Saturday, July 11 2026

Author: Eva Putriya Hasanah

Eva Putriya Hasanah Belakangan ini, muncul berbagai pemberitaan yang menyebut bahwa Generasi Z memiliki tingkat kecerdasan atau IQ yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Narasi ini semakin ramai diperbincangkan seiring munculnya berbagai penelitian yang menunjukkan penurunan skor tes kognitif di sejumlah negara. Di media sosial, kesimpulan tersebut sering kali disederhanakan menjadi satu kalimat yang provokatif:

Eva Putriya Hasanah Memperbaiki barang yang rusak adalah kebiasaan orang jaman dulu yang biasa dilakukan sehari-hari.Bagi generasi yang tumbuh beberapa dekade lalu, barang rusak tidak selalu berarti barang yang harus dibuang. Sandal yang putus dibawa ke tukang sol. Payung yang patah diperbaiki. Setrika, radio, kipas angin, bahkan televisi sering kali diservis berkali-kali sebelum benar-benar tidak

Eva Putriya Hasanah Bagi banyak orang Indonesia, warung kecil adalah bagian dari kenangan masa kecil. Warung menjadi tempat membeli jajanan sepulang sekolah, membeli minyak goreng ketika persediaan di rumah habis, atau sekadar tempat menitip pesan kepada tetangga. Di banyak desa dan kampung, warung bukan hanya tempat transaksi ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Namun

Eva Putriya Hasanah Beberapa tahun terakhir, kegiatan volunteer atau kerelawanan semakin akrab dengan kehidupan anak muda. Tidak sulit menemukan mahasiswa yang menghabiskan akhir pekan untuk mengajar di daerah terpencil, mengikuti aksi lingkungan, menjadi panitia kegiatan sosial, atau terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat. Bahkan, banyak organisasi kini secara khusus membuka kesempatan bagi anak muda untuk menjadi

Eva Putriya Hasanah Beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi berbagai konten tentang cara membuat pupuk alami. Ada yang mengajarkan pembuatan kompos dari sisa makanan dapur, ada yang memperkenalkan eco enzyme, pupuk organik cair, biopori, hingga budidaya maggot untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak dan sumber nutrisi bagi tanaman. Fenomena ini menarik perhatian banyak orang,

Oleh: Moh. Afiful Hair Mahasiswa Doktoral PAI Multikultural UNISMA Malang Pengasuh Pondok Pesantren Ziyadatut Taqwa Asemmanis I Larangan Tokol Pamekasan    Toleransi dan kerukunan antara umat beragama sering terganggu dikarenakan adanya upaya prosetilisme penyebaran agama yang agresif. Proselitisme dalam pandangan Howard O. Hunter dan Polly J. Price adalah aktvitas mengkomunikasikan sebuah agama atau pandangan hidup

Oleh : Eva Putriya Hasanah    Tanganangie, begitulah sebutan brand fesyen yang di garap oleh PT. Tangan Kreatif Lestari. Perusahaan asal Banyuwangi yang di buat oleh gadis muda bernama Putri///nn Angie. Di tengah maraknya fast fashion yang memicu rusaknya lingkungan, brand ini tampil beda dengan fesyen yang diorientasikan menjadi media kampanye menjaga lingkungan.    Berdiri

Perkembangan media sosial saat ini telah merubah gaya hidup dan perilaku masyarakat khususnya kalangan remaja. Selain sebagai wadah berkarya dan bersuara, media sosial kini telah menjadi tempat saling ujuk gigi berkompetisi menjadi yang paling viral dan trend. Hingga tak sedikit kalangan remaja saat ini berlomba-lomba mengikuti trend seolah takut ketinggalan zaman dan dicap kudate alias

Membaca al-Qur’an merupakan bagian dari ibadah. Karenanya membaca al-Qur’an mendapat pahala. Tak hanya itu, membaca al-Qur’an juga menjadi syafaat bagi pembacanya di hari akhir kelak, yaitu hari kiamat.   Hal ini sebagaimana disampaikan KH Marsuqi Mustamar dalam acara Ngaos Kitab Tafsir Ayatul Ahkam, seseorang yang belajar membaca al-Qur’an walau dirinya belum mengerti tafsir ataupun maknanya

Seiring semakin berkembangnya tekhnologi, siapapun dapat memperoleh berbagai informasi dimana saja dan kapan saja di media sosial. Tak hanya itu, melalui media sosial juga siapapun dapat membangun hubungan pertemanan lintas negara dan agama.   Hal ini sebagaimana telah dialami Saifuddin Umar atau kerap disapa Abu Fida eks kelompok ISIS. Ia mengaku bahwa Abu Fida terpapar

Penyebarluasan paham ektremisme dan radikalisme secara kasat mata terus menyasar bumi pertiwi. Penyebarluasan tersebut tak pernah luput dari target dan sasaran. Kaum faham ekstremisme dan radikalisme berhasil menyeret target dan sasaran masuk ke dalam sangkarnya dan sulit keluar untuk menjadi kelompok yang memporak-porandakan umat Islam dan negara kesatuan Republik Indonesia.   Hal tersebut salah satunya

Kesalahpahaman dalam memahami gerakan moderasi beragama tak dapat dipungkiri dapat terjadi di era disrupsi seperti sekarang ini. Ada anggapan moderasi beragama merupakan pemikiran sesat yang terpengaruh pemikiran liberalisme. Padahal sebenarnya moderasi beragama adalah jalan yang tepat.   Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Nur Syam selaku Narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk Moderasi Beragama di Tengah Geliat

1 2 3 18