Umat Islam Masa Depan: Membangun Kekuatan Mandiri (Bagian Satu)
OpiniDi kala Samuel P. Huntington (1993) membangun tesisnya tentang Class of Civilization, atau Benturan Peradaban, maka banyak yang tidak yakin akan keakuratan pemikiran Huntington. Dinyatakan bahwa benturan peradaban tersebut akan terjadi antara Barat dengan China dan Islam. Hipotesis ini dianggap berpeluang tidak akan terjadi, sebab tidak ada kekuatan di dunia ini yang akan dapat mendegradasi kekuatan Barat di bawah komando Amerika Serikat.
Pada saat Eropa Timur terpecah belah menjadi 15 negara, 31 Desember 1991, dengan kekuatan kecil-kecil, sebagai akibat bangkitnya demokratisasi di Eropa Timur, maka hanya Amerika yang menganggap dirinya paling top dan hebat. Dan yang terpenting tidak ada satupun negara yang akan mampu menyainginya. Amerika Serikat mendeklarasikan sebagai kekuatan yang tidak tersentuh, untouchable, karena dominasi ekonomil, politik dan kekuasaan, yang dapat mengatur dunia.
Maklum jika banyak orang yang berpikir bahwa hipotesis Huntington itu tidak perlu diapresiasi. Jika China mungkin masih rasional untuk menjadi lawan minimal bagi Barat, tetapi Islam tidak masuk akal. Jangan dulu. Nyaris tidak ada cerita tentang Islam yang bisa menjadi kekuatan baru yang akan menantang Barat yang gigantic and powerfull. Bayangkan negara-nagara di Timur Tengah semuanya menjadi sekutu yang takut pada kekuatan dan dominasi Barat. Realitas ini bisa dipahami sebab seluruh negara di Timur Tengah merupakan negara-negara bentukan Inggris dan Perancis. Saudi Arabia, UEA, Yaman, Yordania, Kuwait, Suriah, Libanon, Oman, Bahrain, Qatar, Irak, dan beberapa negara lainnya.
Di antara negara-negara tersebut terdapat pangkalan militer Amerika Serikat, yaitu: Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA, Arab Saudi dan Iraq. Di masa lalu, Iraq memiliki independensi pada saat dipimpin oleh Saddam Hussein. Negeri ini dihancurkan oleh Amerika Serikat di bawah komando George Bush, sehingga pasca kekalahan tersebut lalu didirikan pangkalan militer di Ain Al Asad, kemudian negara-negara lainnya juga menjadi tempat pangkalan Militer Amerika Serikat. Tentu dalihnya adalah untuk menjaga stabilitas politik dan ekonomi Kawasan Timur Tengah.
Satu-satunya negara yang tidak mau tunduk pada kekuatan Amerika adalah Iran. Negeri ini telah mengalami embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Negeri ini diembargo Barat semenjak naiknya Ayatullah Khomaeni hingga sekarang, 1979 hingga 2026. Tidak tanggung-tanggung 47 tahun. Sebuah waktu yang sangat lama dalam hitungan perjalanan sebuah negara. Oleh dunia Barat, Iran disebut sebagai negara teroris. Sebuah diksi sakti yang digelorakan barat untuk sebuah negara yang berani melawan kebijakan Barat, khususnya Amerika Serikat.
Jika negara-negara Timur Tengah lainnya, semuanya berada di bawah bayang-bayang kekuatan Barat, menjadi sekutu setia tanpa reserve, tentu berbeda dengan Iran yang benar-benar melakukan tantangan secara langsung atas dominasi barat yang sangat digdaya. Dianggap oleh para pemimpin negeri-negeri di Timur Tengah bahwa penempatan pangkalan militer di negerinya, maka keamanan Kawasan akan terjaga. Dan selama kurun waktu 47 tahun memang kehadiran Barat di negeri-negeri Timur Tengah menjadi jaminan keamanan bagi mereka. Para pimpinan negeri-negeri di Timur Tengah bersepakat bahwa kebijakan Amerika Serikat adalah yang terbaik untuk Kawasan Timur Tengah. Akibatnya, negara-negara Timur Tengah selalu “Yes” untuk perintah Amerika.
Dari kenyataan ini, maka nyaris tidak ada yang perduli atas hipotesis Huntington tentang Class of Civilization. Apalagi menempatkan Islam sebagai lawannya. Mustahil. China memang berhasil dengan system dual economy yang dikembangkannya, sehingga berpeluang untuk menjadi rival atas dominasi budaya Barat. Di dunia ini, teknologi China sudah jauh melampaui Amerika. Teknologinya, bukan hanya Artificial Intelligent (AI) akan tetapi sudah memasuki Artificial General Intelligent (AGI). Teknologi China sudah melesat jauh bukan hanya lari dibandingkan negeri-negeri lain, termasuk Amerika. Pantaslah China bisa menjadi rival hegemoni budaya Barat. Kalau Timur Tengah, rasanya tidak ada peluang sedikitpun untuk menjadi rival Barat, bahkan lebih cocok disebut sebagai partner positif Amerika.
Islam akhirnya dapat memberikan kepastian, bahwa dugaan kebanyakan para analisis dunia internasional, bahwa Islam mustahil menjadi kekuatan penyeimbang dunia barat ternyata salah. Melalui serangan Israel dan Amerika Serikat, 28 Pebruari 2026, yang membunuh terhadap ratusan siswi yang sedang sekolah dan rakyat sipil dan menewaskan Presiden Iran, Imam Ali Khamenei. Kematian Imam Khamanei justru menjadi titik balik Iran untuk menantang Amerika dan Israel.
Dikiranya, Iran sudah kehabisan energi pasca wafatnya Imam Ali Khamenei, akan tetapi justru sebaliknya. Iran menjadi negara dengan kemampuan pertahanan dan serangan yang benar-benar mematikan. Bahkan dapat dinyatakan di luar prediksi para pengamat dan ahli-ahli pertahanan bahwa Iran memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Israel yang selama ini dihiperbolakan sebagai negara terkuat di dunia, nyaris tidak berkutik. Bahkan andaikan Amerika menggunakan kekuatan tentaranya untuk menyerang lewat darat, maka rasanya mereka akan terkubur di Iran. Gebrakan Trump pun tidak ada artinya bagi Iran yang berkekuatan militer penuh dengan kemampuan pertahanan dan serangan yang hebat.
Melalui Iran, masyarakat Islam dapat belajar tentang kemandirian. Ternyata bahwa kemauan yang kuat dari para pemimpinnya, kebersamaan dalam kesulitan untuk menghadapi embargo ekonomi, dan pemanfaatan secara optimal atas para ahlinya dalam berbagai bidang ternyata menghasilkan kemandirian negerinya. Dari embargo secara ekonomi dan kekuatan militer, justru negeri ini dengan dukungan dari para teknisi, kaum akademisi dan kaum intelektualnya dapat menghasilkan senjata-senjata yang mematikan, rudal-rudal yang berkekuatan dan berjelajah tinggi dan presisi serangan yang tepat, akhirnya dapat membuat Israel dan Amerika serta negeri-negara lain nyaris tidak percaya. Iran memang beda. Iran telah menjadi kekuatan yang dapat menjadi bukti kebenaran tesis Huntington, the class of Civilization.
Wallahu a’lam bi al shawab.

