Dulu Kita Mengangsu Air, Kini Air Harus Dibeli
Eva Putriya Hasanah
Ada satu ingatan tentang air yang belakangan terasa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari. Dulu, ketika listrik tiba-tiba mati, ibu dan bapak tidak terlalu panik karena pompa air memang tidak bisa digunakan. Mereka bersama orang-orang lain akan bergantian mengangsu air dari sumur terdekat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk minum, ada sumber air yang bisa diandalkan, sementara untuk mencuci dan kebutuhan lainnya air sumur masih mudah ditemukan.
Kami juga tidak pernah terlalu malas menadah air hujan. Ketika hujan turun, ember, gentong, dan berbagai wadah dikeluarkan untuk menampung air yang jatuh dari langit. Air tersebut kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan yang memungkinkan. Kami mungkin tidak mengenal istilah rainwater harvesting, konservasi air, atau manajemen sumber daya air seperti yang sering digunakan sekarang. Namun, secara sederhana, kami memahami satu prinsip penting: ketika air tersedia, simpanlah karena belum tentu besok masih ada.
Hari ini, kebiasaan itu terasa seperti pengetahuan lama yang sedang dipelajari kembali. Di tempat saya lahir, air untuk minum kini hampir seluruhnya bergantung pada air galon, sementara sumber air yang dahulu dekat dengan kehidupan sehari-hari tidak lagi selalu dapat diandalkan. Air yang dahulu bisa diambil dari sumur atau sumber terdekat kini harus dibeli, diantar, dan disimpan dengan j yang lebih cermat. Dulu kami mengangsu air, sekarang kami membeli air.
Perubahan tersebut mungkin terlihat sebagai bentuk kepraktisan. Tetapi di baliknya ada perubahan yang lebih besar dalam hubungan manusia dengan air. Air yang dahulu menjadi bagian dari lingkungan kini semakin sering hadir sebagai komoditas yang memiliki harga dan bergantung pada kemampuan seseorang untuk membelinya. Ketika seseorang tidak lagi memiliki akses terhadap sumber air bersih, ia membutuhkan uang untuk mendapatkan penggantinya. Pada titik ini, persoalan air tidak lagi hanya berbicara tentang alam dan musim kemarau, tetapi juga tentang kemampuan ekonomi seseorang memenuhi kebutuhan paling mendasar dalam hidup.
Kondisi tersebut semakin relevan ketika melihat situasi kekeringan pada 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sekitar 64,5 persen zona musim di Indonesia mengalami curah hujan musim kemarau di bawah normal. BMKG juga memprediksi sekitar 57,2 persen zona musim mengalami periode kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan air bukan sekadar cerita tentang satu desa atau satu musim, melainkan bagian dari tantangan pengelolaan air yang semakin serius di tengah perubahan pola iklim.
Dampaknya terlihat di sejumlah daerah. Di Lamongan, Jawa Timur, 741 kepala keluarga dilaporkan terdampak krisis air bersih dan pemerintah menyalurkan 40.000 liter air untuk memenuhi kebutuhan warga. Di Grobogan, Jawa Tengah, 42 desa yang tersebar di 16 kecamatan dilaporkan mengalami krisis air bersih sehingga masyarakat harus mengandalkan distribusi air tangki. Di Kemalang, Klaten, warga bahkan dilaporkan harus membeli air bersih dengan harga yang mencapai Rp450.000 per tangki.
Namun, kekeringan tidak seharusnya hanya dipahami sebagai persoalan cuaca. Perubahan iklim memang membuat pola hujan semakin sulit diprediksi dan sebagian wilayah mengalami musim kemarau lebih panjang atau lebih kering. Tetapi tingkat keparahan krisis air juga dipengaruhi oleh bagaimana manusia mengelola tanah, hutan, sungai, dan air tanah. Air hujan yang seharusnya dapat menjadi cadangan sering kali langsung dialirkan ke drainase, sementara permukaan tanah semakin banyak ditutup beton sehingga kemampuan tanah menyerap air berkurang.
Kita hidup dalam paradoks yang semakin sulit diabaikan. Ketika hujan turun terlalu banyak, kita sibuk membuang air secepat mungkin agar tidak terjadi banjir. Ketika kemarau datang, kita justru kebingungan mencari air untuk minum dan mandi. Air yang datang dari langit dianggap gangguan ketika terlalu banyak, tetapi menjadi barang berharga ketika terlalu sedikit. Ketika air berlimpah, kita membuangnya; ketika air langka, kita membelinya.
Karena itu, kita mulai belajar kembali apa yang dahulu dilakukan oleh orang tua kita. Kita berbicara tentang pemanenan air hujan, sumur resapan, konservasi air tanah, penggunaan kembali air, dan berbagai bentuk manajemen air rumah tangga. Semua istilah tersebut penting karena menunjukkan kesadaran baru tentang ketahanan air. Namun ada ironi di dalamnya: sebagian pengetahuan yang kini kita kemas dalam istilah ilmiah sebenarnya pernah hadir sebagai kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Orang-orang dahulu mungkin tidak mengenal istilah water management, tetapi mereka memahami logikanya. Ketika hujan datang, mereka menadah air karena mengetahui bahwa musim kemarau akan datang. Ketika menemukan sumber air, mereka menggunakannya dengan hati-hati karena tahu bahwa sumber tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan bersama. Mereka tidak selalu memiliki teknologi modern, tetapi memiliki hubungan yang lebih dekat dengan sumber daya alam di sekitarnya.
Tentu saja, tidak adil mengatakan bahwa kehidupan masa lalu selalu lebih baik. Air sumur pada masa lalu belum tentu memenuhi standar kesehatan seperti yang kita pahami sekarang, dan penggunaan air galon juga dapat menjadi pilihan yang lebih aman dalam kondisi tertentu. Persoalannya bukan apakah kita harus kembali sepenuhnya kepada cara hidup masa lalu. Persoalannya adalah apakah ada pengetahuan ekologis yang sebenarnya pernah kita miliki tetapi perlahan kita tinggalkan.
Sebab krisis air tidak hanya berbicara tentang berapa banyak air yang tersedia, tetapi juga tentang siapa yang dapat mengaksesnya. Ketika sebuah keluarga memiliki uang, mereka mungkin dapat membeli air tangki atau mencari sumber air lain ketika sumur mengering. Namun bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, membeli satu tangki air dapat berarti mengurangi anggaran untuk makanan, listrik, pendidikan, atau kebutuhan lainnya. Pada titik inilah kekeringan berubah menjadi persoalan ketimpangan, karena dampak lingkungan tidak pernah dibayar dengan harga yang sama oleh setiap orang.
Nostalgia tentang mengangsu air, karena itu, seharusnya tidak berhenti sebagai cerita masa kecil. Ia adalah pengingat bahwa manusia pernah memiliki hubungan yang lebih langsung dengan sumber air dan memahami keterbatasannya melalui pengalaman sehari-hari. Dulu, ketika listrik mati, kami tahu ke mana harus pergi untuk mengambil air. Sekarang, ketika sumur mengering, sebagian orang harus mencari penjual air dan menyiapkan uang agar kebutuhan dasar itu tetap terpenuhi.
Mungkin persoalan terbesar kita bukan bahwa manusia kehilangan seluruh air di bumi. Persoalannya adalah manusia semakin kehilangan akses terhadap air yang bersih, aman, dan terjangkau. Kita masih melihat hujan turun, tetapi tidak selalu mampu menyimpannya. Kita masih memiliki sungai dan air tanah, tetapi kualitas serta ketersediaannya semakin menghadapi tekanan. Dulu orang tua kita menadah air hujan bukan karena mereka memiliki teori tentang perubahan iklim, melainkan karena mereka memahami keterbatasan alam.
Hari ini kita belajar melakukan hal yang sama dengan istilah yang lebih modern: water harvesting, konservasi, dan ketahanan air. Mungkin ini bukan sekadar tanda bahwa kita sedang maju, tetapi juga pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berarti kita semakin bijaksana memperlakukan alam. Sebab suatu hari nanti, anak-anak kita mungkin akan bertanya bagaimana rasanya mengambil air langsung dari sumur. Dan ketika mereka bertanya mengapa sekarang air harus dibeli dalam galon atau didatangkan menggunakan tangki, kita tidak cukup hanya menjawab bahwa musim kemarau semakin panjang.
Kita juga harus berani menjawab apa yang telah kita lakukan ketika air masih mudah ditemukan. Ketika hujan masih kita biarkan mengalir begitu saja, ketika tanah mulai kita tutup dengan beton, dan ketika sumber air perlahan kita anggap sebagai sesuatu yang tidak akan pernah habis. Sebab mungkin generasi mendatang bukan hanya akan mewarisi persoalan perubahan iklim, tetapi juga tagihan atas kelalaian kita dalam menjaga air.




