Ketika Indonesia Berlomba Menggunakan AI, Negara Lain Justru Mulai Membatasi
Eva Putriya Hasanah
Ada sebuah ironi dalam dunia pendidikan hari ini. Ketika Indonesia mencatat angka penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk belajar yang tertinggi di antara sejumlah negara yang disurvei, beberapa negara maju justru mulai membatasi penggunaannya di sekolah. Indonesia tampak bersemangat menyambut teknologi ini, sementara sebagian negara lain mulai mempertanyakan dampaknya terhadap kemampuan berpikir anak. Perbedaan sikap tersebut menghadirkan pertanyaan penting: apakah semakin sering menggunakan AI berarti semakin baik pula kualitas pendidikan kita?
Data Statista Consumer Insights periode Januari–Juni 2026 menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi pertama dalam penggunaan AI untuk pendidikan dan pembelajaran, dengan persentase 61 persen. Indonesia diikuti India sebesar 57 persen dan Afrika Selatan 56 persen. Sebaliknya, persentasenya tercatat sebesar 22 persen di Amerika Serikat, 25 persen di Jerman, dan 14 persen di Belanda. Survei tersebut melibatkan responden berusia 18–64 tahun, sehingga angka ini menggambarkan penggunaan AI untuk belajar dalam kehidupan pribadi, bukan secara khusus penggunaan AI oleh anak sekolah. Meski demikian, data tersebut menunjukkan betapa dekatnya teknologi AI dengan aktivitas belajar masyarakat Indonesia.
AI memang menawarkan berbagai kemudahan. Pelajar dapat meminta penjelasan tentang materi yang sulit dipahami, mahasiswa bisa menggunakannya untuk mengeksplorasi gagasan penelitian, sedangkan guru dapat memanfaatkannya untuk menyusun bahan ajar dan merancang evaluasi pembelajaran. Bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber belajar, teknologi ini berpotensi menjadi alternatif untuk memperoleh pengetahuan secara lebih mudah. Dalam kondisi tertentu, AI bahkan dapat membantu menjembatani keterbatasan waktu dan sumber daya yang selama ini menjadi persoalan dalam pendidikan.
Namun, kemudahan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas belajar. Seseorang dapat menyelesaikan tugas lebih cepat tanpa benar-benar memahami materi yang dikerjakannya. Siswa dapat menghasilkan esai yang tampak meyakinkan tanpa mengetahui apakah argumen di dalamnya benar. Bahkan, kemampuan menjawab pertanyaan dapat terlihat meningkat ketika yang sebenarnya berkembang justru keterampilan menyusun perintah kepada mesin. Di sinilah persoalan mendasar penggunaan AI dalam pendidikan: apakah teknologi membantu seseorang belajar, atau justru mengambil alih proses yang seharusnya dijalani untuk memperoleh pengetahuan?
Kekhawatiran semacam ini bukan tanpa alasan. Norwegia, misalnya, mengumumkan kebijakan yang membatasi penggunaan AI generatif bagi siswa usia 6–13 tahun di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2026–2027. Siswa berusia 14–16 tahun dapat menggunakannya secara hati-hati dengan pengawasan guru, sedangkan siswa yang lebih tua akan dibekali pemahaman mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab. Kebijakan tersebut didorong oleh kekhawatiran bahwa AI dapat membuat anak melewatkan tahapan penting dalam belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Di Amerika Serikat, Kota New York juga mengambil langkah serupa. Pemerintah kota mengumumkan moratorium penggunaan perangkat lunak AI generatif yang berinteraksi langsung dengan siswa kelas 2-K hingga kelas delapan di sekolah negeri selama tahun ajaran 2026–2027. Kebijakan ini disertai program literasi AI bagi siswa sekolah menengah atas dan uji coba terbatas dengan pengawasan pendidik. Artinya, kebijakan tersebut bukan penolakan terhadap seluruh teknologi AI, melainkan upaya mengatur kapan, bagaimana, dan untuk siapa teknologi itu digunakan.
Meski begitu, tidak tepat jika Amerika Serikat dan Eropa dianggap memiliki kebijakan seragam untuk melarang AI di sekolah. Berbagai negara dan daerah memiliki pendekatan berbeda. Komisi Eropa sendiri menekankan bahwa AI dapat mendukung pembelajaran, tetapi manfaatnya bergantung pada keterlibatan aktif siswa, kemampuan berpikir kritis, dan pendampingan guru. Penggunaan AI yang berlebihan tanpa arahan justru berisiko menghasilkan pembelajaran yang dangkal. Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar menerima atau menolak teknologi, melainkan memastikan teknologi bekerja untuk kepentingan perkembangan peserta didik.
Perbedaan pendekatan tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi bagi Indonesia. Tingginya penggunaan AI dapat menjadi peluang untuk memperluas akses terhadap pengetahuan. Namun, angka penggunaan itu tidak boleh langsung dirayakan sebagai bukti kemajuan pendidikan. Kita perlu mengetahui bagaimana AI digunakan, kemampuan apa yang berkembang, dan apakah penggunaannya benar-benar meningkatkan pemahaman siswa. Tanpa evaluasi semacam itu, tingginya adopsi teknologi hanya menunjukkan bahwa masyarakat menggunakan perangkat baru, bukan bahwa mereka belajar dengan lebih baik.
Tantangan berikutnya berada di ruang kelas. Guru dan dosen tidak cukup hanya mengimbau peserta didik agar menggunakan AI secara bijak. Lembaga pendidikan perlu menetapkan aturan yang jelas, merancang tugas yang mendorong proses berpikir, serta mengajarkan cara memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan AI. Siswa perlu dibiasakan menyampaikan argumen dengan kata-katanya sendiri, membandingkan sumber, mengidentifikasi kesalahan, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya. AI seharusnya menjadi mitra untuk menguji pemahaman, bukan mesin untuk menggantikan usaha memahami.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa cepat suatu negara mengadopsi teknologi, tetapi oleh seberapa bijaksana negara tersebut menggunakannya. Indonesia tidak perlu meniru pembatasan negara lain secara mentah-mentah, sebagaimana kita juga tidak seharusnya menganggap semua bentuk penggunaan AI sebagai kemajuan. Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang berpijak pada kebutuhan peserta didik, kesiapan guru, perlindungan anak, dan bukti mengenai dampaknya terhadap pembelajaran.
Mungkin, pertanyaan terpenting hari ini bukan mengapa Indonesia begitu cepat menggunakan AI, sementara negara lain mulai membatasinya. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kita telah menyiapkan kemampuan berpikir yang cukup agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga manusia yang mampu mengendalikan penggunaannya. Sebab, pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang mampu bertanya, meragukan, menimbang, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. AI dapat membantu proses itu, tetapi tidak seharusnya menggantikannya.
You may also like




