Saturday, August 1 2026

Category: Opini Ekonomi, Politik, Sosial, dan Budaya

Pada saat saya bertemu dengan para dosen muda PTKI yang sedang memperkuat kapasitas akademis dalam kerangka persiapan pendidikan lanjut di luar negeri, maka saya bercerita tentang bagaimana proses kreatif dalam menulis, khususnya menulis artikel dengan jumlah kata 700 sampai 1000 kata. Acara diselenggarakan di Sekolah Pascasarjana Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Kementerian Agama.

Eva Putriya Hasanah Melahirkan seharusnya menjadi momen ketika seorang perempuan mendapatkan perhatian, perlindungan, dan kesempatan untuk memulihkan dirinya. Namun dalam banyak budaya, masa nifas justru dipenuhi oleh serangkaian aturan yang harus dipatuhi. Tidak boleh tidur pagi. Tidak boleh makan makanan tertentu. Tidak boleh keramas. Tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Menariknya,

Semula antropologi mengkaji perilaku individu-individu dengan berbagai kehidupannya yang berbeda dengan orang barat. Ada yang datang ke Turki, lalu menggambarkan perilaku orang bersembahyang di Turki. Lalu cerita-cerita itu ditulis. Datang orang lain memperoleh hal yang sama, dan kemudian terus dikaji dalam kaitannya dengan keyakinan atau believe, upacara-upacara keagamaan atau ritual dan ekspresinya dalam berhadapan dengan

Saya tidak pernah lelah untuk berbicara pendidikan, apalagi hal tersebut terkait dengan pendidikan Islam. Selama ada kesempatan saya membicarakan tentang pendidikan Islam, khususnya pendidikan tinggi Islam di pesantren, pasti saya akan membicarakannya, apakah dalam bentuk sarasehan, diskusi ataupun orasi di dalam kegiatan-kegiatan terstruktur di pesantren. Pada Hari Selasa, 14 Juli 2026, saya diundang oleh Ketua

Pada waktu yang berdekatan, Senin 13/07/26, dan Rabo 15/07/2026, saya diminta untuk menguji disertasi tahap terbuka atau ujian promosi pada Doktor UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Ujian promosi Promovendus, Abd. Karim Amrullah, dengan penguji: Prof. Dr. Ahmad Syukri, Prof. Dr. Rahmi Hidayati, Prof. Dr. Nur Syam, Prof. Dr. Martinis Yamin, Prof. Dr. Muchtar, Prof. Dr.

Di tengah kesibukan yang tetap saja menumpuk, saya masih memprioritaskan atas pentingnya membangun birokrasi di Kementerian Agama (Kemenag) agar berada di dalam area Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Keduanya selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari tugas pokok dan fungsi dari seluruh Aparat Sipil Negara (ASN) Kemenag, termasuk di Kankemenag Bangkalan.

Saya mendapatkan pesan melalui whatsApp yang dikirimkan oleh Habib Zaki Abdurahman Solo. Pesan melalui WA tersebut terkait dengan makna doa di antara dua sujud. Doa ini lalu saya jadikan sebagai bahan ceramah pada Hari Selasa, 7/7/26, pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang setiap selasa menyelenggarakan acara ceramah dan diskusi dengan berbagai tema keagamaan. Saya sampaikan

Upaya pemerintah, khususnya Komisi Anti Korupsi (KPK) untuk mengembangkan Birokrasi Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) tentu patut diapresiasi. Melalui upaya untuk melakukan kompetisi di berbagai Satuan Kerja atau satker di berbagai Kementerian/Lembaga, maka sesungguhnya diharapkan akan dapat menghasilkan contoh yang baik dalam mengembangkan birokrasi yang berwibawa. Ungkapan ini saya sampaikan

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Sumenep, saya merasa sangat berbahagia sebab bisa bertemu dengan para Kiai dan juga alumni Pondok Pesantren ini. 30/06/2026. Acara ini memang didesain sebagai acara untuk mendatangkan para alumni dalam kaitannya dengan upaya pesantren untuk mengikat jaringan pesantren, alumni dan masyarakat. Saya bersyukur bisa bertemu dengan para

Prof. Dr. Nur Syam, MSi Ada yang menarik di sela-sela acara yang dilakukan di Kabupaten Sumenep. Ada empat acara yang saya ikuti, mulai pagi memberikan taushiyah tentang pendidikan pesantren pada para alumni Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, lalu bertemu para dosen STAI Nasy’atul Muta’allimin yang memiliki dua prodi, yaitu Prodi Ekonomi Syariah dan Prodi Tasawuf dan

Prof. Dr. Nur Syam, MSi Distingsi pendidikan Islam dan pendidikan pesantren sekurang-kurangnya sudah ditemukan body of knowledge atau sasaran kajian di antara keduanya. Demikian pula rumusan tentang epistemologi pada masing-masing bidang keilmuannya. Di dalam tulisan saya sebelumnya, saya gunakan istilah ada yang serba teks untuk pendidikan pesantren, khususnya Ma’had Aly, dan ada yang serba empiris

Kita telah memasuki era baru, yaitu era Membangun Pendidikan Islam Unggul. Kita bukan lagi bicara memperluas akses pendidikan sebagaimana pada masa yang lalu, akan tetapi fokus kita adalah bagaimana membangun pendidikan unggul. Era sekarang merupakan era kompetisi. Oleh karena itu, maka yang terpenting adalah menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan unggul dalam persaingan di era

1 2 3 62