Menyongsong Muktamar Pemikiran PMII: Jangan Terjebak Pragmatisme
Senin, 5/04/2021 sahabat-sahabat PMII akan menyelenggarakan Muktamar Pemikiran PMII, yang dilaksanakan di UIN Sunan Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) dan akan dibuka oleh Gubernur Jawa Timur, Sahabat Khofifah Indar Parawansa di Grahadi Surabaya. Acara ini sesuai rencana akan dihadiri oleh para dedengkot PMII lintas generasi, yaitu generasi PMII tahun 1980-an hingga sekarang.
PMII yang dibidani oleh Mahbub Junaidi memang lahir sebagai organisasi kader. Makanya, namanya adalah pergerakan dan bukan himpunan. Pergerakan itu mengandung makna dinamika atau perubahan tiada henti. Jadi yang diharapkan dari filosofi nama ini adalah sebuah lembaga yang mengharapkan dan menjadi tempat berkumpulnya para aktivis yang dinamis baik dalam pemikiran, gagasan, dan tindakan yang relevan dengan tuntutan bangsanya. Sebagai organisasi yang “kebanyakan†merupakan anak-anak NU, PMII merupakan organisasi yang berada di dalam jalur Islam ala Ahli Sunnah wa al Jamaah (Aswaja), sehingga meanstrem pemikirannya tentu selalu berada di dalam kerangka Islam moderat atau Islam Wasathiyah.
Sebagai organisasi kader, PMII tentu sudah bisa menempatkan orang-orangnya dalam berbagai posisi yang penting di negeri ini. Dengan tidak bermaksud mengesampingkan nama-nama besar lainnya, misalnya bisa disebutkan beberapa nama yang telah berhasil menjadi Menteri atau setingkat Menteri di negeri ini. Misalnya, Khofifah Indarparawansa (sekarang gubernur Jawa Timur), Ida Fauziyah, Lukman Hakim Saifuddin, Suryadharma Ali, Prof. Nasaruddin Umar, Imam Nahrawi, Prof. Yudian Wahyudi, Prof. Noor Ahmad, dan lain-lain, lalu yang setingkat pejabat tinggi seperti Prof. Mundzir Suparta, Dr. Slamet Riyanto, Prof. Abdurrahman Mas’ud, Prof. Machasin, Prof. Abdul Jamil, Prof. Ahmad Gunaryo, Prof. Nur Syam, Prof. Kamaruddin Amin, Prof. M. Ali Ramdhani, dan lain-lain, lalu yang menjadi rector PTKIN atau mantan rektor, seperti Prof. Moh. Mukri, Prof. Maftuchin, Prof. HM. Ridlwan Nasir, Prof. Abd. A’la, Prof. Mutawalli, Prof. Masdar Hilmy, Prof. Nyayu Khadijah, Prof. Mujiburrahman, Prof. Abd. Haris, Prof. Suaidi, Prof. Idrus Al Hamid, Prof. Babun Suaharto, dan sejumlah nama lainnya. Lalu dosen dengan gelar profesor dan doKtor juga sangat banyak, sudah mencapai ribuan orang, baik yang berkarir di Kemenag, Kemendikbud maupun institusi lainnya.
Pergerakan intelektual dan akademis ini tentu saja difasiltasi oleh Gus Dur pada waktu beliau menjadi Ketua Umum PBNU, yang memberi peluang besar dalam mengasah pemikiran dan gagasan para kader-kader muda NU yang sekaligus warga PMII agar terus berkarya dan berbuat untuk negeri ini. Gus Dur adalah penarik gerbong intelektualisme dan akademisasi anak-anak muda NU dan warga pergerakan untuk belajar, dan hasilnya tentu adalah membludaknya generasi NU dan PMII yang sekarang menjadi dosen, yang bergelar doktor dan profesor. Tahun 2000-an adalah panen raya generasi PMII dan NU yang mencapai pendidikan tinggi dengan variasi pendidikan yang baik dan berkualitas.
Di era Orde Baru, potensi anak-anak PMII dan NU tidak bisa tersalurkan di dalam jalur birokrasi secara massif. Kendala kekuasaan pada waktu itu menjadikan anak-anak muda NU dan PMII untuk bergerak dalam sektor swasta, partai politik dan jalur-jalur Lembaga Swadaya Masyarakat. Gelombang anak-anak PMII dan NU untuk memasuki birokrasi tentu terjdi karena “pertarungan†atau “kompetisi†yang ketat, sehingga kehadirannya tidak bisa ditolak. Makanya, di era Orde Baru ada anak-anak NU dan PMII yang bertalenta bagus untuk memasuki birokrasi. Akhirnya mereka inilah yang kemudian bisa menjadi pejabat tinggi di negeri ini.
Perubahan sosial dan politik tentu tidak bisa ditolak oleh siapapun. Makanya arus perubahan tersebut akhirnya bisa membawa sahabat-sahabat PMII untuk memasuki berbagai jalur kehidupan sebagai wadah berkhidmat untuk bangsa dan negara. Sabahat-sahabat PMII tentu beruntung sebab secara ideologis tidak memiliki kerumitan dalam relasinya dengan NU. Apa yang menjadi gerakan NU, maka secara otomatis menjadi gerakan PMII. Nyaris tidak ada benturan kepentingan sebab sebagai pengusung Aswaja dan Islam moderat dan juga kesamaan madzab pemikiran, maka sahabat-sahabat PMII berada di dalam nuansa kebersamaan. NU sebagai jam’iyah tentu juga beruntung sebab kader-kader NU bukanlah kader organisasi lain, tetapi adalah warganya sendiri. Yang secara ideologis memiliki kesamaan sehingga tidak terdapat benturan kepentingan atau conflict of interest.
Zaman terus mengalami perubahan. Dan era sekarang ini adalah era keberagamaan. Berdasarkan statistik yang diangkat oleh Indonesia Muslim Report 2019, maka masyarakat Indonesia semakin religius. Bahkan dengan agak bombastis dinyatakan dari sebanyak 10 orang Indonesia, maka 4 di antaranya adalah penganut Islam setia. Namun demikian, terdapat juga kecenderungan untuk beragama yang konservatif, misalnya data yang menyatakan bahwa yang berpemahaman agama moderat sebesar 56,7%, sementara yang ortodoks sebesar 25,5% dan ultra konservatif 11,6%. Data ini merupakan early warning, bahwa pertarungan antara Islam wasathiyah dan ortodoks telah memasuki era baru, dan seiring dengan perubahan arus semakin religiousnya masyarakat Indonesia, maka bisa saja mereka justru memasuki wilayah beragama yang ortodoks bahkan ultra ortodoks.
Tantangan ini sungguh penting untuk dicermati dan menghasilkan pemahaman agar kekuatan tidak semakin berpihak kepada ortodoksi. Dan salah satu yang membuat harus waspada adalah mereka menggunakan media sosial untuk mengembangkan pemahaman dan praksis beragama yang semakin ortodoks tersebut. Sahabat-sabahat PMII sungguh tidak lagi bisa bemain-main dengan kenyataan sosial religius ini. Semua harus speak up untuk mengembangkan atau mempertahankan Islam wasathiyah agar tidak terus tergerus oleh kekuatan nyata dari kaum ortodoks.
Di tengah arus kepentingan-kepentingan pragmatis, seperti keterlibatan dalam hiruk pikuk dunia politik yang instan, kepentingan instan untuk memperoleh berkah finansial dalam posisi apapun, rasanya perlu untuk dikesampingkan dengan kearifan. Harus proporsional, dalam konteks biarkan ada kader yang masuk dunia politik tetapi dengan etika politik ahlu sunnah wal jamaah yang jelas, ada yang memasuki dunia birokrasi dengan etika jabatan yang bermanfaat, dan ada juga yang memasuki dunia kewirausahaan dengan keuntungan yang berkah. Masing-masing memiliki talenta dan seharusnya berkembang dengan talent itu tetapi sekali lagi berbasis kearifan ahli sunnah wal jamaah.
Semua kader PMII, saya kira harus tetap dalam jalur-jalur berikut: pertama, harus tetap berkomitmen kebangsaan yang jelas. Tidak boleh ada sahabat PMII yang berpikir selain menegakkan negara Indonesia dengan Pancasila dan NKRI. Kedua, tetap berada dalam konteks madzab Islam ahli sunnah wal jamaah berbasis pada Islam wasathiyah, di mana pun berada, mungkin bisa saja berada di partai politik yang variative tetapi tidak boleh luntur pemahaman kewasathiyahannya. Ketiga, membangun proporsi yang seimbang antara dunia birokrasi, politik, sosial, ekonomi dan lainnya. Warga PMII bisa berada dimana-mana tetapi tetap dalam satu visi mengembangkan moderasi beragama. Tidak boleh tergoda dengan ideologi lain, apapun wujud dan keuntungannya. Keempat, di tengah kontestasi media sosial yang semakin berpihak kepada Islam ortodoks, maka warga pergerakan harus tetap menyuarakan Islam wasathiyah dengan berbagai talenta dan keahliannya. Kelima, bagi sahabat PMII yang berada di dalam tampuk jabatan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan lainnya agar tetap menjaga marwah PMII sebagai organisasi yang mengedepankan integritas dan keteladanan. Jangan sampai terjebak dengan pemikiran pragmatis yang sering kali menggoda siapapun yang bertepatan berada dalam tampuk kekuasaan. Keenam, sebagai organisasi kader, maka PMII jangan terjebak pada pemikiran yang semakin menjauhkan PMII dari calon-calon kadernya. Misalnya berpikir Marxian, atau berpikir kekiri-kirian. Aktivis PMII justru harus merespon tantangan keberagamaan generasi muda dengan pemikiran, gagasan dan praksis Islam yang mudah, Islam yang mendamaikan, Islam yang menjadi rahmat dan Islam yang berperadaban tinggi.
Jika PMII ingin eksis sebagai organisasi kader dan organisasi kemahasiswaan, maka rebut kembali anak-anak muda pintar agar jangan jatuh ke pemahaman dan praksis Islam yang justru berlawanan dengan keinginan menjadi Indonesia sebagai negara yang damai, tenteram dan berkeadilan. Salam pergerakan: “Tangan terkepal maju ke mukaâ€.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




