Prof. Nasaruddin Umar tentang Baytul Hikmah
OpiniSalah satu gagasan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, adalah mengenai New Baytul Hikmah, sebuah gagasan yang diutarakannya pada waktu akan didirikan satu Direktorat Jenderal Baru, Ditjen Pesantren. Beliau berkeinginan agar melalui pesantren akan dikembangkan kembali Baytul Hikmah yang di masa lalu, menjadi obor dunia dalam dunia ilmu pengetahuan yang berpengaruh terhadap peradaban dunia hingga dewasa ini. Betapa hebatnya Baytul Hikmah tersebut bagi pusat ilmu pengetahuan, riset dan perpustakaan ilmu pengetahuan.
Baytul Hikmah bukan hanya sekedar perpustakaan yang berisi buku-buku mulai dari zaman Romawi, Persia dan India bahkan mungkin China, akan tetapi merupakan sumber ilmu pengetahuan, di mana para ilmuwan Islam melakukan perbincangan ilmu pengetahuan, melakukan riset dalam berbagai rumpun dan cabang ilmu pengetahuan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu sosial, sains dan teknologi dan ilmu-ilmu keagamaan yang diintegrasikan. Di dalam Lembaga Baytul Hikmah tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu pengetahuan semua sumbernya dari kalimat tauhid, dari Allah SWT.
Di dalam acara Rakernas di Serpong, dengan tema: “Mempersiapkan Umat Masa Depan”, 16-17 Desember 2025, maka ada satu slide yang sangat menarik, yang belum saya tuliskan di dalam artikel sebelumnya. Sudah ada banyak yang saya tuliskan, akan tetapi khusus Baytul Hikmah atau Rumah Ilmu belum saya paparkan secara tersendiri. Pada kesempatan ini saya ingin menggambarkan apa yang dituliskan di dalam slide dimaksud. Sebuah gambaran tentang perkembangan ilmu keislaman yang luar biasa di saat Eropa berada di dalam alam kegelapan. Dunia ilmu di Barat mandeg, sementara ilmu di tangan ilmuwan Islam zaman Khalifah Harun Ar Rasyid dan diteruskan oleh Khalifah Al Makmun dan Khalifah al Mu’tashim, lalu di saat perkembangan ilmu di dunia Islam menurun, maka secara pelan tetapi pasti dunia barat tersadarkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Menurut Prof. Nasaruddin Umar, bahwa ilmu pengatehuan Islam berembrio dan berkembang pada abad ke enam dan terus sampai abad ke delapan. Pada abad ke delapan maka sains Islam telah cukup berkembang ditandai dengan mengambil ilmu bilangan dari India sehingga menghasilkan secara teknologis seperti alat astronomi dan astrolabes. Kemudian juga lahir Universitas Al Azhar. Melalui kehadiran ilmuwan seperti Al Kindi, Al Baitani, Ibnu Sina, Al Farabi, maka lahirlah teknologi seperti teknologi bendungan, kincir angin, kapal dagang, rumah sakit dan sebagainya. Sebagaimana diketahui bahwa Al Kindi dan Ibnu Sina adalah ahli ilmu kedokteran yang sangat maju. Hingga kini buku yang ditulis oleh Ibnu Sina, Qanun Fit thib, menjadi rujukan ilmu kedokteran di seluruh dunia.
Pada abad ke 10, maka hadirlah para ilmuwan Islam dalam jumlah yang sangat besar. Di dalam salah satu buku disebutkan ada sebanyak 147 ilmuwan Islam yang produk ilmunya diakui dan dijadikan rujukan dunia modern dalam seluruh bidang ilmu pengetahuan. Lahirlah pada abad ke 10 sampai ke 12, ilmuwan seperti Ibnu Rusyd, Imam Al Ghazali dan lain-lain. Imam Ghazali merupakan ilmuwan polymath yang mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu lainnya. Karyanya Ihya ulumiddin masih terus dikaji di berbagai negara sebagai pedoman untuk menjadi agamawan yang baik dan ilmuwan yang bagus. Pada abad ke 10, maka dunia teknologis juga berkembang misalnya ditemukannya teknik irigasi, Kompas China, Teknik jalan, jembatan, benteng, bendungan dan arsitektur kota. Dunia ilmu pengetahuan, agama dan teknologi menyatu dalam peradaban dunia. Pada abad ke 12, ditemukan Teknik Kompas dan navigasi, observasi astronomi, rumah sakit modern, teknologi destilasi, tungku bakar dan lanoratorium kimia. Dari abad ke depalan hingga abad ke 12 disebut sebagai abad keemasan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Di sinilah puncak pengembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.
Pada abad ke 14 mulailah pamor pengembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam mengalami penurunan. Di saat itu, maka dunia Barat mulai menggeliat. Akhir abad ke 13 dan awal abad ke 14, datanglah tokoh-tokoh Barat, seperti Adelard, F. Bacon, sehingga abad ini mulailah berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh orang barat, misalnya dapur tekan, mesin cetak pada akhir abad 15. Ilmuwan Barat mulai tertarik dengan ilmu pengetahuan Islam. Mereka menerjemahkan karya-karya akademis dan ilmu pengetahuan, sehingga mereka dapat mengembangkan Ilmu barat yang berkembang hingga hari ini. Diterjemahkannya ilmu filsafat, ilmu pengetahuan social, ilmu budaya dan sains dan teknologi ke dalam bahasa mereka. Qanun fit thib diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sehingga nama Avicenna itu diabadikan sebagai ahli ilmu kedokteran. Namun demikian, sebagaimana sikap kesombongan orang barat, maka ilmu pengetahuan Islam itu tidak diakui sebagai sumber ilmu yang dikembangkan hingga hari ini. Mereka menyatakan bahwa yang ditemukannya adalah ilmu dari orang barat sendiri tanpa ada pengaruh sedikitpun dari ilmuwan Islam.
Kemudian di abad ke 15 lahirlah ilmuwan seperti Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton. Pada abad 16 sampai 18 adalah abad revolusi sains, teknologi dan industry. Pada awal abad ke 17 hingga abad ke 18 lahirlah nama-nama limuwan seperti James Watt, dan Adam Smith. Kemudian di pertengahan abad ke 19 lahirlah nama-nama besar seperti Einstain, dan Thomas A. Edison. Sedangkan dari reformasi agama lahirlah Martin Luther King dan Calvin.
Sebagaimana diketahui bahwa Al Kindi adalah ahli ilmu filsafat, matematika, astronomi farmakologi, music dan kimia. Ibnu Sina adalah ahli ilmu kedokteran, filsafat, farmasi, astronomi, dan fisika. Al Farabi ahli dalam ilmu filsafat, logika, politik dan teori music. Albattani ahli astronomi dan matematika. Al Biruni adalah ahli dalam bidang ilmu astronomi, matematika, geodesi, geografi, fisika, Farmakologi, dan ahli Sejarah, Al Khawarizmi adalah ahli matematika, astronomi dan geografi. Dia dijuluki sebagai Bapak Ilmu Aljabar. Ibnu Rusyd adalah ahli dalam bidang filsafat, kedokteran, hukum Islam, teologi dan astronomi. Ibnu Rusyd dikenal sebagai perintis jaringan tubuh dan komentator Aristoletes. Imam Ghazali dikenal sebagai ilmuwan Islam dalam bidang tasawuf, filsafat, teologi, hukum Islam, dan akhlak. Dan ratusan ilmuwan Islam pada masanya.
Ilmwan Barat seperti Adelard dari Inggris adalah ahli penerjemah buku-buku karya ilmuwan Islam pada abad pertengahan, Bacon adalah ahli filsafat Ilmu, dan metode ilmiah eksperimental. Copernicus adalah ahli dalam bidang astronomi dan matematika. Galileo adalah penemu dan penyempurna teleskop, dan pengamatan astronomi, penemuan bulan Yupiter, dan hukum mekanika. Kepler adalah ahli dalam bidang penemu tiga hukum Gerak planet orbit, planet berbentuk elip dan bukan lingkaran serta planet mengelilingi matahari. Newton adalah penemu teori gravitasi, dan kalkulus. James Watt menemukan mesin uap, Edison penemu Listrik, dan Adam Smith penemu system ekonomi kapitalis.
Siklus pengembangan ilmu terus terjadi dan kita menunggu kebangkitan pengembangan ilmu pengetahuan integrative yang menggabungkan antara ilmu agama, sains dan filsafat. Kita semua mengharap hadirnya New Baytul Hikmah, yang ditandai dengan semakin menguatnya semangat pengembangan ilmu pengetahuan dan munculnya aksi pengembangan ilmu pengetahuan. Di tangan umat beragama, khususnya ilmuwan Islam, hal tersebut akan dapat direaktualisasi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

