Menjaga Kasih Sayang dan Cinta dalam Kehidupan
OpiniArtikel ini merupakan inti dari khutbah saya di Masjid Baitur Rahim Rungkut Surabaya. Edisi teksnya sudah di-up load di nursyamcentre.com, 22/03/2026 yang lalu. Tetapi ada teks lesan yang saya kira penting untuk diungkapkan sebagai kelengkapan atas teks tertulis yang sudah saya paparkan sebelumnya. Ada beberapa hal mendasar yang saya kira perlu untuk diungkapkan lebih lanjut, yaitu:
Pertama, tentang Masjid Baitur Rahim. Masjid ini diberi nama Baitur Rahim atau jika diterjemahkan di dalam Bahasa Indonesia adalah Masjid Rumah Cinta. Masjid yang di dalamnya dikembangtumbuhkan, dipupuk dan disebarkan cinta kepada Allah SWT dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Cinta yang tidak bisa dipisahkan. Artinya di saat kita mencintai Allah SWT, maka disitu ada cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Keduanya merupakan satu kesatuan sistemik yang berbeda menyebutnya tetapi satu dalam maknanya. Tidak ada cinta kepada Allah SWT yang di dalamnya tidak mencintai Nabi Muhammad SAW. Dari cinta kepada keduanya, maka akan melahirkan cinta kepada sesama manusia dan juga cinta kepada alam: bumi, langit dan alam semesta atau tata surya ini. Dari cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya akan berdampak, bereffek dan berpengaruh kepada cinta kepasa sesama ciptaan Allah, manusia dan alam seluruhnya.
Kedua, Hari ini merupakan hari yang menandai berakhirnya bulan puasa. Kita sudah ditinggalkan oleh bulan ramadlan, bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah SWT. Hari ini kita memulai hari baru sebagaimana hari dalam bulan-bulan biasanya. Kita akan melaksanakan kehidupan yang tidak lagi penuh rahmat dan maghfirah Allah SWT. Akan tetapi kita tentu masih bisa bersyukur karena Allah masih memberi peluang kepada kita semua untuk mendirikan puasa di siang hari dan mendirikan ibadah di malam hari, seperti shalat tarawih, shalat witir dan ibadah-ibadah lain, serta dapat melakukan dzikir, wirid dan semua amalan ibadah yang diwajibkan atau disunnahkan oleh Allah SWT.
Sebagaimana diungkapkan oleh hadits shahihain atau hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “man shama ramadlana imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqaddama min dzanbihi”. Yang maknanya adalah barangsiapa yang melakukan puasa dengan penuh keimanan, kesyukuran dan perhitungan kebaikan, maka akan diampuni dosanya sekarang dan pada tahun yang akan datang. Jika di malam hari, maka maka menjadi: “man qama ramadlana imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqaddama min dzanbihi”. Yang maknanya adalah “barangsiapa yang mendirikan ramadlan dengan penuh perhitungan keimanan, keikhlasan dan kesyukuran, maka akan diampuni dosanya pada tahun sekarang dan yang akan datang. Masyaallah, betapa hebatnya bulan puasa ini. Siapa yang mendirikan bukan sekedar melaksanakan puasa di siang hari dan mendirikan shalat malam, maka akan diampuni dosanya sekarang dan akan datang. Inilah sesungguhnya makna bulan puasa bagi umat Islam.
Dan yang tidak kalah penting, bahwa ada amalan yang memiliki sandaran kuat dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercantum di dalam Kitab Riyadhus Shalihin Syekh Imam An Nawawi, bahwa: “setiap pagi hari sendi-sendi tulang itu memiliki sedekah. Dan sedekahnya adalah membaca tasbih atau subhanallah, lalu membaca Tahmid atau alhamdulillah, lalu membaca tahlil atau kalimat la ilaha illallah dan membaca takbir atau Allahu Akbar.” Oleh para ulama kemudian dirumuskan dalam satu kalimat yang menyatu: “subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar.” Inilah puji-pujian untuk tulang kita, untuk tubuh kita. Ada otak dengan 100 juta sel saraf atau neuron, jantung, hati, empedu, paru-paru, dan sebagainya, yang semuanya membutuhkan puji-pujian. Oleh karena itu, marilah kita baca kalimat sebagaimana hadits tersebut terutama pagi hari agar jasad kita mendapatkan sedekahnya.
Ketiga, di dalam Alqur’an, sebagaimana tercantum di dalam Surat Ali Imron: 133, kita diminta untuk menyegerakan memohon ampunan kepada Allah SWT. Kita diminta oleh Allah untuk memohon ampunan agar kita dapat masuk ke surganya Allah yang luasnya lebih luas dibanding bumi, langit dan tata surya ini. Semua disediakan untuk orang yang beriman. Indicator tersebut tampak dari perilaku orang beriman, yaitu: orang yang selalu menafkahkan sebagian kecil hartanya untuk zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Sebenarnya skemanya banyak, 27 skema, tetapi yang dikenal oleh umat Islam adalah zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Mengeluarkan hal tersebut terutama dalam keadaan yang sulit merupakan ciri orang yang akan memperoleh kebahagiaan. Lalu orang yang bersabar dalam menghadapi kehidupan. Orang yang tidak suka marah, orang yang bersabar dan orang yang dapat menghadapi kehidupan dengan berbagai masalahnya dengan suka cita.
Hal yang juga tidak kalah penting adalah orang yang suka memaafkan. Diminta atau tidak diminta. Dipastikan bahwa dalam relasi social dipastikan akan terdapat kekurangan, misalnya kekhilafan, kesalahan dan bahkan dosa. Ada dosa social. Di dalam kehidupan, potensi untuk melakukan kesalahan dipastikan terjadi. Oleh karena itu menjadi sangat baik jika kita menyadari bahwa manusia adalah mahalul khatha’ wan nisyan atau tempatnya kesalahan dan kealpaan. Kita sungguh bersyukur kepada Allah SWT, karena agama Islam menyediakan solusi di dalam menghadapi kesalahan dan kealpaan. Jika ada di antara kita yang merasa melakukannya, maka inilah saatnya kita meminta ampunan kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada sesama manusia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

