologi maskulin dan feminis dalam satu kesatuan yang seimbang. Ibarat koin mata uang, maka tidak disebut koin mata uang jika tidak terdiri dari dua sisi. Jadi di sebelah kiri adalah teologi maskulin dan di sebelah kanannya adalah teologi feminis. Kemenyatuan antara sisi kanan dan kiri yang meskipun berbeda, maka itulah yang disebut sebagai kesatuan dalam dinamika kehidupan.
Dalam bahasa yang sangat sederhana dapat dinyatakan bahwa teologi maskulin itu serba lelaki, dan teologi feminis itu serba perempuan. Makanya, di dalam realitas empirisnya, terutama dunia Timur atau Asia, maka terdapat dominasi lelaki yang lebih nyata. Di Afghanistan sebagai contoh ekstrim, maka menjadi perempuan itu identic menjadi keterpinggiran, ketidakadilan, keterbelakangan. Perempuan itu tidak memiliki hak apapun dalam relasinya dengan lelaki. Selain Afghanistan juga terdapat Pakistan, India, Banglades yang kekerasan seksualnya tinggi, demikian pula Filipina. Dan satu lagi Iran yang pengawasan atas pakaian perempuan sedemikian kentara ketatnya.
Di dalam studi Sosiologi Makro, Stephen K. Sanderson (2011) dalam karya “Makro Sosiologi: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial” misalnya terutama di negara-negara berkembang masih dijumpai jurang perbedaan antara lelaki dan perempuan yang sedemikian menganga. Ada tiga hal yang mendasar yaitu: masih ada gender oppression, gender inequality and gender differentiation. Masih ada di beberapa negara Asia yang menempatkan perempuan dalam laci tekanan baik social maupun psikhologis, misalnya tidak boleh keluar rumah, tidak bisa sekolah dan tidak bebas melakukan tindakan sesuai dengan keinginannya. Masih juga dijumpai adanya gender inequality, misalnya penempatan perempuan sebagai staf dan lelaki sebagai pimpinan dalam banyak relasi birokrasi dan pemerintahan. Juga masih banyak dijumpai misalnya penempatan perempuan di ruang domestic dan lelaki di ruang public. Meskipun perempuan sudah diapresiasi untuk bekerja di ruang public tetapi posisinya berada di perluasan ruang domestic. Menjadi staf bukan pimpinan.
Ke depan adalah era competitiveness. Siapa yang kompetitif yang akan menuai keberuntungan. Di era milenium ke tiga, ada empat kemampuan kompetitif yang harus dikuasai oleh generasi milenial, yaitu creative thinking and innovation, critical thinking and problem solving, communications and collaborations. Di sini tidak ada penjelasan tentang lelaki atau perempuan. Artinya seseorang bisa berkompetisi berbasis atas empat kemampuan tersebut.
Di sinilah makna penting pemikiran Prof. Nasaruddin Umar dengan mengedepankan teologi Feminis. Artinya kita harus memberi peluang yang sama kepada lelaki dan perempuan dalam kompetisi terbuka dan transparan. Yang diperlukan bukanlah menempatkan perempuan lebih utama dibandingkan dengan lelaki, akan tetapi membuka peluang kepada perempuan yang memang bertalenta lebih baik untuk dapat menempati posisi strategis di dalam kehidupan public.
Substansi dari teologi feminis adalah konsep ketuhanan yang berbasis keadilan gender. Artinya bahwa orang tidak membedakan antara lelaki dan perempuan dalam kapasitas yang sesungguhnya bisa dicapai. Tidak mendahulukan lelaki dibanding perempuan. Kemudian doktrin kesamaan antara lelaki dan perempuan dalam nurture bukan nature. Persamaan dalam kontruksi social tentang kesamaan hak dan kewajiban dalam ranah public. Doktrin kesetaraan antara lelaki dan perempuan. Artinya bahwa lelaki dan perempuan memiliki peluang yang sama dalam mengaskes jabatan-jabatan public. Kemudian doktrin properempuan artinya tidak menganggap dan mempraktekkan bahwa perempuan hanya bisa berada di ruang domestic dan lelaki di ruang publik. Antara lelaki dan perempuan bisa berkompetisi dalam ruang yang sama. Ada banyak perempuan yang sukses dalam inovasi dalam bidang sains. Misalnya Della Rahmawati yang menemukan strategi menanggulangi stunting, Prasanti Widyasari yang menemukan AI untuk deteksi bangunan tahan gempa, Tri Mumpuni yang membawa listrik ke desa-desa terpencil dan Deliana Dahnum yang menciptakan bio-jet full berbahan kelapa. (metaAI, 05/01/26).
Indonesia sesungguhnya juga masih terdapat gender differensiation, misalnya tentang aspek ekonomi dan ketenagakerjaan dengan menempatkan perempuan pada gaji yang lebih rendah, termasuk juga kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga yang korbannya kebanyakan adalah perempuan. Namun yang cukup menggembirakan bahwa sudah tidak didapati gender oppression atau gender inequality. Perempuan sudah bisa bekerja di ruang public meskipun masih diperlukan upaya untuk mengubah mindset masyarakat bahwa lelaki tidak harus sebagai nomor satu.
Untuk itu maka yang diharapkan adalah munculnya penafsiran baru dalam memahami teks-teks suci. Teks-teks suci yang selama ini dipandang mengandung bias lelaki maka harus ditafsirkan ulang dengan membaca kesetaraan, keadilan, kesejajaran dan properempuan. Telah lama kita dijajah oleh doktrin kekuasaan dan dominasi lelaki di dalam dunia keberagamaan dan social kemasyarakatan, maka diharapkan ke depan akan dihasilkan tafsir baru tentang relasi social lelaki dan perempuan yang setara dan adil.
Diperlukan Upaya serius untuk menatap masa depan berbasis teks agama yang ditafsirkan berdasar atas interpretasi baru yang lebih sensitive gender. Tugas akademisi dan ilmuwan adalah untuk berkolaborasi dalam menemukan penafsiran baru yang memberikan peluang bagi anak bangsa untuk bekerja dan maju bersama tanpa social prejudice yang tidak menguntungkan kesetaraan dan keadilan gender.
Wallahu a’lam bi al shawab.

