Eva Putriya Hasanah Ada satu bahan dapur yang namanya mungkin lebih sering muncul dalam candaan daripada pembicaraan tentang ilmu pangan: micin. “Jangan kebanyakan micin, nanti bodoh.” Kalimat semacam ini begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. “Kebanyakan micin” bahkan berkembang menjadi ungkapan sehari-hari untuk menggambarkan seseorang yang melakukan kesalahan atau bertingkah konyol. Karena terlalu sering diucapkan,
Eva Putriya Hasanah Sejumlah negara Eropa mulai mengubah cara mereka menggunakan teknologi digital di sekolah. Swedia, Finlandia, Norwegia, Denmark, Prancis, dan Italia menerapkan berbagai kebijakan yang membatasi penggunaan telepon seluler, tablet, komputer, hingga kecerdasan buatan (AI) dalam kegiatan belajar mengajar. Perubahan ini bukan berarti teknologi sepenuhnya ditinggalkan dari ruang kelas. Sejumlah kebijakan justru mengatur lebih
Eva Putriya Hasanah Belakangan, media sosial kembali dipenuhi foto bergaya 80-an. Rambut dibuat bergelombang, pakaian bergaya retro, warna foto dibuat sedikit pudar, dan latar belakang seolah-olah diambil dari ruang keluarga beberapa dekade lalu. Bedanya, kali ini seseorang tidak perlu mencari studio foto atau membuka perangkat lunak penyuntingan yang rumit. Cukup mengunggah foto dan memberikan perintah
Eva Putriya Hasanah Ketika banyak sekolah mulai berlomba mencari cara untuk memasukkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ke dalam pembelajaran, New York City justru mengambil langkah yang berlawanan. Pemerintah kota memilih berhenti sejenak. Mulai tahun ajaran 2026–2027, siswa jenjang 2-K hingga kelas 8 di sekolah negeri New York City tidak diperbolehkan menggunakan student-facing generative
Eva Putriya Hasanah Ada sesuatu yang menarik dari kebijakan baru Singapura untuk keluarga: negara tidak lagi sekadar membantu orang tua membesarkan anak, tetapi semakin jelas menunjukkan bahwa kelahiran anak memiliki arti penting bagi negara. Mulai April 2027, Singapura akan mengganti Baby Bonus Scheme dan Large Families Scheme dengan SG Child Support Package. Setiap anak warga
Eva Putriya Hasanah Ada sesuatu yang agak lucu dari cara kita memperlakukan makanan sendiri. Singkong, jagung, talas, kimpul, sagu, ubi, dan berbagai pangan lokal telah lama tumbuh di halaman, ladang, dan kebun masyarakat Indonesia. Sebagian bahkan telah menjadi makanan sehari-hari selama lintas generasi. Namun ketika makanan-makanan itu disebut sebagai pangan lokal atau makanan kampung, ia
Eva Putriya Hasanah Beberapa hari terakhir, kimpul tiba-tiba menjadi begitu populer. Umbi yang bagi sebagian orang bahkan terdengar asing itu muncul di media sosial dalam berbagai bentuk olahan, dari camilan hingga makanan yang biasanya menggunakan bahan lain. Semua bermula dari kreativitas seorang kreator konten asal Bantul, Ibu Tin, melalui akun TikTok-nya @black.sheep8208 yang memperkenalkan kebiasaan mengganti
Oleh: H. Imron Rosyadi Ketua STIT Raden Wijaya Mojokerto Catatan perbincangan penuh bersahaja bersama Bapak Dr. Andi Bunyamin, M.Pd., Asesor Lamdik ketika menjalankan tugas sebagai asesor di kampus STIT Raden Wijaya Mojokerto pada hari Jum’at dan Sabtu 31 Juli – 01 Agustus 2026. Akhir-akhir ini kita disuguhi berbagai berita tentang hiruk-pikuk dunia: politik, ekonomi, sosial,
Eva Putriya Hasanah Ada satu ingatan tentang air yang belakangan terasa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari. Dulu, ketika listrik tiba-tiba mati, ibu dan bapak tidak terlalu panik karena pompa air memang tidak bisa digunakan. Mereka bersama orang-orang lain akan bergantian mengangsu air dari sumur terdekat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk minum, ada sumber air
Eva Putriya Hasanah Melahirkan seharusnya menjadi momen ketika seorang perempuan mendapatkan perhatian, perlindungan, dan kesempatan untuk memulihkan dirinya. Namun dalam banyak budaya, masa nifas justru dipenuhi oleh serangkaian aturan yang harus dipatuhi. Tidak boleh tidur pagi. Tidak boleh makan makanan tertentu. Tidak boleh keramas. Tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Menariknya,
Eva Putriya Hasanah Bagi jutaan orang, pertandingan sepak bola adalah hiburan. Stadion bergemuruh, layar televisi dipenuhi sorak sorai, dan jalanan dipadati pendukung yang merayakan kemenangan atau meratapi kekalahan tim kesayangannya. Namun, bagi sebagian perempuan di Inggris, malam pertandingan justru menjadi waktu yang paling mengkhawatirkan. Bukan karena hasil pertandingan, melainkan karena meningkatnya risiko mengalami kekerasan di
Eva Putriya Hasanah Belakangan ini, muncul berbagai pemberitaan yang menyebut bahwa Generasi Z memiliki tingkat kecerdasan atau IQ yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Narasi ini semakin ramai diperbincangkan seiring munculnya berbagai penelitian yang menunjukkan penurunan skor tes kognitif di sejumlah negara. Di media sosial, kesimpulan tersebut sering kali disederhanakan menjadi satu kalimat yang provokatif:
