ORANG JAWA YANG BERGESER
Oleh: Dr. Suko Susilo\r
(Direktur Pascasarjana IAI Tribhakti Kediri)\r
\r
\r
Masyarakat Jawa pada umumnya, cenderung memiliki kesadaran tinggi terhadap keberadaan orang lain. Kita sungguh paham bahwa dalam hidup, orang tidaklah sendiri. Manusia terus bergerak ke dalam dan ke luar dari ruang pribadi masing-masing ke ruang sosial. Akan sangat bijaksana jika pergerakan itu dapat dilalui dengan berbagai interaksi yang harmonis. Tanpa konflik dan menyenangkan dengan mengakui secara sopan kehadiran orang lain.\r
Memberi salam dan menganggukkan kepala sedikit atau membungkukkan badan ketika berjalan. Masuk warung makan kecil dengan duduk berhimpitan sambil bergumam maaf atas kemungkinan menganggu kenyamanan orang yang lebih dulu datang. Bahkan, bagi yang lebih dulu datang justru menawarkan makanannya untuk dimakan bersama.\r
Ritual wajib lain bagi masyarakat Jawa adalah menyapa dan mengharap kesudian mampir saat ada tetangga atau kenalan lewat di depan rumahnya. Menyapa dan menghormat ketika bertemu seolah menjadi keharusan. Adalah tidak sopan dan kasar untuk tidak saling menegur. Keadaan ini sering dianggap sebagai penanda adanya pertikaian. \r
Gempuran teknologi informasi kini memang menjadi provokator utama perubahan perilaku masyarakat Jawa. Sekalipun demikian, masih terasa nyata mainstream perilaku Jawa dalam pergaulan keseharian masyarakat. Sebagaimana sifat budaya yang rentan terhadap pengaruh budaya lain, namun budaya kita cukup tangguh menghadapi serbuan budaya asing.\r
Tetapi, tanpa dinyana-nyana, datang korona sebagai virus penyebar teror yang tak tanggung-tanggung dalam waktu singkat dan menjadi wabah internasional. Semua negara panik menghadapinya, tak terkecuali Indonesia. Memerangi virus ini, pemerintah semua negara memiliki anjuran yang sama. \r
Jauhi orang, kurung diri di rumah dan bercurigalah bahwa tiap orang potensial menularkan bencana. Jabat tangan, bahkan sekedar tegur sapa tak dianjurkan dalam jarak yang dekat. Interaksi sosial harus berjarak minimal satu meter, dan hindari saling bertamu serta saling kunjung. Masing-masing rumah tangga usahakan menjadi terisolasi.\r
Kesadaran kolektif berganti menjadi kesadaran individual. Nilai harmoni bergeser ke arah disharmoni karena saling curiga. Saling hormat secara sopan berganti cuek bebek terhadap kehadiran orang lain. Tiap orang menjadi potensial mementingkan diri sendiri dan keluarga intinya. \r
Sekalipun anjuran pemerintah terbatasi waktunya, tetapi setidaknya hal ini telah menjadi pengetahuan baru sarana penyelamatan diri dari kemungkinan terjangkit penyakit. Karenanya, bisa jadi juga tindakan yang dianjurkan itu memperoleh peluang pembiasaan untuk waktu yang lama dan akhirnya menjadi bagian perilaku di dalam cara kita menjalani kehidupan.\r
Persoalan ini tentu menjadi masalah berat bagi pemerintah pusat maupun daerah. Dari pandangan yang pesimistis, keberlangsungan Indonesia menjadi taruhan. Keadaan ini bisa saja berkembang ke arah yang lebih menakutkan. Saya hampir yakin jika ada survey tentang segmentasi kelas sosial ekonomi korban korona hasilnya adalah orang miskin yang paling banyak menderita. Padahal jumlah penduduk miskin di negeri ini masih tinggi.\r
Mereka yang hidup di jalanan, mengais sedikit rejeki di berbagai tempat ramai. Mereka yang banting tulang memecah batu di dasar sungai, dan yang mengumpulkan ranting pohon di tepian hutan. Yang keluar rumah tanpa kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Mereka ini semua yang potensial menderita karena korona. Sementara di depan matanya kekayaan menumpuk pada sedikit orang. Jika situasi ini tidak segera teratasi, kemungkinan akan memunculkan gerakan sosial yang berakibat sungguh menakutkan. \r
Revolusi Bolshevik 1917 yang melahirkan almarhum Uni Soviet ditahun 1922 itu salah satu pemicunya adalah ketertindasan ekonomi oleh kaum feodal dan kapitalis pada kaum buruh. Sementara, jika kelak di negeri ini terjadi gerakan sosial (untuk tidak mengatakan revolusi) tentu sangat mungkin penyebabnya tidak saja faktor ekonomi tetapi sekaligus juga penyelamatan nyawa akibat wabah korona. Ngeri.\r
Semoga saya salah dan terlalu pesimis. Dalam doa harian, saya berharap efek sosiologis korona tak sampai ke revolusi, dan berhenti menjadi kepompong pergeseran perilaku dalam cara orang Jawa menjalani hidup saja..
You may also like




