Kepemimpinan sebagai Substansi Pengembangan PTKIN
Saya diminta oleh Kabiro UIN KHAS Jember, Dr. Nawawi, untuk memberikan refreshing kepemimpinan pada para anggota Senat, pejabat dan staf pada UIN KHAS Jember, pada 26/08/2026. Acara yang sangat penting dan diselenggarakan di Hotel Aston Inn Lumajang. Saya ditempatkan pada session pertama yang dilaksanakan mulai jam 14.00-16.00 WIB. Dan setelah itu, nara sumber dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi, PhD, Rektor UIN Suka Yogyakarta.
Saya menjelaskan tiga hal terkait dengan rekonstruksi visi, misi dan program kerja, kemudian juga menjelaskan tentang visi kepemimpinan transformatif dan friendly leadership, serta memetakan elemen mana dari variabel-variabel pengembangan PTKIN. Pertama, Visi itu harus SMART, yaitu: Spesific, Measurable, Achievable, Relevance and Time Bond. Di dalam visi harus ada distingsi dan ekselensi sebagai kekhususan PKIN dibandingkan dengan PTKIN dan PTU lainnya. Visi juga harus memungkinkan untuk diukur pencapaiannya. Selain itu juga harus memungkinkan untuk dicapai. Tidak kalah penting juga harus memiliki relevansi dengan apa yang akan dikembangkan. Dan jangan lupa harus ada batas waktu pencapaiannya, kapan visi tersebut dapat dicapai. Ada visi jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Jika jangka pendek mesti harus ada quick win, ada ketercapaian monumental. Jika jangka menengah harus ada milestone, pada akhir jangka menengah. Demikian pula untuk jangka panjang harus ada milestone empat tahunan. Biasanya empat tahunan untuk jabatan rektor.
Sebagaimana Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), maka ada milestone lima tahunan. Teks visi bisa berbunyi “mewujudkan UIN yang unggul dalam…”. Di dalam praktiknya harus ada in line antara visi., misi dan program. Misi adalah upaya yang akan dilakukan sesuai dengan visi yang sudah disepakati. Misi akan menggambarkan bagaimana upaya untuk melakukan mimpi menjadi aktivitas. Misi menjelaskan secara terukur apa yang akan dicapai. Misi merupakan upaya menterjemahkan visi ke dalam realitas, sesuai dengan relevansi dan kekhususannya. Jika visi itu lebih abstrak tetapi bukan mimpi di siang bolong atau mimpi buruk di malam hari, maka misi itu mengandung dimensi pengukuran, ketercapaian dan relevansi visi dan misi, yang akan didapatkan.Untuk dapat merumuskan misi yang bagus dan sesuai dengan cita-cita institusional, maka pastikan data yang ada sekarang. Eksisting data sangatlah penting. Tanpa eksisting data yang benar-benar fixed, maka tidak akan dapat merumuskan program yang benar-benar tepat.
Ada empat rumus untuk menyusun program, yaitu: apa realitas problem yang akan diubah menjadi lebih baik, apa indikator keberhasilannya, berapa persen keinginan dalam ketercapaiannya dan berapa persen keberhasilannya. Jadi diperlukan bagaimana menggambarkan data sekarang dan memprediksinya dalam program jangka pendek, menengah dan panjang. Pilihlah mana yang dianggap urgent atau importence. Kita semua sudah tahu mana yang urgen dan mana yang penting. Terjemahkan yang urgen dan penting di dalam program yang diancangkan.
Kedua, Problem mendasar kita adalah menghasilkan outcome yang kompeten. Outcome PTKIN merupakan ujung akhir dari seluruh rangkaian relasi antar variable pengembangan. Misalnya, kualitas Pendidikan ditandai dengan distingsi dan ekselensi lulusan. Program studi boleh sama, tetapi distingsi dan ekselensinya harus jelas. Untuk menghasilkan masukan mahasiswa, maka kualitas pelayanan yang berbasis kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan juga sangat mendasar. Tidak kalah penting juga menjaga dan mengembangkan kualitas produk akademik lain, seperti karya ilmiah, dan jejaring akademik dan kelembagaan. Diperlukan survey untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan.Ketiga, Ada perbedaan mendasar antara pemimpin dan manajer.
Kepemimpinan itu “Do the right thing”. Visioner dan Inovatif, memiliki mimpi dan cita-cita pengembangan kelembagaan yang bisa sejajar dan bahkan melampaui institusi Pendidikan lain secara nasional maupun internasional. Berwawasan friendly leadership, sebagai roh manajemen, yang menerapkan kepemimpinan berbasis rational intelligent, emotional intelligent, social intelligent dan spiritual intelligent. Di dalam konsep Jawa disebut sebagai kepemimpinan yang berdasar HASTA BRATA, delapan lelaku, sebagaimana sifat alam, yaitu Bumi (bhumi) , matahari (suryo), api (dahana) , Samudra (samodro), langit (angkoso), angin (maruto), bulan (condro) dan bintang (kartiko).
Sedangkan Manager itu “do the thing right”. Manajer harus compliance terhadap regulasi. Harus menerapkan manajemen kinerja atau performance management. Bukan POAC (planning, organizing, actuating and controlling), tetapi PDCA (plan, do, check and action). Pimpinan/manager dalam segala level harus terlibat di dalam pencapaian program kerja.Pimpinan/manager harus bekerja bersama untuk mencapai visi dan misi institusi. Manager harus tahu seluk beluk administrasi, termasuk tata Kelola keuangan.
Pemimpin PT harus memahami ciri kepemimpinan transformatif, yaitu: Memahami teknik. Jika rektor maka harus memahami tata kelola keuangan, tata kelola akademik, tata kelola penelitian dan pengabdian masyarakat, tata kelola kemahasiswaan, tata kelola perencanaan dan sebagainya. Memahami dan mampu melakukan kepemimpinan profesional. Memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku profesional. Memahami dan mampu berbuat berbasis integritas, jujur di tengah kehidupan yang kompleks, serta memahami dan mampu berbuat sesuai dengan religiositasnya. Yakin bahwa yang dilakukan itu benar berbasis pada ajaran agama.Juga dapat menerapkan kepemimpinan yang saya konsepsikan sebagai “Friendly Leadership”. Kepemimpinan yang memadukan antara persahabatan dan penugasan fungsional. Tidak melulu instruksi tetapi juga mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan staf. Memberi peluang sebesar-besarnya agar staf bisa bekerja secara optimal. Mempercepat yang lambat dan mengerem yang terlalu cepat. Menjadi dirijen yang dapat memadukan kemampuan individual dalam kemampuan komunal. Memiliki telinga yang lebar dan tebal. Telinga lebar agar dapat mendengarkan apa yang dirasakan oleh staf dan telinga yang tebal itu mengurangi kemarahan. Bisa membuat staf bisa “melu gumuyu”. Tertawa bersama, bekerja bersama dan berhasil bersama-sama.Kepemimpinan PT itu berbeda dengan kepemimpinan birokrasi.
Jika kepemimpinan birokrasi itu bercorak perintah, apa yang diancangkan atasannya harus menjadi tindakan bagi bawahannya. Jadi kepemimpinannya bercorak terpusat. Sedangkan kepemimpinan PT itu bercorak menyebar. Apa yang menjadi mindset pemimpin harus bersesuaian dengan apa yang diinginkan oleh staf yang bisa terdiri dari para professor, doktor dan staf tenaga kependidikan. Oleh karena itu, jangan menjadikan diri sebagai pemimpin dengan ciri yang “semi otoriter”. Yang paling benar dan yang harus dipatuhi secara total. Harus terdapat ruang negosiasi untuk mencapai visi dan misi institusi.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like


Kenapa Makanan Kampung Harus Viral Dulu untuk Dihargai?

Kimpul Viral dan Ironi Negeri yang Lupa Kekayaan Pangannya

