Ritual "Islam Jawa"
Riset BudayaTulisan berjudul “Agama dan Ritual Slametan: Deskriptif-Antropologis Keberagamaan Masyarakat Jawa” merupakan karya A Kholil. Karya ini terbit di Jurnal Budaya Islam “El-Harakah”. Tujuan dari penelitian Kholil adalah mendiskripsikan praktik keberagamaan masyarakat sebagai upaya memahami pluralisme budaya. Hal ini dikarenakan pluralisme budaya pada saatnya akan menancapkan sikap saling menghormati keyakinan masing-masing untuk meningkatkan keimanan dalam ranah sosial yang mulai digerogoti kepentingan duniawi sesaat. Terdapat dua sub bab yang akan dibahas dalam review ini. Pertama, konsepsi dasar agama. Kedua, ritual slametan: interpretasi dan simbol.
Konsepsi Dasar Agama
Di dalam menjelaskan sekelumit tentang agama, Kholil mensitasi dari delapan pemikiran tokoh. Pertama, Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan Jawa”, menjelaskan bahwa agama muncul sebagai akibat adanya krisis yang membuat gelisah dalam kehidupan manusia. Mereka berharap kegelisahan tersebut hilang dan menemukan jawabannya dalam agama. Kedua, Durkheim dalam bukunya berjudul “The Encyclopedia of Philosophy”, menjelaskan bahwa semua agama adalah cara untuk memahami apa yang tak terbayangkan, untuk mengekspresikan yang tak terpikirkan, dan sebuah aspirasi untuk menangkal yang tak terbatas. Ketiga, menurut James Martineau, agama adalah pengakuan bahwa segala sesuatu merupakan manifestasi dari kuasa yang melampui pengetahuan kita. Keempat, Joseph Campbell dalam bukunya yang bejudul “The Power of Myth”, menyatakan bahwa agama adalah sesuatu yang tidak untuk dibicarakan tapi diaplikasikan dalam kehidupan keseharian. Kelima, Iqbal dalam bukunya berjudul “The Reconstruction of Religious Thought in Islam”, menyatakan bahwa agama tergantung pada amal daripada ide atau pemikiran. Keenam, Friederich Schlerimacher yang menyatakan bahwa agama berasal dari perasaan kebergantungan mutlak kepada Yang Tak Terhingga. Ketujuh, Rudolf Otto menyatakan bahwa agama adalah pengalaman pertemuan dengan yang menimbulkan cinta maupun rasa ngeri. Kedelapan, Mircea Aliade yang menyatakan bahwa agama memiliki konsep sakral yang tercermin dalam ritus dan simbol.
Namun, dari delapan konsep agama yang diajukan oleh Kholil, ia tidak menyimpulkan dengan jelas apa sesungguhnya konsep agama. Kholil tidak menunjukkan konsep mana yang ia yakini kebenarannya. Ia hanya menuliskan beberapa konsep dari para tokoh, tanpa memberikan gagasan baru tentang definisi agama. Selain itu, terjadi ketidakjelasan konsep apa yang ia sepakati dan gunakan sebagai analisa. Pembaca disuguhkan perdebatan panjang tentang agama. Perdebatan tersebut tidak dihentikan dengan kesimpulan yang “klimaks” tentang konsep agama. Artinya, Kholil tidak menuliskan gagasan baru soal konsep agama.
Ritual Slametan: Interpretasi dan Simbol
Di dalam menjelaskan slametan, Kholil meminjam penelitian Geertz mengenai Agama Jawa . Ia menyatakan bahwa trikotomi yang dilakukan Geertz dalam membedakan Santri, Abangan dan Priyayi terlalu kasar jika digunakan dalam kerangka analitis. Kompleksitas peradaban Jawa terletak tidak hanya pada kemajemukan, namun juga keterkaitan hubungan dalam adaptasi agama dan perubahan. Pengkategorian yang dilakukan Geertz justru tidak memperjelas, melainkan menjadikannya “kabur”. Buktinya, melihat fakta sosial banyak lulusan pesantren, atau sekolah umum tanpa ilmu agama, bersama-sama mempelajari do’a demi keselamatan atau sekadar slametan melalui buku do’a atau bertanya pada orang yang dianggap tahu tentang agama.
Selanjutnya, Kholil menjelaskan definisi slametan, yakni upacara ritual komunal yang mentradisi di kalangan masyarakat Islam Jawa yang dilaksanakan untuk peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Istilah slametan sering kali dianggap adalah sinonim sedekah. Padahal, slametan adalah ritual bagi mereka yang hidup, ngirim dungo atau sedekah diperuntukkan bagi mereka yang meninggal. Keduanya dapat digabungkan, namun secara konseptual terpisah. Orang dapat mengatakan bahwa slametan itu Jawa, sedekah itu Islami. Namun, dalam bahasa Indonesia, istilahnya adalah kenduri.
Slametan jika ditinjau dari sisi “kemistikan” akan selalu dikaitkan dengan simbol yang ada. Misalnya, susunan bubur warna-warni yang berkaitan dengan simbol trinitas, yakni Adam, Hawa, dan Wisnu. Bagi orang Jawa, unsur Adam atau pria bersumber dari empat unsur putih, dan dari Hawa atau wanita memberikan unsur merah. Namun, tidak semua pria dan wanita akan menghasilkan keturunan agar kehidupan berlangsung. Sehingga, diperlukan unsur ketiga yakni Tuhan. Istilah unsur ketiga biasanya disebutkan bervariasi, misalnya yang bersembunyi (ghaib), sumber kehidupan (urip), dan Wisnu atau kekuasaan (kuwasa).
Unsur ketiga, yakni Wisnu merupakan hasil dari proses mempengaruhi empat unsur. Empat unsur tersebut diantaranya adalah tanah, angin, api dan air. Keempatnya berkesinambungan saling mempengaruhi secara terus menerus dan memelihara kehidupan. Adam, Hawa dan Wisnu, masing-masing memiliki empat unsur lagi sehingga menjadi dua belas. Gambaran dua belas menunjukkan konsep sentral bagi semua mistisme Jawa, sebagaimana terkandung dalam istilah Jawa “sangkan paraning dumadi”, yakni asal muasal dan tujuan dari yang ada.
Jika dilihat dari signifikansi sosial dari slametan, maka akan berbeda dari makna simboliknya. Penyelenggaraan slametan dapat meningkatkan tali silaturahmi demi menciptakan kerukunan. Kerukunan berarti harmoni sosial, ketentraman dan ketenangan bersama merupakan nilai sosial yang signifikan untuk membangun kehidupan sosial masyarakat yang kuat dan “berdaya tahan” tinggi dimana pun.
Kesimpulan
Karya Kholil mengandung makna bahwa slametan menurut kepercayaan orang Jawa bukan hanya sekadar pesta makan untuk menunjukkan gengsi, melainkan wujud rasa syukur atas karunia Yang Maha Kuasa dan harapan untuk selalu berada pada lindungan-Nya. Selain itu, Kholil juga menunjukkan bahwa secara teologis, tidak ada yang salah dalam slametan karena selalu diawali dengan do’a kepada Tuhan. Kholil tidak menawarkan konsep baru tentang agama, karena ia hanya menuliskan delapan konsep agama menurut parah tokoh. Jika tulisan Kholil menggunakan salah satu konsep tokoh untuk memperjelas posisinya, maka akan jauh lebih baik. Misalnya, ketika Kholil menuliskan konsep sakral dalam agama milik Mircea Eliade dan menggunakannya untuk menjelaskan konsep agama yang ia setujui, maka akan lebih baik. Sehingga, perdebatan panjang tentang konsep agama berhenti pada konsep sakral milik Mircea Eliade yang diungkap lebih detail. Terlepas dari keterbatasan tersebut, Kholil berupaya menjelaskan bahwa agama mencakup aspek yang sangat luas, baik pada tingkat personal maupun sosial. Di dalam tingkat personal agama berkaitan dengan apa yang diimani dan berfungsi dalam kehidupan nyata manusia. Pada tingkat sosial, agama bisa nampak pada kegiatan kelompok sosial keagamaan. Selain itu, tulisan ini semakin menambah pengetahuan mengenai bagaimana keberagamaan masyarakat Jawa.

