(Sumber : Nur Syam Centre)

Agama Asli Indonesia: Aliran Kepercayaan dan Kebatinan

Riset Agama

Tulisan berjudul “Aliran Kepercayaan dan Kebatinan: Membaca Tradisi dan Budaya Sinkretis Masyarakat Jawa” merupakan karya Jarman Arroisi. Karya ini terbit di Jurnal Studi Agama-Agama: “Al-Hikmah”. Tulisan Arroisi tersebut mencoba menjelaskan realitas tradisi dan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Jawa yang dilestarikan oleh pendukung aliran kepercayaan dan kebatinan. Selain itu, Arroisi juga berusaha menyampaikan gagasan dengan menawarkan upaya yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk kemungkinan keluar dari tradisi dan budaya sinkretis tersebut. Di dalam resume ini akan mengulas tulisan Jarman Arroisi dalam enam sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, asal-usul aliran kepercayaan dan kebatinan. Ketiga, motif aliran kepercayaan dan kebatinan. Keempat, beberapa aliran kepercayaan dan kebatinan serta ajarannya. Kelima, tradisi budaya slametan. Keenam, Islam dan budaya Jawa. 

  

Pendahuluan

  

Sejak Islam masuk ke Indonesia terutama wilayah Jawa, tantangan dakwah dalam menyebarkan Islam adalah agama Hindu dan agama asli Indonesia yakni kepercayaan yang kuat terhadap animisme dan dinamisme. Walisongo menyampaikan dakwah terbagi dalam dua kelompok, yakni putihan dan abangan. Islam putihan menggunakan strategi dakwah sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. Stretagi dakwah ini dimotori oleh Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Sedangkan, Islam abangan adalah Islam yang santun, toleran, moderat yang dipelopori oleh Sunan Kalijaga, Sunan Muria dan Sunan Bonang.

  

Islam di Jawa berbeda dengan wajah Islam yang murni dan bersih dari tradisi dan budaya sinkretis. Aktivitas Islam sinkretis terlihat dalam tradisi dan budaya Jawa yang menyatu degan elemen keagamaan Islam. Misalnya, tradisi ngalap berkah, rasulan, slametan, brokohan, dan lain sebagainya. Masyarakat Jawa percaya bahwa dengan mengadakan slametan maka mereka akan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Sehingga, tidak heran jika kegiatan yang bersifat sosial tersebut terus dilestarikan bahkan diajarkan dalam beberapa aliran kepercayaan dan kebatinan.

  

Asal-Usul Aliran Kepercayaan dan Kebatinan

  

Terdapat beberapa sebab tumbuh dan berkembangnya aliran kepercayaan dan kebatinan. Pertama, Islam masuk ke Indonesia dengan jalan toleransi yang tinggi terhadap agama Hindu dan Budha. Kedua, terdapat sekelompok orang yang sengaja mencampur agama-agama yang dianggap paling baik. Ketiga, anggapan Islam sebagai agama impor sehingga terdapat beberapa penolakan. Keempat, Islam sebagai agama khusus orang Arab. Kelima, adanya kekacauan secara politk, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan yang menyebabkan kesulitan hidup sehingga mereka mencoba menyelesaikan secara spiritual. 

  

Menurut Prof. Joyodiguno dan Prof. H.M Rasyidi, terdapat empat kelompok aliran kepercayaan dan kebatinan. Pertama, aliran okultis, yakni aliran yang menggali kekuatan batin atau gaib untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kedua, aliran mistik, yakni aliran yang berusaha untuk menyatukan diri dengan Tuhan pada saat manusia masih hidup. Ketiga, aliran theosofis, yakni aliran yang berusaha menemukan asal-usul hidup dan tujuan hidup manusia. Keempat, aliran atheis, yakni aliran kepercayaan dan kebatinan yang memandang etika sebagai tujuan utama hidup manusia.

  

Motif Aliran Kepercayaan dan Kebatinan


Baca Juga : Zohran Mamdani: Sejarah Baru untuk New York — Pelantikan Wali Kota Muslim Pertama dengan Al Qur’an

  

Pada tahun 1970, diadakan Kongres Nasional Aliran Kepercayaan dan Kebatinan yang dihardiri kurang lebih 1000 kelompok dari berbagai aliran yang menghasilkan beberapa usulan. Pertama, meminta pemerintah mengakui keberadaan organisasi aliran kepercayaan dan kebatinan dan memberikan posisi yang sama dengan organisasi keagamaan di Indonesia. Kedua, meminta pemerintah menyiapkan Departemen Agama yang menangani pembinaaan aliran, sebagaimana agama lain. Ketiga, menjadikan tanggal 1 Muharram (Suro) sebagai hari raya resmi kelompok aliran kepercayaan dan kebatinan. Keempat, meminta pemerintah untuk menjadikan hari raya 1 Suro sebagai hari besar nasional yang dikaui negara. Kelima, meminta perlakuan adil dalam hal perkawinan sesuai ajaran nenek moyang mereka. 

  

Beberapa Aliran Kepercayaan dan Kebatinan serta Ajarannya

  

Landasan munculnya aliran kepercayaan dan kebatinan di Indonesia adalah harapan mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan hidup. Oleh sebab itu, terdapat perbedaan ajaran dan tata cara antara aliran kepercayaan dan kebatinan satu dengan yang lain. Beberapa aliran kepercayaan dan kebatinan diantaranya adalah sebagai berikut:

  

Pertama, Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu). Paguyuban ini didirikan oleh R. Soenarto pada 14 Februari 1932, setelah menerima wahyu pepadang. Ajaran ini tertulis dalam kitab yang disebut Serat Sasangka Jati. Ajaran Pengestu adalah empat anasir permulaan, kehendak Tuhan Pangestu tidak pernah berhenti, Firdaus istana Tuhan Pengestu, tujuh perlengkapan tubuh, logos, nafsu dan lain sebagainya. Ajaran paguyuban ini jelas bertolak belakang dengan ajaran Islam.

  

Kedua, Kepercayaan Sumarah. Paguyuban Sumarah didirikan oleh R. Ng. Sukirno Hartono pada 27 Desember 1897. Aliran ini memiliki beberapa ajaran, yakni hukum karma, reinkarnasi dan sujud Sumarah. Pada dasarnya, paguyuban ini mencampurkan beberapa ajaran kepercayaan ke dalam satu bentuk baru. Artinya, tidak jauh berbeda dengan kepercayaan lain yang sinkretis.

  

Ketiga, Paguyuban Sapto Darmo. Ajaran paguyuban ini berlandaskan tujuh kewajiban. Pertama, setia dan tawakal kepada Pancasila Allah (Allah maha Agung, Rahim, Adil, Kuasa dan Kekal). Kedua, setia menjalankan undang-undang negara. Ketiga, setia menyisingkan lengan baju menegakkan berdirinya nusa bangsa. Keempat, menolong siapa saja berdasarkan cinta kasih. Kelima, berani hidup berdasarkan kekuatan diri sendiri. Keenam, memiliki budi pekerti yang halus dalam kehidupan bermasyarakat. Ketujuh, yakin bahwa dunia tidak abadi, melainkan berubah-ubah

  . 

Tradisi Budaya Slametan

  

Slametan dalam tradisi dan budaya masyarakat Jawa adalah salah satu bentuk kegiatan sosial yang penting dan dipentingkan. Upacara slametan diaggap sebagai aktivitas penting mencari keselamatan, ketenangan, dan mencapai terjadinya keseimbangan kosmos. Namun, budaya slametan mengalami pergeseran dari sisi pelaksanaan maupun hidangan dari waktu ke waktu. Meskipun, inti dan tujuan dari pelaksanaan slametan tetap sama. Pergeseran tersebut terjadi karena berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Tradisi slametan diantaranya adalah upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian.

  

 Islam dan Budaya Jawa 

  

Nabi Muhammad SAW pernah berpesan, jangan sampai diantara umat Islam memperingati  hari kelahirannya sebagaimana orang Nasrani memperingati kelahiran Isa Al-Masih. Namun, seiring berjalannya waktu pesan tersebut diabaikan, sehingga tanggal 12 Robiul Awal diperingati sebagai hari peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Terbukti, dengan adanya sebutan hari Maulud Nabi Muhammad SAW.

  

Di Jawa tradisi memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW dikenal dengan upacara sekatenan. Tradisi ini berasal dari usul Sunan Kalijaga untuk membuat pertunjukan di Masjid Agung dengan memukul gamelan dengan lagu untuk menyambut bulan Robiul Awal. Selain itu, ia juga sering membuat cerita wayang dan menyelenggarakan pagelaran wayang. Artinya, tradisi budaya sekaten memiliki akar sejarah dakwah menyebarkan Islam. Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi tersebut dibakukan sebagai sarana memperingati kelahiran Baginda Rosulullah. Namun, yang menarik adalah sekaten memiliki elemen budaya seperti benda-benda budaya, kepercayaan, kebatinan, kesenian, pertunjukan, memandikan keris dan lain sebagainya. Elemen tersebut lebih dominan ketimbang nilai dakwahnya. 

  

Kesimpulan

  

Aliran kepercayaan dan kebatinan tumbuh dengan tujuan “damai”. Artinya, mencari kebahagiaan dan keselamatan dalam hidup. Namun, aliran kepercayaan dan kebatinan yang muncul merupakan “arus kekuatan” yang bertolak belakang dengan ajaran Islam dan “politiknya” bertujuan menghilangkan kesucian Islam. Oleh sebab itu, pekerjaan rumah bagi umat Islam adalah mempersiapkan diri menghadapi kekuatan arus yang hendak menghilangkan kesucian Islam. Kecerdasan dan kebijaksanaan dalam berdakwah menjadi hal yang harus diperhatikan. Umat Islam tidak boleh terjebak dalam “kekuatan arus” sinkretis, apalagi larut didalamnya.