Saturday, July 11 2026

Category: Opini Ekonomi, Politik, Sosial, dan Budaya

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Sumenep, saya merasa sangat berbahagia sebab bisa bertemu dengan para Kiai dan juga alumni Pondok Pesantren ini. 30/06/2026. Acara ini memang didesain sebagai acara untuk mendatangkan para alumni dalam kaitannya dengan upaya pesantren untuk mengikat jaringan pesantren, alumni dan masyarakat. Saya bersyukur bisa bertemu dengan para

Prof. Dr. Nur Syam, MSi Ada yang menarik di sela-sela acara yang dilakukan di Kabupaten Sumenep. Ada empat acara yang saya ikuti, mulai pagi memberikan taushiyah tentang pendidikan pesantren pada para alumni Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, lalu bertemu para dosen STAI Nasy’atul Muta’allimin yang memiliki dua prodi, yaitu Prodi Ekonomi Syariah dan Prodi Tasawuf dan

Prof. Dr. Nur Syam, MSi Distingsi pendidikan Islam dan pendidikan pesantren sekurang-kurangnya sudah ditemukan body of knowledge atau sasaran kajian di antara keduanya. Demikian pula rumusan tentang epistemologi pada masing-masing bidang keilmuannya. Di dalam tulisan saya sebelumnya, saya gunakan istilah ada yang serba teks untuk pendidikan pesantren, khususnya Ma’had Aly, dan ada yang serba empiris

Kita telah memasuki era baru, yaitu era Membangun Pendidikan Islam Unggul. Kita bukan lagi bicara memperluas akses pendidikan sebagaimana pada masa yang lalu, akan tetapi fokus kita adalah bagaimana membangun pendidikan unggul. Era sekarang merupakan era kompetisi. Oleh karena itu, maka yang terpenting adalah menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan unggul dalam persaingan di era

Hari Senin, 22/06/2026, sebenarnya saya harus menguji dalam Ujian Terbuka atas Disertasi yang ditulis oleh Promovendus Lukman Hakim, sebagai promotor dan penguji, akan tetapi waktunya bersamaan dengan acara Haflah Akhirus Sanah pada Yayasan Qarya Jadida di Desa Sembungrejo Kecamatan Merakurak Tuban. Jadwal pada acara Haflah ini sudah beberapa kali ditunda, sehingga saat ada undangan untuk

Rasanya sudah banyak artikel saya tentang “Pendidikan Pesantren”. Hal ini tentu terkait dengan keinginan untuk menemukan distingsi di antara pendidikan pesantren dan pendidikan Islam. Dunia pendidikan tentu tidak ingin bahwa akan terjadi “perebutan” lahan atau area kajian berbasis pada subject matter atau body of knowledge di antara keduanya. Harus clear. Dengan demikian, para pengelola dua

Adakah yang lebih hebat dari pendidikan pesantren? Saya rasa tidak. Pesantren merupakan pendidikan yang tidak hanya mengasah jasad,  akan tetapi mengasah jiwa dan roh agar selaras dengan ajaran agama Islam yang sangat adiluhung. Pesantren bukan hanya mendidik agar santri menjadi insan yang sehat lahiriyah, akan tetapi juga sehat batiniah. Tidak hanya sehat batiniah atau jiwa

Ada sebuah keyakinan di kalangan pimpinan, dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Doktor, yang harus menghayati sejarah pengembangan studi Islam di masa lalu. Di antara yang perlu dicermati adalah adanya “kemenyatuan” dalam rumpun, bidang dan disiplin ilmu. Oleh karena itu, kemenyatuan studi Islam, atau sekarang disebut sebagai program integrasi ilmu sudah menjadi realitas historis di

Pro. Dr. Nur Syam, MSi Suatu kebanggaan bagi saya secara pribadi karena dilibatkan di dalam acara yang ekselen oleh Forum Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fordakom) di Balikpapan, dalam tajuk mencermati terhadap rumpun ilmu dakwah di dalam dinamika perkembangan keilmuan di Kementeri Agama. Diskusi rumpun ilmu agama dengan bidang ilmu dakwah tentu menarik untuk diperbincangkan

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh. إِنَّ الْحَمْدَ ِللَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ “Innal hamda lillah nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruhu wa naudzu billahi min

Jika berpikir masa depan ilmu Dakwah dan Komunikasi akan  cenderung pesimis dan mempertanyakan nasibnya di masa depan. Masa depan Ilmu dakwah dan komunikasi cenderung untuk menggambarkan masa depan yang kurang cerah dan kurang bergairah. Masa depan ilmu dakwah dan komunikasi menggambarkan berpikir yang negatif dan kurang produktif.  Jika berpikir Ilmu dakwah dan komunikasi masa depan

Hal yang harus diinjeksikan kepada semua pelaku pendidikan adalah masa depan. Bukan masa depan PTKIS berbasis pesantren.Tetapi PTKIS berbasis pesantren masa depan. Masa depan PTKIS berbasis pesantren itu mempertanyakan bagaimana masa depannya: baik atau jelek. Maju atau mundur.PTKIS berbasis pesantren masa depan berarti memprediksi bahwa PTKIS harus baik, berkualitas dan maju. Keduanya sama mempertanyakan masa

1 2 3 61