Tim Peneliti MoRA The Airfund 2025 Ikuti Rangkaian Petik Laut Muncar 2026 di Banyuwangi
Banyuwangi — Tim peneliti MoRA The Airfund 2025 mengikuti salah satu rangkaian kegiatan Petik Laut Muncar 2026 di kawasan pesisir Muncar, Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengamatan lapangan dalam riset bertajuk “Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ruang Domestik dan Publik: Gender, Pendidikan, Kepemimpinan, Tradisi Bekerja, Digitalisasi, dan Perubahan Sosial di Tengah Kontestasi Otoritas Keagamaan di Pesisir Pulau Madura dan Tapal Kuda.”
Tim peneliti yang hadir terdiri atas Dr. Pardianto, M.Si.; Wahyu Ilaihi, Ph.D.; Moch. Khoirul Anam, M.Li.; Mevy Eka Nurhalizah, M.Sos.; dan Nur Hasib, M.T. Kehadiran tim dalam rangkaian Petik Laut Muncar bertujuan untuk melihat secara langsung dinamika sosial, budaya, ekonomi, dan keagamaan masyarakat pesisir, terutama dalam kaitannya dengan tradisi lokal yang masih hidup dan mendapatkan perhatian luas dari masyarakat.
Dalam pengamatan di lapangan, terlihat banyak kapal nelayan yang telah dihias dengan berbagai ornamen dan warna. Kapal-kapal tersebut dipersiapkan untuk menyambut hari puncak perayaan Petik Laut Muncar yang akan dilaksanakan pada 14 Suro, tepatnya 1 Juli 2026. Hiasan kapal menjadi salah satu penanda penting dalam tradisi ini, karena kapal tidak hanya berfungsi sebagai sarana ekonomi nelayan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, harapan, dan identitas masyarakat pesisir.
Selain aktivitas di wilayah laut dan pelabuhan, rangkaian acara juga diramaikan dengan panggung seni dan budaya. Berbagai penampilan ditampilkan di hadapan masyarakat, mulai dari pertunjukan seni lokal hingga ekspresi budaya yang menjadi bagian dari kemeriahan perayaan. Panggung budaya tersebut menarik perhatian banyak warga. Hal ini terlihat dari ramainya masyarakat yang hadir dan menyaksikan pertunjukan sejak acara berlangsung.
Antusiasme masyarakat juga tampak di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Kawasan tersebut dipenuhi oleh para pedagang yang menjajakan beragam makanan, minuman, serta berbagai jenis dagangan lain. Bahkan, terdapat pula penjual hewan seperti kelinci yang ikut meramaikan suasana. Kehadiran para pedagang menunjukkan bahwa tradisi Petik Laut tidak hanya memiliki dimensi budaya dan spiritual, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Dari sisi keamanan, rangkaian acara mendapat pengawalan dari Banser. Para petugas tampak berjaga di sejumlah titik lokasi kegiatan untuk membantu menjaga ketertiban dan kelancaran acara. Pengamanan ini menjadi bagian penting mengingat tingginya jumlah masyarakat yang hadir, baik untuk menyaksikan panggung budaya, melihat persiapan kapal, maupun menikmati suasana perayaan di sekitar pelabuhan.
Bagi tim peneliti, keterlibatan dalam rangkaian Petik Laut Muncar 2026 memberikan gambaran langsung mengenai kuatnya hubungan antara masyarakat pesisir, tradisi laut, ekonomi lokal, dan ruang sosial-keagamaan. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Muncar membangun kebersamaan melalui perayaan budaya yang melibatkan banyak unsur, mulai dari nelayan, keluarga, tokoh masyarakat, kelompok pengamanan, pedagang, hingga warga sekitar.
Pengamatan lapangan ini juga menjadi penting dalam membaca posisi perempuan pesisir. Dalam tradisi seperti Petik Laut, perempuan tidak selalu tampil di ruang utama ritual, tetapi memiliki peran penting dalam mendukung persiapan, konsumsi, ekonomi keluarga, kegiatan sosial, serta keberlangsungan tradisi. Dengan demikian, Petik Laut Muncar dapat dilihat sebagai ruang budaya yang mempertemukan dimensi domestik, publik, ekonomi, dan keagamaan dalam kehidupan masyarakat pesisir.
Melalui keikutsertaan dalam rangkaian kegiatan ini, tim peneliti memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kehidupan masyarakat pesisir Muncar. Tradisi Petik Laut tidak hanya menjadi acara tahunan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi identitas, solidaritas sosial, perputaran ekonomi, dan pelestarian budaya masyarakat pesisir Banyuwangi.
You may also like




